JURNALSUKABUMI.COM – Pihak Hotel Grand Inna Samudra Beach Hotel (GISBH) Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi akhirnya angkat bicara terkait sorotan yang berkembang mengenai Kamar 308 yang belakangan dikaitkan dengan aktivitas berburu benda pusaka atau mustika.
Marketing Communication Grand Inna Samudra Beach Hotel (GISBH), Mentari, menegaskan manajemen justru berupaya menghilangkan citra mistis yang selama ini melekat pada Kamar 308.
Bahkan, promosi mengenai kamar tersebut sudah lama tidak lagi dilakukan sebagai bagian dari strategi pemasaran hotel.
Menurutnya, sejak berada di bawah pengelolaan InJourney Hospitality, pihak hotel diarahkan untuk tidak lagi menjadikan Kamar 308 sebagai daya tarik utama.
“Jujur aja. Pemberitahuannya kita itu tidak pernah mem- blow up yang namanya 308. Karena diminta dari pemerintah sendiri, apalagi dari kantor pusat kita, kita sekarang di bawah InJourney Hospitality, itu tidak boleh digaungkan yang namanya private room, kamar 308,” ujar Mentari.
Ia menjelaskan, arah pemasaran hotel kini lebih difokuskan pada wisata keluarga, kegiatan liburan (staycation), hingga berbagai aktivitas pariwisata yang bersifat rekreatif.
“Kita lebih ke bisnis, family, staycation. Kita tidak pernah menggaungkan lagi yang namanya private room,” katanya.
Mentari mengungkapkan, manajemen bahkan memiliki keinginan untuk menutup akses Kamar 308. Namun, langkah tersebut belum dilakukan karena masih mempertimbangkan pengunjung lama yang datang dengan tujuan tertentu.
“Kita sebenarnya pengen me- close, pengen menutup kamar itu. Tetapi di sini kita masih menghargai orang-orang yang lama di sini yang pengen ke Kamar 308. Kita diizinkan untuk itu, tapi tidak untuk di- blow up,” ungkapnya.
Ia juga membantah anggapan bahwa hotel mendukung aktivitas yang dikaitkan dengan perburuan mustika maupun narasi mistis lainnya.
“Soalnya kalau bahasanya dengan berburu mustika, sementara kita itu ingin menghilangkan image itu, Pak. Kita tidak mau. Kita ingin orang datang untuk staycation, hiburan malam, weekend di sini,” tegasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul munculnya kritik dari tokoh budaya Palabuhanratu, Abah Firman yang menilai Kamar 308 mulai bergeser dari nilai sejarahnya dan lebih sering dikaitkan dengan konten-konten mistis di media sosial.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











