Oleh: Karbela Adib Adam (Anggota Ikatan Adhyaksa Darmakarini Kejaksaan Negeri Kabupaten Sukabumi)
Bersyukur, nikmat mana lagi yang kau dustakan. Hambamu bersyukur diberikan kesehatan, memiliki keluarga yang harmonis dan rezeki yang berkecukupan. Itulah yang aku rasakan saat ini.
“Ibu-ibu jangan kerja! Di rumah aja, main sama aku, please,” hampir setiap hari kudengar anakku tersayang merengek dengan muka polos dan mata bulatnya.
”Iya ade, Ibu kerja dulu ya, nanti sore kita main ya lalu sebelum tidur kita bed time story ya,” jawabku.
Dari semua pekerjaan yang melekahkan ku tetap senang bertemu dan bermain dengan anak-anak. Ku sangat berterima kasih yang tiada terhingga kepada suamiku tercinta yang mengizinkanku untuk membagi waktu untuk bekerja dan mengurus keluarga.
“Iya gak apa-apa sayang selama kamu masih bisa membagi waktu bersama keluarga ya,” ucap sang suami, Muhammad Adib Adam yang saat ini menjabat sebagai Jaksa dan Kasi Datun pada Kejaksaan Negeri Kabupaten Sukabumi.
Betapa membuat pikiran dan hatiku lega dan tenang namun tetap ada tanggung jawab sebagai Istri dan Ibu yang menjadi prioritas. Tepat setahun yang lalu ketika aku larut dalam rutinitas diklat dengan zoom fatigue dan belum lagi deadline tugas yang selalu mewarnai setiap minggunya.
Namun keceriaanku adalah ketika akhir pekan di mana bisa meluangkan waktu bersama keluarga. Sesekali kusempatkan berkunjung ke rumah orang tua dan mertua sekaligus bertemu dengan 3 keponakan yang selalu senang bermain bersama anak-anakku.
“Ibu weekend ini aku boleh bermain game yah, please,” dengan senyum lebar, giginya begitu menggemaskan. “Ok sayang hanya weekend saja ya, kalo bisa bermain sepeda atau menggambar seperti zaman Ibu dulu,” sahut ku kepada anak pertama, Muhammad Khairuzzaky Adam (8).
Sementara adik perempuanku mengenalkanku dengan game tentang mengurus anak-anak. “Wah ini cocok sekali dengan pekerjaan sehari-hariku, mulai dari anak-anak bangun pagi, mendampingi home learning hingga bed time stories mereka,” pikirku.
Aku pun larut dengan game ini hingga membuat aku begadang karena mengerjakan deadline tugas hingga sampai malam. Tidak hanya itu, game ini membuatku tidak bisa bermain lagi bersama keluarga dan anak-anak. Bahkan anak-anak bertanya.
“Ibu kenapa gak main dan gak bed time stories lagi sama aku?,”. Dengan merasa bersalah aku menjawab “Maaf sayang Ibu harus mengerjakan PR yang harus dikumpulkan malam ini,”.
Kejadian ini membuat aku bercermin bahwa layaknya anak-anak yang suka bermain game maka akupun seperti mereka terlena dalam permainan ini dan larut dalam waktu. Bahkan teman-teman diklatku pun mengingatkanku agar fokus dengan diklat yang sedang berlangsung.
Aku bersyukur dan beruntung memiliki teman-temanku yang cerdas dan setia menyemangatiku agar tidak mengulang diklat tahun depan. Akupun bertekad menyelesaikan diklatku tanpa peduli ranking yang didapat dengan persaingan yang ketat selama aku berhasil lulus diklat maka aku berhasil menyelesaikan diklatku sebaik-baiknya. Tanpa disadari aku sampai lupa untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Aku merasa sendiri. Di malam hari aku berdoa mengapa aku seperti ini menjadi lupa dengan tugas prioritasku dengan keluarga. Tuhan mohon petunjukmu, berikanlah kekuatan.
Hari demi hari ku berhasil melalui rutinitas mengurus keluarga dan diklat serta ujian akhir dengan baik. Tak disangka akupun dinamika teman-teman, kami semua adalah juara bisa berhasil melalui diklat ini yang diwarnai dimanika deadline tugas dengan nilai memuaskan.
Setelah karantina diklat dan lulus, akupun rehat sejenak lalu mendampingi suami yang bertugas di luar kota. Menikmati rutinitas menyiapkan sarapan untuk suami sebelum bekerja atau sekedar mengingatkan makan sehat dan tepat waktu. Di waktu senggang kami, ternyata suamipun suka bermain game. Pada suatu saat suamiku memperkenalkan game tentang bagaimana mengelola waktu antara mengurus keluarga dengan pekerjaan. Dalam hatiku berkata.
“Ternyata tidak hanya anak-anak dan suamiku yang suka bermain game tetapi ternyata diriku sendiri,”. Akupun mencoba untuk terlalu sering bermain game ini tapi entah kenapa ada semacam energi yang membuat aku bermain game ini untuk melepas kejenuhan bekerja ini sampai lupa mengurus keluarga.
Dengan sikap autis dan ignorance ini membuat aku tidak bisa menghabiskan quality time dengan keluarga bahkan bersosialisasi bersama teman-teman. Teman-temanku mengajak untuk bertemu untuk sekedar bersilaturahmi namun dengan aku hanya bilang. “Maaf aku gak bisa ketemu karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”
Aku merasa bersalah dan tidak biasanya aku menolak untuk bertemu dengan teman-teman ku. Rasa penyeselan itupun muncul ketika aku membayangkan seperti dulu kala ku masih bertemu teman-teman sekedar berbagi pengalaman seru karena sesunggunya kita diciptakan sebagai makhluk sosial dan memerlukan teman untuk berbagi canda, tawa bahkan mendengarkan duka nestapa.
Padahal dulu aku sangat suka bersosialisasi dan berbagi pengalaman bersama teman-teman atau rekan kerja. Ketika kita tidak dapat bertemu keluarga dan teman-teman, memeluk keluarga dan bercanda tawa dengan teman-teman, ketika hanya ada kita dan Tuhan, aku merasa betapa kecilnya diriku.
Akupun memohon kekuatan dan ketabahan agar dapat melalui ini semua dan dapat memperbaiki diri agar lebih baik. Kemudian teman-temankulah yang terus mengingatkan aku untuk fokus dengan keluarga, terlena dan asik dengan dunia maya membuat dirimu lupa akan kehidupan sekitar yang sebetulnya membuat dunia lebih berwarna dan dinamis. Meskipun mereka telah aku abaikan mereka tetap tak bosan mengingatkanku untuk menghindari hal-hal yang membuat diri lupa akan pentingnya diri sendiri, keluarga dan indahnya kehidupan ini. Keluarga adalah hal berharga dalam hidup ini dan tidak bisa digantikan dengan apapun. Ketika Kau berpaling dari keluarga dan orang yang terkasih maka mereka dapat memaklumi kekhilafanmu namun ketika keluarga dan orang terkasih berpaling darimu maka tidak ada kesempatan lagi bagimu. Jangan sampai ini terjadi untuk kedua kalinya karena sebelumnya aku sudah melupakan tugas prioritasku kepada anak-anak, dengan suami dan teman terdekat.
Mulai sejak itu aku bertekad untuk fokus mengurus keluargaku lalu pekerjaaanku. Aku minta maaf kepada anak-anak dan suami karena telah mengabaikan mereka seraya berkata. “Maafkan Ibu, tolong Ibu diingatkan jika Ibu lupa ya,” Aku mulai kembali menikmati rutinitas menyiapkan sarapan, mendampingi home learning dan bed time stories serta menyiapkan makanan untuk keluarga.
Di antara keseruan itu akupun kembali mengerjakan tugas kantor dengan rutinitas zoom dan mengerjakan laporan. Tanpa disadari hal ini membuat aku terlambat makan bahkan saking lelahnya sampai sulit untuk memejamkan mata untuk tidur. Bahkan lupa untuk melakukan kegemaranku untuk berolahraga sekedar jalan pagi sambil berjemur.
Teman-temanku pun kembali mengingatkan untuk disiplin makan dan istirahat. Sambil mengiyakan akupun kembali ke rutinitas mengurus keluarga dan pekerjaan. Entah mengapa mengurus keluarga merupakan kepuasan tersendiri. Sementara itu, selalu saja ada pekerjaan maka aku bertekad untuk tidak menunda pekerjaan dan menyelesaikan pekerjaan agar bisa bermain dengan anak-anak dan tidur nyenyak.
Dengan karakterku itu suamiku bahkan berkata. “Dirimu terlalu berusaha mengerjakan semuanya sendiri, berilah kesempatan untuk me time dan mencoba untuk mempercayai orang lain.” Kali ini sebaliknya, aku terlalu larut dengan permainan pikiran untuk mengurus keluarga hingga lupa untuk memperhatikan diri sendiri. Setelah dipikirkan baik-baik benar juga, aku harus menyadari bahwa untuk mengurus keluarga, orang lain, pekerjaaan maka dirimulah yang harus lebih kuat.
Ibarat pramugari di pesawat selalu berpesan “Please, place the mask over your own mouth and nose before assisting others,”. Akhirnya aku menyadari bahwa aku terpenjara dalam game/permainan pikiran yang sangat posesif terhadap diriku. Seandainya game ini dijuluki anak-anakku dengan singkatan yang lucu maka menjadi Sivit, Tico atau Poco di mana aku pernah 3 kali Positif COVID-19.
Teman-temanku yang setia mengingatkanku yaitu ibarat tenaga medis yang bekerja keras tak kenal lelah hanya meminta untuk disiplin memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Namun tidak hanya sekedar itu bahwa kitapun perlu hidup sehat dengan sehat nutrisi, sehat istirahat dan sehat berolahraga. Bahkan seorang penaripun pernah berkata. “Olahraga yang sehat juga bisa olah rasa di tengah rana (perang) memberantas pandemi COVID-19,”.
Hingga aku berserah kepada Tuhan untuk memohon kekuatan, ketabahan dan kesembuhan. Setelah dicermati pelajaran yang bisa diambil yaitu bahwa hidup agar bisa dijalankan dengan seimbang. Bisa menikmati hangatnya mentari pagi, work with passion, hingga bed time stories anak-anak atau bercengkrama dengan keluarga untuk mengobati kepenatan sehari penuh. Semuanya dapat dijalani dengan tantangan dan kesyukuran serta menikmati setiap waktunya. Beruntung dan bersyukurlah aku memiliki pengalaman yang jarang dimiliki oleh orang pada umumnya. Semoga dapat memberikan semangat bagi kita semua. (*).
Biodata Penulis: Karbela Adib Adam, seorang istri, Ibu dan PNS. Betapa bersyukurnya menjalani rumah tanggaaan di mana profesi suami Muhammad Adib Adam sebagai Jaksa dan Kasi Datun pada Kejaksaan Negeri Kabupaten Sukabumi membuat kami menjalani hidup penuh warna. Sebagai Diplomat pada Kementerian Luar Negeri Houston, Texas, RI dan pernah ditugaskan pada Konsulat Jenderal RI di kami sangat bersyukur diberi kesempatan menikmati potensi nusantara seper ti di Bangli, Krui, Maros, Karanganyar dan Sukabumi dalam mendampingi suami penugasan di berbagai daerah di Indonesia. Kami dikaruniai putra dan putri, Muhammad Khairuzzaky Adam (8 tahun) dan Anggun Rahmah Qirani Adam (4 tahun). Suatu kehormatan bisa menjadi bagian dari Ikatan Adhyaksa Darmakarini dengan mendukung karir suami dan memberdayakan perempuan Indonesia. Karbelaadibadam 130721












