JURNALSUKABUMI.COM – Gelombang protes keras meluncur dari Relawan Manuk Dadali, kelompok pendukung militan Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Heri Gunawan. Reaksi spontan ini dipicu oleh pernyataan Eks Ketua BEM KM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, yang dinilai menyudutkan, bahkan terkesan menghina pribadi Presiden Prabowo Subianto.
Sebagai organ taktis yang dikenal loyal dan memiliki basis massa mengakar di Sukabumi, relawan Sukabumi menegaskan tidak akan tinggal diam atas narasi yang dianggap tendensius dan mendiskreditkan Kepala Negara tersebut.
Relawan Manuk Dadali sendiri merupakan pendukung militan sosok Heri Gunawan. Mereka merupakan mesin pemenangan ampuh dan terbukti sudah turut menghantarkan Hergun untuk menduduki kursi senayan selama tiga periode berturut-turut. Secara jaringan, Manuk Dadali sudah tersebar di 9 koordapil di tingkat kota dan kabupaten, 54 korcam, 381 kordes, serta 38 korkel yang terbagi atas 5 kelurahan di kabupaten dan 33 kelurahan di kota.
Perwakilan Relawan Manuk Dadali, Agus Firmansyah, mengecam keras ucapan yang dilontarkan oleh tokoh mantan aktivis kampus tersebut. Status sebagai eks ketua organisasi mahasiswa di kampus besar dinilai seharusnya membuat Tiyo lebih matang dan berbasis data dalam melempar argumen ke ruang publik, bukan justru menyerang ranah personal pimpinan tertinggi negara.
“Kami bergerak karena panggilan ideologis. Pak Prabowo adalah simbol negara sekaligus guru bangsa bagi kami. Apa yang disampaikan oleh Tiyo Ardianto sebagai eks Ketua BEM UGM sangat tidak objektif, mengabaikan fakta kerja keras pemerintah, bahkan sudah terkesan menyerang dan menghina pribadi Presiden,” tegas Agus Firmansyah kepada *Jurnal Sukabumi*.
Agus menambahkan, reaksi keras dari seluruh jaringan relawan di Sukabumi ini menjadi bukti bahwa loyalis di akar rumput siap pasang badan untuk mengawal marwah kepemimpinan nasional. Sebagai figur yang juga mantan komisioner KPU Kota Sukabumi dan sarat pengalaman dalam regulasi serta dinamika demokrasi, ia mengingatkan pentingnya menjaga etika komunikasi publik dengan diksi yang terukur namun sarat penegasan.
“Kebebasan berpendapat dan menyampaikan kritik dari elemen mahasiswa maupun alumni adalah hal yang sah dalam iklim republik. Namun, jika kritik tersebut bergeser menjadi upaya menyudutkan hingga menghina pribadi tanpa basis data yang valid, hal itu merupakan bentuk kemunduran berdemokrasi,” lanjutnya.
Merespons dinamika tersebut, Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Heri Gunawan, turut memberikan pernyataan tegas dan menyerukan pesan kedamaian bagi seluruh elemen bangsa agar tetap mengedepankan nilai-nilai luhur dalam berdemokrasi.
“Mari jaga bangsa ini dengan adab, etika, dan rasa hormat. Bersatu, berbudaya, beradab! Bangsa besar sering diuji bukan cuma lewat ekonomi, tapi lewat seberapa tahan kita dari provokasi,” tegas legislator Senayan asal Sukabumi yang akrab disapa HG tersebut.
Ditegaskan bahwa jajaran relawan bersama masyarakat memastikan akan terus berdiri solid membentengi jalannya roda pemerintahan dari serangan opini yang tidak bertanggung jawab. Pernyataan dari eks Ketua BEM UGM ini dinilai telah melukai sentimen para kader dan loyalis fanatik di daerah pemilihan (Dapil) Sukabumi. Oleh karena itu, pihak relawan mendesak agar ada klarifikasi terbuka guna meredam tensi dan kesalahpahaman yang meluas.
“Kendati tensi di tingkat basis sempat menghangat, kami mengimbau seluruh simpatisan untuk tetap menahan diri, tidak terprovokasi secara berlebihan, dan bersama-sama menjaga kondusifitas wilayah Sukabumi dengan mengutamakan koridor hukum yang berlaku,” pungkas Agus.
Redaktur: Ujang Herlan












