JURNALSUKABUMI.COM – Kondisi bangunan Madrasah Al-Hidayah di Kampung Ciburih RT. 25/009, Desa Cilangkap, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, mengundang keprihatinan setelah menjadi viral di media sosial.
Video berdurasi 02.53 menit yang diposting tiga hari lalu oleh penggiat sosial dengan akun Tiktok @jampangpeduli itu memperlihatkan kondisi bangunan yang memprihatinkan hingga mendapat perhatian luas di media sosial.
Betapa tidak, hingga pukul 22.22 WIB, Rabu (13/03/2024) sudah mencapai 70 ribu penonton dengan like 1849, komentar 386 dan 638 dibagikan. Respons mulia pun mulai berdatangan, salah satunya dari Direktur Umum (Dirum) Perumda BPR Sukabumi, Wibowo Hadikusima.

“Jujur kami sangat prihatin atas kondisi itu. Dan kebetulan dalam waktu dekat kami ada giat ke daerah sana, insyallah akan menyempatkan ke lokasi,” ujar Wibowo, Rabu (13/03/2024).
Rencananya, kata dia, yang juga merupakan Dosen STH Pasundan itu BPR Sukabumi akan menggandeng Forum BUMD untuk bersama-sama membantu melalui penggalangan dana untuk Madrasah Al-Hidayah.
“Secara bantuan program memang kami belum ada. Akan tetapi ini berbicara soal kemanusian dan generasi Islam yang harus kita dukung. Oleh karena itu, bersama BUMD yang kami urus semoga bisa dirasakan juga manfaatnya untuk masyarakat khususnya santri di sana,” jelasnya.

“Bahkan, mungkin selanjutnya bisa kita upayakan untuk giat perekonomian agar para santri di sana bisa tetap berjalan tidak mengandalkan yang lain dengan cara bantuan usaha baik dari sektor home industri, pertanian, peternakan dan sebagainya,” tutup Wibowo.
Terpisah, Program Jampang Peduli, Elan (30) saat dihubungi jurnalsukabumi.com, dirinya mengaku awal mula memposting video itu karena rasa kepedulian terhadap sarana dan prasarana khususnya di bidang keagamaan yang jauh dari kata layak.
“Ya, niat kami satu yaitu ingin mengajak masyarakat khususnya para dermawan untuk bisa saling membantu bagi yang membutuhkan. Salah satunya Ponpes atau Madrasah Al-Hidayah ini yang sangat membutuhkan uluran tangan semua pihak,” ujarnya.
Pengasuh Ponpes Al-hidayah sekaligus Kepala Madrasah Al-hidayah, Ustadz Suhendar mengaku bahwa selama ini lembaganya memang luput dari bantuan pemerintah. Sementara untuk operasional, hanya bantuan dari para dermawan dan warga sekitar.
“Madrasah kami sudah berdiri 14 tahun sejak 2009 lalu yang hanya memanfaatkan bangunan bekas langgar atau mushola. Saat ini total siswa ada 53 termasuk 4 anak yatim,” ulasnya.
Tak hanya dijadikan ajang belajar madrasah, kata dia, bangunan ini juga dimanfaatkan untuk pengajian santri di malam harinya. Hanya saja, kekhawatiran akan kondisi bangunan yang sudah lapuk dimakan usia terus menghantui para santri saat belajar mengajar.
“Ya, apalagi kalau hujan otomatis kita belajar dan pengajian pun pindah karena bocor dan takut ambruk karena hampir semua bangunan sudah rapuh. Kami memohon agar bisa dibangunkan untuk sarana belajar mengajar yang layak di sini,” harapnya.
Redaktur: Ujang Herlan












