Kelangkaan Solar di SPBU Berdampak Pada Para Petani Sukabumi Selatan

Sabtu, 19 Maret 2022 - 10:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Kelangkaan bahan bakar solar bersubsidi di sejumlah SPBU di Kabupaten Sukabumi Selatan tidak hanya dirasakan pengendara. Kelangkaan solar juga dirasakan para kelompok tani (poktan) di Desa Mekarmukti, Kecamatan Waluran.

Pengurus Poktan Samelang Desa Mekarmukti, Bayu Risnandar mengaku, kesulitan mendapatkan solar bersubsidi untuk bahan bakar traktor untuk membajak sawah pasca panen raya.

“Sawah para petani seharusnya segera dibajak menggunakan mesin traktor, tetapi tidak bisa karena sulit mendapatkan solar. Sedangkan jika diundur, maka akan mundur juga masa tanam dan itu menjadi kerugian untuk para petani. Ini terjadi sudah 3 hari, bahkan sudah satu minggu ini pusing cari-cari solar untuk menghidupkan traktor,” ujar Bayu kepada jurnalsukabumi.com, Sabtu (19/3/2022).

Sehingga petani sekarang, sambung Bayu, terpaksa tanpa membajak sawah dulu menggunakan traktor dan langsung ditanam kembali. Sebab, menurutnya sudah tidak ada pilihan dan tidak ada jaminan kapan solar akan datang.

“Ada 35 hektare sawah petani yang harus dibajak. Sudah coba ke beberapa SPBU tidak ada. Di Jampang itu hanya ada 3 SPBU, termasuk di Tegalbuled itu kosong. Pokoknya sudah 3 hari terakhir ini tidak ada,” terangnya.

Bayu menjelaskan, sulitnya mendapatkan solar berpengaruh juga terhadap gabah – gabah padi yang sudah dipanen. Sebab, harus diolah atau digiling menjadi beras di pabrik penggilingan, sedangkan mesin gilingnya harus menggunakan bahan bakar solar.

“Padi-padi yang dipanen itu harus diolah dan dijadikan beras untuk segera bisa dijual. Kalau disimpan rata-rata petani itu tidak punya cukup gudang untuk menyimpan hasil gabah kering,” tuturnya.

Lanjut Bayu, kalaupun disimpan paling untuk kebutuhan konsumsi, sekarang pengolahan juga sama, karena bahan bakar solar sulit sehingga berhenti beroperasi. “Akhirnya petani terpaksa menjual gabah kering, harganya di bawah harga beras. Petani lain juga mengalami hal yang sama,” ungkapnya.

Ia berharap agar solar tersedia di Kabupaten Sukabumi, terutama di wilayah Pajampangan. “Kalau padi ditanam tanpa dibajak akan berpengaruh juga terhadap hasil panen nanti,” tandasnya.

Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan

Berita Terkait

Disnakertrans Dorong Perlindungan Pekerja SPPG, Ratusan Relawan Diupayakan Masuk BPJS
ABPEDNAS Cetak Sejarah, Raih 100 Ribu Anggota Bertepatan Hari Lahir Pancasila 2026
Pancasila di Tengah Tantangan Zaman, Pesan Bupati Sukabumi untuk Generasi Muda
DP3A Sukabumi Dorong Generasi Bebas Diskriminasi Melalui Program Cager
PLN UP3 Sukabumi Salurkan 6 Sapi dan 1 Kambing Kurban, Ribuan Warga Rasakan Manfaat Idul Adha
Membusuk di Pembaringan Selama 31 Tahun, Keluarga Terharu saat Bupati Sukabumi Datang ke Rumah Ahmad Yani
SMSI Dukung ADI Perjuangkan Kelayakan Gaji Dosen
SPPG Bantargadung Bojonggaling 2 Tebar Kepedulian Lewat Jumat Berkah dan Pemotongan Hewan Kurban

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:26 WIB

ABPEDNAS Cetak Sejarah, Raih 100 Ribu Anggota Bertepatan Hari Lahir Pancasila 2026

Senin, 1 Juni 2026 - 12:57 WIB

Pancasila di Tengah Tantangan Zaman, Pesan Bupati Sukabumi untuk Generasi Muda

Senin, 1 Juni 2026 - 12:14 WIB

DP3A Sukabumi Dorong Generasi Bebas Diskriminasi Melalui Program Cager

Minggu, 31 Mei 2026 - 21:53 WIB

PLN UP3 Sukabumi Salurkan 6 Sapi dan 1 Kambing Kurban, Ribuan Warga Rasakan Manfaat Idul Adha

Sabtu, 30 Mei 2026 - 16:22 WIB

Membusuk di Pembaringan Selama 31 Tahun, Keluarga Terharu saat Bupati Sukabumi Datang ke Rumah Ahmad Yani

Berita Terbaru