JURNALSUKABUMI.COM – Cucuran air mata “menghujani” proses pemakaman jenazah siswa MAN I Cibadak, Raisad Lukman P (16) di Kampung Cipanggulaan Desa Kompa, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (22/2/2020).
Kesedihan mendalam sangat terlihat dari keluarga dan teman-teman sekolahnya, terutama ibundanya Desi Apriani. Sejak kedatangan jasad anak sulungnya dari dua bersaudara, hasil buah cinta dengan suaminya Rela Laksana, dia terlihat tak henti-hentinya menangis.
setibanya ambulans yang membawa jenazah anaknya, tampak Desi menangis haru dan sekali-kali terlihat sambil berdoa. Selama berada di dekat jenazah anaknya, tubuhnya tampak lemas dan dipapah oleh kerabatnya.
Pun demikian terlihat di beberapa guru dan sesama teman-teman sekolahnya. Masih mengenakan seragam, siswa-siswi MAN turut terharu dan sebagian besar tak kuat menahan cucuran air mata.
“Kalau kronologisnya kami kurang tahu. Kami tahu dari teman keluarga dan polisi. Kami langsung ke Bahkti Medicare Cicurug, ternyata korban saat itu kritis hingga akhirnya meninggal. Insya Allah, keponakan saya itu saleh dan baik,” ungkap Deden Suryadi (50) kepada jurnalsukabumi.com di lokasi pemakaman.
Dia berharap, pelaku pembacokan hingga merenggut nyawa keponakannya segera tertangkap dan diberikan hukuman setimpal. “Kami keluarga besar mengikhlaskan, ini takdir. Kami menyerahkan sepenuhnya penanganan hukum kepada aparat berwajib, semoga cepat tertangkap dan dihukum setimpal,” tukasnya.
Diberitakan, Raisad meregang nyawa setelah bersimbah darah terkena bacokan senjata tajam ketika pulang menonton pertandingan futsal antarsekolah. Dia pulang dibonceng temannya menggunakan sepeda motor. Sementara beberapa temannya menaikin angkot dan sepeda motor lainnya.
Saat melintas di lokasi, rombongannya diserang yang diduga oleh siswa dari kubu sekolah lainnya. Nahas, Raisad terkena bacokan. Nyawanya melayang saat mendapatkan tindakan medis di RS Bhakti Medicare Cicurug.
Reporter: Irfan
Redaktur: Yoga A Suhada












