JURNALSUKABUMI.COM – Bagi warga Sukabumi dan sekitarnya, Tepat Pelelangan Ikan (TPI) atau Pasar Cibaraja, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi adalah legenda yang tak lekang dimakan zaman.
Tapi sejak tahun 2000, kegiatan pelelangan di pasar ini, menunjukkan penurunan yang sangat signifikan.
Salah satu pelaku sejarah Pasar Cibaraja, Oban Sobandi atau biasa disapa Bah Sobri (68), mengatakan, aktifitas pelelangan ikan di Cibaraja, sudah seperti mati suri dan kehilangan ruhnya.
“Ada kegiatan transaksi, tapi hanya dalam partai kecil saja. Dulu sebelum tahun 2000, jumlah ikan yang diperjualbelikan di pasar ini bisa sampai 4 sampai 5 ton sehari. Tapi sekarang, hanya sekitar 30 % saja. Apalagi setelah ada Cirata. Padahal benih ikan Cirata dipasok dari sini juga,” kata Sobri kepada jurnalsukabumi.com, Kamis (7/1/2021).
Penyebab lainnya kata Sobri, dikarenakan petani ikan saat ini lebih memilih melapak di rumah masing – masing. Artinya, para konsumen lebih memilih belanja langsung ke lapak petani ketimbang membeli kebutuhannya ke Pasar Cibaraja.
“Mungkin pedagang atau petani bisa langsung menentukan harga sendiri. Mereka lebih leluasa menjual dengan harga patokan sendiri. Tentu cara itu jauh lebih menguntungkan,” ujarnya.
Masalah lain yang menghimpit keberlangsungan Pasar Cibaraja adalah masalah suplay air yang semakin mengecil. Jarak dari sumber air Cisarua di Kadudampit ke lokasi pasar berjarak 7 kilometer.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan berpendapat, lesunya pemasaran di pasar Cibaraja karena jumlah pembeli yang semakin menyusut tajam.
“Hari ini, konsumen lebih memilih transaksi dengan sistem daring. Transaksi tatap muka, saat ini kurang efektif menjaring pelanggan,” ungkapnya.
Reporter: Usep Mulyana | Redaktur: Ujang Herlan












