JURNALSUKABUMI.COM – Pemerintah Kabupaten Sukabumi meluncurkan program ambisius untuk menanam satu juta pohon langka dalam upaya menjadikan kota hijau yang berkelanjutan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi, Prasetyo, menjelaskan bahwa program ini bukan hanya sekadar upaya penghijauan, tetapi juga langkah konkret untuk melestarikan jenis-jenis pohon yang semakin langka.
“Kami mengusung tema penanaman 1 juta pohon yang dimulai secara simbolis di acara Healthy City Summit (HCS). Kami memilih 10 jenis pohon langka yang ada di Kabupaten Sukabumi untuk ditanam dan dilestarikan,” ujar Prasetyo, Rabu (31/7/2024).
Jenis-jenis pohon yang dipilih termasuk Mandalika (Gloriosa modesta), Campoleh (Pouteria campechiana), Namnam (Cynometra cauliflora), Kadongdong (Spondias dulcis), Bisbula (Diospyros blancoi), Samolo, Gandaria (Bouea macrophylla Griff), Kupa Landak (Plinia cauliflora), Kemang (Mangifera caesia Jack), dan Kupa/Gowok (Syzygium polycephalum). Pohon-pohon ini dipilih karena nilai ekologisnya yang tinggi dan beberapa di antaranya mulai terlupakan oleh generasi muda.
“Harapannya, kita bisa membudidayakan lebih banyak pohon ini dan menyebarkannya ke seluruh wilayah Kabupaten Sukabumi, sesuai dengan karakteristik ekosistem setempat,” tambah Prasetyo.
Prasetyo menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah desa, masyarakat, dan sekolah dalam menjalankan program ini. Di setiap kecamatan dan desa, bibit-bibit pohon akan dikembangkan, termasuk di sekolah-sekolah yang diharapkan bisa menjadi mini hutan yang menarik burung dan satwa lainnya.
“Manusia sangat membutuhkan hewan dan tumbuhan, tetapi hewan dan tumbuhan tidak membutuhkan manusia. Kita harus menjaga lingkungan kita agar anak cucu kita bisa hidup di dunia yang sehat dan berkelanjutan,” jelasnya.
Prasetyo menambahkan bahwa habitat bagi satwa liar, seperti burung, harus dipertahankan dengan cara menanam pohon-pohon yang menjadi sumber makanan mereka.
“Kita siapkan tempat dan makanannya, sehingga burung-burung dan satwa lain bisa datang dengan sendirinya. Ini akan menjadi tanda bahwa ekosistem kita masih sehat,” tutup Prasetyo.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan












