JURNALSUKABUMI.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pemerintah menuai sorotan dari orangtua siswa di Kabupaten Sukabumi. Pasalnya, sejumlah orangtua menilai menu yang disajikan terlalu sederhana bahkan dianggap tidak layak untuk kebutuhan anak.
Salah seorang orangtua mengaku kecewa karena makanan yang diterima anaknya dinilai tidak sebanding dengan anggaran yang dikucurkan pemerintah.
“Sekelas tahu bulat dan jeli dimasukkan ke dalam program presiden, padahal kalau dihitung-hitung tidak sampai sesuai harga yang diarahkan,” keluhnya, Jumat (3/10/2025).
Menanggapi hal itu, Kepala SPPG Dapur 99 Patuguran Yayasan Generasi Kabupaten Sukabumi, Pajar Nugraha menegaskan bahwa MBG tidak dimaksudkan sebagai makanan mewah, melainkan makanan yang sesuai dengan standar gizi yang sudah ditetapkan.
“Mungkin menu hari ini, kan ini program menu bergizi gratis, kalau dalam program makan bergizi itu berarti kadar gizi yang di tentukan, bukan makanan mewah. Menurut saya sendiri dan saya ahli gizi itu sudah sesuai,” jelas Pajar.
Ia pun merinci menu hari itu, antara lain nasi putih, tahu bulat dengan cold water mayo, serta jeli coco. Meski sederhana, menurutnya kandungan gizi sudah sesuai standar untuk kategori anak TK, SD, hingga SMP dan SMA.
Lebih lanjut, Pajar juga menegaskan bahwa pihaknya selalu terbuka terhadap masukan masyarakat.
“Saya pun sudah menyampaikan pihak-pihak ketika ada hal tidak di inginkan atau menu yang di ragukan, silahkan komfirmasi ke saya kepala Satuannya, dan saya pun di situ sudah menyampaikan jauh-jauh hari apapun kejadian apapun menu apapun bilang ke saya,” katanya.
Pajar membeberkan bahwa pihaknya mengolah 3.725 porsi makanan per hari untuk 10 sekolah yang terdiri dari SD, TK, PAUD, dan SMP. Proses memasak dimulai sejak tengah malam dan harus selesai sebelum subuh agar makanan bisa segera diporsikan dan didistribusikan maksimal dalam 20 menit perjalanan.
Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan cara konsumsi. “Proses masaknya itu jam 12 malam. Standarnya skrang jam 3 itu udah pemorsian, karena indeksnya memproses dan mendistribusikan sebanyak 3725 dan jaraknya ke sekolah itu engga boleh 6 kilometer dari SPPG ke sekolah dan waktu pengirimanan 20 menit,” ungkapnya.
“Kalau makanan itu 6 jam (harus dimakan) jangan sampai makanan itu panas di masukan kedalam ompreng karna itukan stenlis. Ketika dimasukan ke ompreng ketika panas akan membuat zat protein pembusukan itu semakin cepat,” tambahnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan












