Penambangan Batu Karst di Karang Numpang Diprotes Warga dan Komunitas

Jumat, 31 Januari 2025 - 21:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Warga Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh Kabupaten Sukabumi mengeluhkan aktivitas tambang batu karst yang diduga dilakukan oleh PT Mineral Bumi Harmoni (MBH).

Selain warga sekitar, aktivitas penambangan batu juga menuai protes dari pecinta alam, khususnya komunitas penggemar camping.
Protes tersebut muncul, akibat perubahan yang terjadi pada lokasi perbukitan yang sebelumnya menjadi tempat favorit warga untuk berkemah, yakni Karang Numpang.

Lokasi yang dulunya dikenal dengan pemandangan alamnya yang indah, serta udaranya yang sejuk, kini tidak lagi dapat digunakan untuk aktivitas camping, setelah PT. MBH mulai melakukan eksplorasi dan penambangan.

Salah seorang warga setempat, di Kampung Legok Nyenang, Desa Cikujang, Atuy (29)mengatakan, bahwa Karang Numpang telah menjadi salah satu ikon wisata lokal bagi masyarakat sekitar.

“Dulu banyak yang datang kesini untuk menikmati alam, camping, dan berkumpul dengan keluarga. Sekarang semua berubah setelah tambang ini beroperasi,” kata Atuy, Jumat (31/01/2024).

Selain kehilangan ruang untuk berwisata, warga juga khawatir terhadap dampak lingkungan dari aktivitas tambang tersebut, seperti risiko kerusakan ekosistem, polusi, dan berkurangnya cadangan air di sekitar lokasi tambang.

Terlebih, lokasi tambang tersebut berada di atas pemukiman warga Kampung Legok Nyenang. Pecinta alam pun mengungkapkan kekecewaannya terhadap perubahan tersebut, mengingat lokasi Karang Numpang dianggap sebagai salah satu tempat yang mendukung kesadaran lingkungan dan keindahan alam Sukabumi.

“Informasi tentang Karang Numpang ini kabar buruk bagi yang suka camping. Saat ini akses ke puncak sudah tidak bisa ditempuh karena jalurnya digunakan untuk tambang. Saya pribadi, sebagai penikmat puncak bukit Karang Numpang, sangat menyayangkan hal ini,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa lokasi camping di Karang Numpang menawarkan pemandangan spektakuler, termasuk panorama Gunung Gede, Cianjur, Lembursitu Kota Sukabumi, hingga Gunung Salak.

“Waktu dulu, spot camping ini menjadi favorit karena menawarkan view 360 derajat yang sangat indah. Sayangnya, sekarang tempat itu sudah berubah menjadi lokasi tambang, dan aksesnya juga sudah tidak memungkinkan,” jelasnya.

Lokasi camping di Karang Numpang sendiri memiliki kapasitas terbatas, hanya cukup untuk dua tenda. Namun, hal ini tidak mengurangi daya tariknya.

“Meski kecil, tempat ini punya daya tarik tersendiri karena pemandangannya tidak kalah dengan Puncak Peuyeum yang ada di wilayah Ciengang, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi. Tapi sekarang aksesnya sudah ditutup karena aktivitas tambang,” katanya.

Sebagai bukti, Atuy membagikan foto keindahan Karang Numpang sebelum adanya aktivitas tambang. Untuk itu, warga dan komunitas pecinta alam berharap pemerintah dan pihak terkait segera meninjau ulang izin operasional tambang ini.

Mereka mendesak agar Karang Numpang dapat dikembalikan sebagai ruang publik yang mendukung kegiatan rekreasi dan pelestarian lingkungan.

“Karang Nunpang, yang dulunya menjadi tempat pelarian dari hiruk pikuk perkotaan, kini hanya tinggal kenangan bagi kami yang pernah menikmati keindahannya,” tandasnya.

Warga dan komunitas pecinta alam berharap adanya solusi yang dapat mengembalikan fungsi Karang Numpang sebagai ruang publik yang dapat dinikmati kembali oleh masyarakat.

“Polemik ini memunculkan desakan kepada pemerintah setempat, untuk meninjau ulang izin operasi tambang serta mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkannya,” tandasnya.

Sementara itu, Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) pada Pemerintah Desa Cikujang, Asep Mubarok menyatakan, bahwa ia sebagai putra asli Kampung Legok Nyenang tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan terkait aktivitas tambang yang dilakukan PT MBH.

“Sebagai anggota BPD di pemerintahan Desa Cikujang, sejak awal PT MBH mulai beroperasi, saya sama sekali tidak dilibatkan dan tidak mengetahui detail persoalan tambang tersebut. Padahal, lokasi rumah saya itu berada di wilayah terdampak aktivitas tambang PT MBH,” kata Asep.

Ia juga menyesalkan dampak dari tambang yang mengurangi daya tarik wilayah tersebut bagi para pecinta alam. “Dulu, tempat ini sangat ramai dikunjungi oleh orang-orang yang suka berkemah. Sekarang, kondisinya sangat berbeda. Hal ini tentu sangat disayangkan,” tambah dia.

Ketika ditanya sudah berapa lama tambang PT MBH beroperasi, Asep memperkirakan aktivitas tambang tersebut telah berjalan lebih dari satu tahun. Namun, ia mengaku tidak mengetahui tentang program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari PT MBH kepada warga sekitar, khususnya warga yang terdampak dari pertambangan PT. MBH tersebut.

“Untuk CSR, kami tidak tahu apakah ada atau tidak. Begitu juga dengan kontribusi untuk Pendapatan Asli Desa (PAD). Hingga saat ini, pihak BPD tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan tersebut,” tuturnya.

“Kami berharap pemerintah desa dan pihak terkait memberikan penjelasan yang lebih transparan dan mengambil langkah yang lebih baik untuk mengatasi persoalan ini,” sambung dia.

Sementara itu, salah seorang pekerja PT. MBH, Rian mengatakan, pihaknya tidak mengetahui secara pasti terkait warga dan pecinta alam yang mempersoalkan aktivitas tambang PT MBH di Karang Numpang.

“Saya kurang tahu untuk persoalan ini, hanya saja nanti akan kami laporkan kepada pimpinan. Saya bertugas disini hanya sebagai memberikan surat jalan saja pada armada yang mengangkut hasil pertambangan di lokasi tambang PT. MBH,” ungkapnya.

Reporter: Fira AFS | Redaktur: Ujang Herlan

Berita Terkait

Jeruji Sel Dijebol, Tahanan Polsek Lengkong Kabur dan Lukai Polisi Saat Dikejar
Pengembang Perum Pratama Residence Cijulang Kembali Didemo, Warga: Stop Janji Busuk! 
Truk Wingbox Terguling Usai Hantam Mobil Listrik BYD di Exit Tol Parungkuda
Truk Terguling, Akses Nasional Sukabumi-Banten Tutup Total
Kawal Kelanjutan Program MBG, Seniman HG Sukabumi Ikut Aksi Damai dan Istighosah di Lapang Merdeka
Pesisir Sukabumi Bersuara, HNSI Minta Aturan Benur Tak Lagi Membingungkan Nelayan
Nahas! Pemuda Asal Cikidang Tewas Tenggelam di Curug Tiga Kabandungan
Warga Geruduk Pengembang Perumahan di Nagrak, Tuntut Janji yang Tak Kunjung Ditepati

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 15:12 WIB

Jeruji Sel Dijebol, Tahanan Polsek Lengkong Kabur dan Lukai Polisi Saat Dikejar

Kamis, 25 Juni 2026 - 15:19 WIB

Truk Wingbox Terguling Usai Hantam Mobil Listrik BYD di Exit Tol Parungkuda

Kamis, 25 Juni 2026 - 10:11 WIB

Truk Terguling, Akses Nasional Sukabumi-Banten Tutup Total

Rabu, 24 Juni 2026 - 15:25 WIB

Kawal Kelanjutan Program MBG, Seniman HG Sukabumi Ikut Aksi Damai dan Istighosah di Lapang Merdeka

Rabu, 24 Juni 2026 - 15:19 WIB

Pesisir Sukabumi Bersuara, HNSI Minta Aturan Benur Tak Lagi Membingungkan Nelayan

Berita Terbaru