MBG Dikeluhkan, SPPG Patuguran: Makanan Bergizi Bukan Berarti Makanan Mewah

Jumat, 3 Oktober 2025 - 20:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pemerintah menuai sorotan dari orangtua siswa di Kabupaten Sukabumi. Pasalnya, sejumlah orangtua menilai menu yang disajikan terlalu sederhana bahkan dianggap tidak layak untuk kebutuhan anak.

Salah seorang orangtua mengaku kecewa karena makanan yang diterima anaknya dinilai tidak sebanding dengan anggaran yang dikucurkan pemerintah.

“Sekelas tahu bulat dan jeli dimasukkan ke dalam program presiden, padahal kalau dihitung-hitung tidak sampai sesuai harga yang diarahkan,” keluhnya, Jumat (3/10/2025).

Menanggapi hal itu, Kepala SPPG Dapur 99 Patuguran Yayasan Generasi Kabupaten Sukabumi, Pajar Nugraha menegaskan bahwa MBG tidak dimaksudkan sebagai makanan mewah, melainkan makanan yang sesuai dengan standar gizi yang sudah ditetapkan.

“Mungkin menu hari ini, kan ini program menu bergizi gratis, kalau dalam program makan bergizi itu berarti kadar gizi yang di tentukan, bukan makanan mewah. Menurut saya sendiri dan saya ahli gizi itu sudah sesuai,” jelas Pajar.

Ia pun merinci menu hari itu, antara lain nasi putih, tahu bulat dengan cold water mayo, serta jeli coco. Meski sederhana, menurutnya kandungan gizi sudah sesuai standar untuk kategori anak TK, SD, hingga SMP dan SMA.

Lebih lanjut, Pajar juga menegaskan bahwa pihaknya selalu terbuka terhadap masukan masyarakat.

“Saya pun sudah menyampaikan pihak-pihak ketika ada hal tidak di inginkan atau menu yang di ragukan, silahkan komfirmasi ke saya kepala Satuannya, dan saya pun di situ sudah menyampaikan jauh-jauh hari apapun kejadian apapun menu apapun bilang ke saya,” katanya.

Pajar membeberkan bahwa pihaknya mengolah 3.725 porsi makanan per hari untuk 10 sekolah yang terdiri dari SD, TK, PAUD, dan SMP. Proses memasak dimulai sejak tengah malam dan harus selesai sebelum subuh agar makanan bisa segera diporsikan dan didistribusikan maksimal dalam 20 menit perjalanan.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan cara konsumsi. “Proses masaknya itu jam 12 malam. Standarnya skrang jam 3 itu udah pemorsian, karena indeksnya memproses dan mendistribusikan sebanyak 3725 dan jaraknya ke sekolah itu engga boleh 6 kilometer dari SPPG ke sekolah dan waktu pengirimanan 20 menit,” ungkapnya.

“Kalau makanan itu 6 jam (harus dimakan) jangan sampai makanan itu panas di masukan kedalam ompreng karna itukan stenlis. Ketika dimasukan ke ompreng ketika panas akan membuat zat protein pembusukan itu semakin cepat,” tambahnya.

Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan

Berita Terkait

HNSI Suarakan Jeritan Nelayan, Kelangkaan BBM hingga Aturan Benih Lobster di Sukabumi 
Pria Tidak Sadarkan Diri Ditemukan dalam Sumur di Bojongkoneng Cibadak
Emak-emak Terdampak Pergeseran Tanah di Bantargadung Tagih Janji Relokasi
Percikan Listrik Diduga Jadi Pemicu, Dua Rumah di Cisolok Hangus Terbakar
Rumah Warga di Pamuruyan Cibadak Terbakar, Warga Sigap Bantu Padamkan Api 
Jeruji Sel Dijebol, Tahanan Polsek Lengkong Kabur dan Lukai Polisi Saat Dikejar
Pengembang Perum Pratama Residence Cijulang Kembali Didemo, Warga: Stop Janji Busuk! 
Truk Wingbox Terguling Usai Hantam Mobil Listrik BYD di Exit Tol Parungkuda

Berita Terkait

Selasa, 30 Juni 2026 - 19:26 WIB

HNSI Suarakan Jeritan Nelayan, Kelangkaan BBM hingga Aturan Benih Lobster di Sukabumi 

Senin, 29 Juni 2026 - 16:12 WIB

Pria Tidak Sadarkan Diri Ditemukan dalam Sumur di Bojongkoneng Cibadak

Sabtu, 27 Juni 2026 - 09:38 WIB

Percikan Listrik Diduga Jadi Pemicu, Dua Rumah di Cisolok Hangus Terbakar

Jumat, 26 Juni 2026 - 18:27 WIB

Rumah Warga di Pamuruyan Cibadak Terbakar, Warga Sigap Bantu Padamkan Api 

Jumat, 26 Juni 2026 - 15:12 WIB

Jeruji Sel Dijebol, Tahanan Polsek Lengkong Kabur dan Lukai Polisi Saat Dikejar

Berita Terbaru