JURNALSUKABUMI.COM – Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengikuti penilaian kinerja Stunting tingkat Provinsi Jawa Barat secara virtual. Penilaian dipusatkan di Aula Gedung Negara Pendopo Jalan A Yani Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi, Selasa (24/08/2021).
Kepala Dinkes Kabupaten Sukabumi Harun Alrasyid mengatakan penanganan Stunting di wilayahnya tengah dinilai di tingkat Jabar. Disebutkannya, untuk jumlah angka stunting di Kabupaten Sukabumi berdasarkan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sudah menunjukkan di angka 6, 906 persen dari hasil bulan penimbangan balita.
“Asalnya angka stunting di Kabupaten Sukabumi persentasenya cukup tinggi jatuh di angka 41,33 persen atas dasar hasil dari riset kesehatan dasar. Seiring waktu dengan perjuangan Dinkes paxlda tahun 2020 ini penurunannya cukup signifikan,” katanya.
Dengan begitu lanjut dia, Dinkes Kabupaten Sukabumi pada tahun 2022 harus menargetkan di angka 20 persen. Malah tingkat pencapaiannya sudah melebihi target.
Dalam menangani kasus stunting ini sudah membuat skala prioritas dari 381 desa dan 5 kelurahan mana saja dalam kurun dua tahun 2021-2022 lokus-lokus yang harus masuk ke lokus stunting masuk skala prioritas. Mana angka kasusnya paling banyak lokus di lambil dari 20 desa di 10 Kecamatan.
“Indikator penentuan dari stunting ini memang upaya pencegahannya harus dilakukan dari mulai konsepsi, lahir, 1000 HPK ketika bayi berumur 24 bulan. Diharapkan sebelum HPK tidak hanya asupan gizi dan pola asuh tapi bagaimana untuk mencegah terjadinya gangguan tumbuh kembang terutama tumbuh kembang pada otak karena akan berakibat fatal dan dapat di cegah dari proses hamil, melahirkan sampai 1000 HPK,” imbuhnya.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Titin Malikatun Andadari menambahkan bahwa mengikuti penilaian kinerja stunting tingkat Provinsi Jabar yang diukur pada aksi Bangda dimulai dari analisa situasi, rencana kegiatan hingga kinerja tahunan yang akan di dinilai tim penilai Jabar.
“Kegiatan kita itu di-input dari aksi bangda di akses melalui websitenya terdapat datanya, kegiatannya, anggarannya semuanya di input sehingga terukur,” ucapnya.
Selain itu, sambung dia, dari semua persiapan sudah memenuhi syarat namun ada input yang belum terbaca oleh tim penilai yang akan di /umumkan hasilnya pada Oktober mendatang. Akan tetapi kalau bulan berjalan penilaiannya bisa bulan April-Mei aksi 5 sampai aksi 8 dan awal tahun aksi 1.
“Kasus stunting itu masalah gizi atau SDM. Kalau kita abai dalam tata laksana, bahayanya tidak hanya kerdil, masalah kecerdasan sehingga ke depannya tidak bisa bersaing. Sedangkan untuk intervensi gizi terdapat dua yakni sensitif ranahnya pada Dinkes dan spesifik ranahnya di OPD karena kasua stunting tidak hanya menjadi tugas Dinkes,” tandasnya.
Reporter: Azis Ramdhani | Redaktur: Mohammad Noor












