JURNALSUKABUMI.COM – Di tengah geliat promosi keindahan alam dan geopark kelas dunia, Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sukabumi menunjukkan bahwa pesona daerah tidak hanya bisa ditampilkan lewat lanskap, tapi juga lewat kelembutan hati.
Program Sukabumi Nyaah Ka Indung menjadi panggung baru di mana kepedulian sosial, nilai-nilai kultural, dan misi kepariwisataan bertemu dalam harmoni.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Sendi Apriadi, menyambut hangat peluncuran program ini sebagai bentuk penguatan identitas lokal yang berpihak pada kemanusiaan.
“Pariwisata bukan hanya soal menarik wisatawan, tapi juga tentang bagaimana kita menciptakan lingkungan yang penuh welas asih dan memuliakan budaya lokal. Ibu adalah simbol kasih dan kebijaksanaan dalam budaya Sunda. Ini sangat sejalan dengan semangat kepariwisataan berbasis budaya,” ujar Sendi.
Dalam implementasinya, program ini mewajibkan para pejabat daerah, termasuk yang ada di lingkungan Dinas Pariwisata, untuk memiliki indung asuh yaitu ibu lansia atau janda yang tidak memiliki penghasilan tetap dan masih memiliki tanggungan hidup. Bantuan disalurkan rutin setiap bulan, bukan sebagai kewajiban administratif, tetapi bentuk pengabdian yang dilandasi keikhlasan.
“Bagi kami di Dinas Pariwisata, ini bukan sekadar menjalankan perintah. Ini menjadi bagian dari misi kami menjaga warisan budaya non-benda, yakni cara masyarakat Sunda memuliakan perempuan dan orang tua,” tambahnya.
Uniknya, Dinas Pariwisata melihat peluang sinergi antara program ini dan pengembangan destinasi wisata berbasis komunitas. Dalam jangka panjang, pihaknya berencana mendorong keterlibatan para indung asuh dalam program edukasi budaya dan wisata, seperti menjadi narasumber cerita rakyat, pengrajin tradisional, atau bahkan tokoh penggerak di desa wisata.
“Kita ingin wisatawan tak hanya melihat pemandangan, tapi juga merasakan hangatnya nilai-nilai lokal. Para ibu ini bisa jadi jembatan emosi antara wisatawan dan kearifan lokal kita,” jelas Sendi.
Dengan partisipasi dalam program ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi membuktikan bahwa membangun pariwisata tidak harus selalu dengan pembangunan fisik. Ada cara yang lebih dalam: membangun empati, solidaritas, dan penghormatan terhadap perempuan yang menjadi tiang keluarga.
“Jika kita bisa menjual keindahan pantai dan geopark ke dunia, maka kita juga bisa memperkenalkan budaya hormat kepada orang tua dan kasih kepada ibu sebagai bagian dari pesona Sukabumi. Itulah pariwisata yang punya hati,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan












