JURNALSUKABUMI.COM – Diki Zaparudin (21) warga Kampung Ciherang Pasirsitu, RT 21/07, Desa Sukakersa, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, terpaksa harus terkulai lemas karena sakit yang dideritanya.
Kesehariannya, ia pun hanya pasrah menghabiskan waktu di ruangan kamar dengan ukuran 3 x 3 meter persegi lantaran penyakit tumor yang menggerogoti bagian kaki sebelah kanannya.
Sodara kandung Diki, Eka Awaludin (26) mengatakan, kondisi adik kesayangannya itu sudah dirasakan sejak enam bulan lalu. Pada awalnya hanya merasakan pegal-pegal saja.
“Tidak ada kecurigaan sedikit pun awalanya. Bahkan, saat pegal-pegal itu dia sempat bermain bola dulu. Dan berangkat kerja ke Jakarta, nah di sana baru kerasa sakit,” terangnya kepada Jurnalsukabumi.com, Rabu (3/30/2021).
Dikarenakan rasa sakit yang tak kunjung pulih, kemudian Diki pun memutuskan pulang lagi ke Sukabumi untuk dipijit pada bagian kaki yang terasa sakit itu. Setelah memijit kakinya dan merasa baikan, ia memutuskan kembali berangkat ke Jakarta.
“Namun setibanya di sana adik saya merasa kakinya itu semakin sakit dan membesar. Adik saya langsung balik lagi ke sini, dan langsung dibawa ke Puskesmas Parakansalak,” jelas Eka.
Pada saat itu Puskesmas Parakansalak tidak memberikan keterangan apapun kepada pihak keluarga terkait kondisi kaki adiknya tersebut. Namun karena tuntutan pekerjaan walaupun merasa sakit Diki kembali berangkat kerja.
“Lagi-lagi, kaki adik saya semakin membesar, dan dia pulang lagi. Ketika dibawa ke Puskesman Parakansalak, mereka merujuk Diki ke RSUD Sekarwangi,” terangnya.
Namun setelah lima kali membawa adiknya ke RSUD Sekarwangi, Eka kembali tidak mendapatkan keterangan apapun dan malah diperintahkan untuk dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
“Sampai sekarang kakinya terus membesar. Selama pengobatan dari pihak dokter juga tidak memberikan traetmen apapun pada adik saya,” kata Eka.
Pihak keluarga pun cukup kesulitan untuk memenuhi biaya perawatan Diki. Karena, dalam sekali berobat pihaknya harus merogoh kocek sebesar Rp 700 ribu.
“Setiap pengobatan lumayan besar biayanya. Terlebih, kami keluarga tidak mampu. Bapak saya menganggur,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sukakersa Deden Deni Wahyudi mengatakan, sudah memberikan bantuan kepada pihak keluarga baik materi ataupun tenaga ketika keberangkatan ke Bandung untuk pengobatan.
Namun, ia menyayangkan penanganan RSHS yang tidak sigap menangani warganya itu. “Kita mulai membantu dari mengatakan ke RSHS. Alhamdulilah kita juga bantu pembiayaannya juga,” tandasnya.
Reporter: Sahrul | Redaktur: Ujang Herlan












