JURNALSUKABUMI.COM – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sukabumi memberikan klarifikasi terkait meninggalnya Raya (3), balita asal Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan. Dinsos menegaskan bahwa selain adanya kendala administrasi kependudukan, sejumlah informasi yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya akurat.
Kepala Bidang Perlindungan Jaminan Sosial (Linjamsos) Dinsos Kabupaten Sukabumi, Iwan Triyanto, mengatakan pihaknya sempat kesulitan menelusuri data keluarga Raya karena nama anggota keluarga belum tercatat lengkap dalam Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG). Selain itu, data kependudukan juga belum sepenuhnya sinkron dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil).
“Keluarga Raya masuk kategori masyarakat miskin desil 4 yang perlu penanganan lebih khusus. Saat dicek di database SIKS-NG, data awalnya masih kurang valid. Begitu juga ke Dukcapil, ternyata belum sinkron,” jelas Iwan dalam keterangan yang diterima, Kamis (21/8/2025).
Setelah dilakukan koordinasi dengan Pemerintah Desa Cianaga dan Muspika Kecamatan Kabandungan, lanjutnya, data keluarga Raya akhirnya berhasil diperbarui. “Alhamdulillah sekarang konsolidasi sudah muncul, datanya tercantum. Hanya memang ada keterlambatan dari pihak desa terkait usulan PBI/KIS. Kami juga belum tahu apakah PBI-nya masih aktif atau tidak,” ujarnya.
Dinsos bersama BPJS dan Dinas Kesehatan kemudian melakukan pengecekan lebih lanjut. Hasilnya ditemukan adanya penunggakan premi, sehingga kartu jaminan kesehatan keluarga Raya tidak aktif. Kondisi ini membuat proses aktivasi kepesertaan tidak bisa langsung dilakukan.
“Kami sudah komunikasi dengan pimpinan dan tim teknis, dan BPJS/KIS yang bersangkutan harus segera diaktifkan kembali. Mudah-mudahan hari ini sudah clear, dan pihak desa juga akan langsung ke BPJS untuk proses pengaktifan,” tambah Iwan.
Terkait informasi di media sosial yang menyebut Dinsos abai, Iwan menegaskan hal itu tidak benar. Ia menyebut, Dinsos dan stakeholder terkait sebenarnya sudah berupaya membantu, hanya saja informasi yang diterima datang terlambat.
“Raya meninggal dunia pada 22 Juli di rumah sakit dengan indikasi penyakit cacing dan lainnya. Jadi kronologi yang diberitakan di media sosial itu tidak benar. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin,” tegasnya.
Iwan juga menyayangkan tidak adanya komunikasi langsung sebelum kasus ini ramai di media sosial. “Salah satu relawan menyampaikan di medsos tanpa konfirmasi dulu ke kami. Akhirnya informasi jadi bias dan menimbulkan salah tafsir. Seharusnya ada klarifikasi atau penelusuran dulu sebelum dipublikasikan,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya koordinasi lintas instansi agar pelayanan sosial tidak terhambat. “Tidak ada istilah saling lempar atau menyalahkan pihak tertentu. Semua instansi terkait terus berkoordinasi untuk perbaikan pelayanan,” tandasnya.
Redaktur: Ujang Herlan












