JURNALSUKABUMI.COM – Bulan Dzulhijjah, menjadi salah satu bulan hijriyah yang Allah SWT, khususkan keagungannya. Didalamnya, banyak menyimpan kejadian luar biasa dan juga hikmahnya. Dari semua itu, salah satunya antara lain adanya pelaksanaan ibadah haji dan pelaksanaan ibadah kurban.
“Keduanya, merupakan proses perjalanan panjang manusia dalam hal pendekatan “Keridhaan Hati”. Kenapa demikian? Karena tidak semua umat Islam dapat melakukannya. Ada yang sudah baligh dan berakal, namun belum mampu melaksanakannya karena keterbatasan harta benda, ada pula yang banyak hartanya namun enggan melaksanakannya karena takut hartanya berkurang,”kata Ustadz M. Sulaeman Nur, dalam khutbah Idul Adha, di Masjid Nurul Hikmah Situsaeur, Kecamatan Cibadak, Ahad (10/7/22).
Bahkan kata tokoh muda NU itu ada yang banyak hartanya serta ada kesempatan dan mau melaksanakannya, namun hatinya penuh dengan keangkuhan bukan keikhlasan di hadapan Allah SWT dan makhluknya.
Allah SWT berfirman didalam QS. Al-Kautsar mulai dari ayat 1-3. Intisari daripada surat tersebut adalah, ada dua cara menggapai bahagia di dunia dan di akhirat”. Kedua hal tersebut antara lain:
1. Fashalli, kepatuhan kepada Allah SWT. Baik melalui amal Fardliyyah lima waktu maupun melalui amal Naafilah (amalan shalat sunat seperti shalat ‘Idul Adlha dan amal baik lainnya yang berguna bagi sesama dan mendapatkan pahala dari Allah SWT ketika dilaksanakan, semata-mata karena Allah SWT). Syarat kepatuhan terdiri dari 3 pendekatan, sebagaimana QS. As-Sajdah ayat 15 yaitu:
a). Sujuudan, rendah diri di hadapan Allah SWT (Tadharru’) yang dihiasi oleh sifat rendah hati di hadapan makhluk Allah SWT (Tawadhu’).
b). Wasabbihuu Bihamdin Rabbihim, senantiasa menyemburkan kalam-kalam baik dari lisan yang tidak pernah digunakan untuk kejelekan. Baik melalui bacaan-bacaan ayat Suci Al-Qur’an dan Hadits, senang atas ilmu pengetahuan, tasbih, tahmid, tahlil, dzikir, saplawat dan menebar berita gembira terhadap sesama bukan menebar ujaran kebencian dan cacian serta hinaan secara bersama-sama.
c). Laa Yastakbiruun, tidak berlaku sombong di muka bumi namun yang ada selalu menebar kasih sayang dan kebaikan. Sesuai dengan konsep Imam Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad; Istiqaamah fii Hablin min Allah (teguh pendirian dalam beribadah kepada Allah SWT), Istiqaamah fii Hablin min an-Naas (senantiasa menebar kebaikan terhadap sesama) dan Istiqaamah fii Hablin min Jamii’i al-Makhluqaati (menyayangi makhluk lain, seperti hewan dan tumbuhan) dan konsep Sayyid Umar bin Ahmad Baraja dalam Kitab Akhlaq li al-Banin dan Akhlaq li al-Banat, kepada yang lebih tua selalu menghormati dan kepada yang lebih muda selalu menghargai.
2. Wa Inhar (Wanhar), Pengorbanan. Pengorbanan bersejarah Allah limpahkan taqdirnya kepada Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan Nabi Isma’il AS. Sehingga dengan risalah tersebut seluruh makhluk bumi dan langit merasa takjub atas kebesaran hati keluarga tersebut. Dari ketakjuban itu, Para Malaikat melafalkan “Takbir sebanyak 3.kali,.lalu disambut oleh kalimat yang meluncur dari lisan Nabi Ibrahim AS, yaitu “Laa Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbaru”, kemudian ditambahkan oleh lisan Nabi Isma’il AS, yaitu ” Allaahu Akbaru Walillaahil Hamdu”.
Dari sejarah tersebut, maka dapat ditarik benang merah bahwa ada tiga konsep pendekatan pengorbanan, antara lain:
a). Bimaalin, dengan harta benda. Salah satu pengorbanan terbesar dengan harta benda adalah, menunaikan haji dan umroh serta berqurban hewan berkaki empat. Seperti; unta, big hal, himar, sapi, kerbau, domba dan kambing disetiap tanggal 10,11,12 dan 13 Dzulhijjah.
b). Biquwwatin, dengan tenaga. Belum sanggup dengan harta benda, bisa dilakukan dengan tenaga. Contoh, sebelum pelaksanaan Salat ‘Idul Adlha, ikut membersihkan mesjid dan menggelar karpet atau sajadah masjid untuk kepentingan salat berjama’ah warga sekitar mesjid. dan lain sebagainya.
c). Bilughatin au bi Isyaaratin, dengan bahasa atau isyarat anggota badan. Contoh, ada orang bertanya tentang letak mesjid yang akan digunakan untuk shalat Idul Adlha, maka dijawab dengan baik dan dihiasi dengan senyuman. Sebagaimana sabda baginda Nabi Muhammad SAW, At-Tabassumu fiivWajhi Akhiika Shadaqatun. Yang artinya; “Menyunggingkan senyuman dihadapan siapapun merupakan bentuk Shadaqah”. Shadaqah termudah dan termurah.
Dari seluruh penjelasan diatas, kita patut mencontoh kesalehan Nabi Ibrahim AS. Diantaranya:
– Nabi Ibrahim AS sangat kuat memegang teguh akidah, dengan tidak melupakan Syari’ah. (QS. Ali Imran: 67)
– Nabi Ibrahim AS itu Ma’shum, dijaga dari kekufuran
– Nabi Ibrahim AS tidak pernah meragukan keimanan
– Nabi Ibrahim AS tidak pernah menyembsh selain Allah SWT
– Nabi Ibrahim AS tidak pernah memarahi Ayahandanya yang telah membuat berhala dan tidak pernah pula memintakan ampunan kepada Allah SWT atas ayahandanya
– Nabi Ibrahim tidak pernah meragukan Qudrat Allah SWT
– Dan, Nabi Ibrahim AS tidak pernah berdusta.
Kesimpulannya, Allah SWT akan melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua bilamana hidup ini penuh dengan istiqamah kebaikan, namun sebaliknya Allah SWT akan menghapus bahkan menghilangkan nikmat dan keberkahan bilamana hidup ini penuh dengan mewabahnya kejelekan.
Semoga kita semua dilindungi oleh Allah SWT dan tetap dapat mampu melaksanakan kebaikan untuk bekal ibadah kita guna menuju kebahagiaan, baik di dunia maupun di alam selanjutnya.
Redaktur: Usep.Mulyana












