JURNALSUKABUMI.COM – Pelantikan Pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Sukabumi digelar di Prima Resort Selabintana, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Rabu (6/7/2022).
Hadir pada kegiatan tersenut Wakil Bupati Sukabumi Iyos Somantri, Ketua KTNA Jawa Barat Otong Wiranta, Ketua KTNA Kabupaten Sukabumi H A Sopyan BHM atau yang akrab disapa Abah Sopyan.
Kegiatan Pelantikan Pengurus KTNA kali ini bertajuk ‘Membangun KTNA yang Sinergis dan Kolaboratif guna Mendukung Terwujudnya Kabupaten Sukabumi yang Religius, Maju, dan Inovatif Menuju Jabar Juara Lahir dan Batin’.
Abah Sopyan mengatakan, kegiatan tersebut merupakan amanah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga KTNA. Pada sambutannya, Abah Sopyan mengawali dengan ajakan agar momen pelantikan tersebut tidak hanya dijadikan sebagai seremoni pergantian pengurus saja. Tapi juga sebagai momentum memperkuat perjuangan.
Menurutnya, Kabupaten Sukabumi dianugerahi wilayah seluas 4.162 km² atau sama dengan 11,21 persen dari luas Provinsi Jawa Barat. Wilayah yang luas ini harus mampu dikelola dengan baik, terutama oleh KTNA.
“Berdasarkan RKPD Sukabumi tahun 2022 pendapatan domestik regional Bruto atas dasar harga konstan atau PDRB ADHK menurut lapangan usaha Kabupaten Sukabumi, menunjukan bahwa lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi sektor yang memiliki nilai tambah tertinggi dibandingkan dengan lapangan usaha lainnya,” kata Abah Sopyan.
Lanjut dia, peran lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan dalam memproduksi barang dan jasa di Kabupaten Sukabumi mencapai 20,67 persen pada tahun 2016, dan tahun 2020 sebesar 19,18 persen pada seluruh barang dan jasa yang diproduksi di Kabupaten Sukabumi.
“Data tersebut menunjukan betapa besarnya peran para petani dan nelayan bagi hajat kehidupan Kabupaten Sukabumi,” ucap Abah Sopyan.
Kendati demikian, Abah Sopyan menyebut, ada aspek mendasar yang harus menjadi perhatian KTNA. Seperti beberapa masalah pada sektor pertanian diantaranya, rendahnya kepemilikan lahan pertanian secara nasional yaitu hanya sebesar 0,3 hektar per rumah tangga.
Kemudian, luas lahan sawah di Kabupaten Sukabumi pada 2016 sampai 2020 berkurang seluas 9.798 hektar akibat alih fungsi lahan menjadi pemukiman industri pembangunan infrastruktur, dan aktibitas ekonomi lainnya.
“Masih minimnya pemanfaatan teknologi pengolahan hasil pertanian untuk meningkatkam pendapatan petani. Serta kelangkaan pupuk subsidi yang masih terus terjadi berulang-ulang,” jelas dia.
Secara keseluruhan, Abah Sopyan menuturkan, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, terdapat beberapa indikator pertanian dan nelayan juga tekoreksi.
Diantaranya satu, nilai tukar petani Jabar pada pertengahan 2022 sebesar 97,17 persen atau turun dua persen dibanding tahun 2018. Dua, nilai tukar nelayan triwulan tiga tahun 2021 lalu mencapai 96,77 persen. Kemudian, indeks harga hasil pertanian turun sebesar 1,24 persen.
“Sebagian masalah tersebut merupakan tantangan yang harus kita selesaikan bersama-sama. Dalam mewujudkan tujuan KTNA yaitu mengembangkan profesionalisme petani dan nelayan. Kemudian membangun rasa tanggungjawab kesetiakawanan dan keadilan sosial. Dengan adaftif, intergratif, inovatif, dan kolaboratif,” tandasnya.
Reporter: Fira Alfi Syahrin | Redaktur: Mulvi Mohammad Noor












