JURNALSUKABUMI.COM – Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi melalui Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit memastikan mayoritas kasus keracunan massal yang statusnya masuk pada Kejadian Luar Biasa (KLB) yang terjadi di beberapa wilayah kecamatan di Kabupaten Sukabumi disebabkan oleh human error.
Seperti yang diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi, Andi Rahman. Human error menjadi penyebab KLB keracuna massal yang terjadi di Kecamatan Bantargadung, Surade, Purabaya, Simpenan dan lainnya.
“Karena sistem pengolahan makanannya yang ada keliru baik pada gelaran hajat, pesta pernikahan, dan kegiatan syukuran,” ungkap Andi kepada Jurnalsukabumi.com Rabu (29/09/2021).
Kemungkinan itu terlihat dari hasil pemeriksaan tim medis terhadap sejumlah sampel keracunan juga wawancara dengan korban dan saksi-saksi.
“Sejak pola makan masuk sampai mereka terjadi keracunan itu tidak lebih dari empat jam. Bakteri itu mempunyai karakter, nah yang masuk pada pola-pola keracunan itu adalah ecoli dan keracunan itu bisa dari berbagai jenis diantaranya bisa dari kimia dan ada juga dari bakteri atau ecoli,” tuturnya.
Meskipun demikian sambung Andi, untuk mengantisipasi terjadinya kasus keracunan makanan hingga masuk pada kasus KLB, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi akan melakukan gerakan pemberdayaan masyarakat yang didalamnya terdapat para kader sadar gizi.
“Nanti dalam program itu juga ada program pengolahan makanan yang baik. Itu mungkin yang akan kita terapkan di tingkat lapangan karena ini sering terjadi bahwa keracunan makanan itu dari pola hajatan karena kecerebohan human error kebanyakan,” katanya.
Masih kata dia, untuk memasikan keracunan makananan itu akibat ecoli atau bukan, rencananya pada pekan ini, hasil uji labnya akan keluar. Ketika nanti hasilnya ecoli atau kimia, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi tetap akan melakukan langkah pencegahan.
“Kalau ecoli atau bakteri kita akan memaksimalkan dengan sistem pencegahan serta temukan dan obati. Sedangkan untuk kimia yang ada unsur lain seperti dari pestisida oleh karena itu harus ada pihak lain yang memberikan edukasi seperti Dinas Pertanian, DPKUKM dan Dinas yang lainnya berkaitan dengan perdagangan dan juga jika pada hasil Lab nya keluar di temukan pada hasilnya itu dari kimia,” tandasnya.
Reporter: Azis Ramdhani | Redaktur: Mohammad Noor












