JURNALSUKABUMI.COM – Desa Wisata Hanjeli di Desa Waluranmandiri, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi makin kesohor dan menjadi salah satu lokasi referensi di dunia para penggiat Desa Wisata di Nusantara.
Belum lama ini, lokasi yang berada di ujung belahan Sukabumi ini mendapat kunjungan Studi Banding dari Dinas Pariwisata Ciamis dan 40 Kepala desa serta pengelola Desa Wisata se-Kabupaten Ciamis.
Tak hanya itu, kunjungan tersebut pun dihadiri langsung 80 peserta berikut perwakilan Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sukabumi, Pemerintah Kecamatan Waluran dan Kepala Desa Waluranmandiri serta Pokdarwis Dewi Hanjeli pada Selasa (25/06/2024) kemarin.
Asep Hidayat atau yang seri disapa Abah Asep, pemilik Desa Wisata Hanjeli mengatakan, setelah mendapatkan penghargaan juara nasional ADWI 2022 Desa Wisata Hanjeli menjadi buah bibir secara nasional di kalangan para penggiat Desa Wisata terutama dari kepala Desa dan Instansi Dinas Pariwisata se-Indonesia.
“Ada banyak yang ingin tahu bagaimana Desa Wisata Hanjeli memulai sesuatu dari pangan lokal yang statusnya hampir punah bisa memberikan nilai inspirasi terutama tentang kekuatan Branding, Marketing, Packaging dan partership yang di dalamnya terdapat sebuah Keunikan, Otentikasi, Originalitas, serta Something Different dengan pendekatan konsep Pentahelix dan Konsep Buttom Up sebagai pondasi kegiatannya,” ujarnya, Kamis (27/06/2024).
Abah Asep, peraih penghargaan Kalpataru 2023 dengan kategori perintis lingkungan ini mengulas, membangun Desa Wisata Hanjeli hitungannya bukan hari, bukan juga minggu, tapi hitungan tahun bahkan prosesnya lebih dari 10 tahun. Proses panjang ini akhirnya membentuk sebuah identitas lokal yang memiliki ciri khas bahkan menjadi Desa Wisata pertama di Indonesia yang mengenalkan konsep edukasi pangan dari Hanjeli yang berada di kawasan Ciletuh Palabuhanratu Unesco Global Geopark.
“Rasanya senang sekali sekarang Dewi Hanjeli menjadi sebuah lokasi sebagai studi tiru atau studi banding dari berbagai daerah Jabar bahkan nasional,” tuturnya.
“Ini seharusnya bisa jadi momentum yang baik untuk saling berpangku tangan semua stakeholder agar fokus terhadap sebuah inovasi lokal, gerakan local champion yang mandiri bisa terus disuport, inisiasi membangun daerah dari pelosok desa sehingga memiliki cahaya terang dari ujung belahan Sukabumi,” tutup Abah Asep.
Redaktur: Ujang Herlan












