Kyai Mukhtar Mu’thi: Pendiri Shiddiqiyyah yang Menginspirasi

Sabtu, 14 Oktober 2023 - 17:33 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Kyai Muchammad Mukhtar Mu’thi, atau Syekh Muchammad Mukhtar Mu’thi lahir pada 14 Oktober 1928 di Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang. Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyah Indonesia ini berasal dari keluarga yang aktif dalam perjuangan dan pergerakan kemerdekaan.

Kyai Mukhtar Mu’thi tumbuh di tengah keluarga pejuang yang melibatkan diri dalam perlawanan terhadap penjajah, tercatat dimulai sejak berlangsungnya Perang Jawa.

Kakek-kakek Kyai Mukhtar Mu’thi, seperti Kyai Ahmad Sanusi Abdul Ghoffar, Kyai Zamroji, Kyai Ahmad Syuhada, Kyai Abdulloh, Kyai Ahmad Mujarrod, Mbah Amudah, hingga Mbah Hasan Rozaq, adalah para pejuang kemerdekaan bangsa yang turut berjuang melawan penjajah berdampingan dengan prajurit-prajurit Pangeran Diponegoro.

Adapun pendidikan Kyai Mukhtar Mu’thi mencakup ilmu agama, fiqih, aqidah, dan tashawuf, diterima dari berbagai guru, termasuk kakek dari garis ibu. Pendidikan karakter atau adabin chasanin didapatkan langsung dari ayahnya, yaitu Kyai Abdul Mu’thi yang terkenal teratur, tegas dan disiplin.

Sang kakek dari garis ibu mempunyai peran dalam pengembangan ilmu tashawuf yaitu Kyai Falal (Guru Thoriqoh Syattariyah). Beliau juga mendapat bimbingan dari : Kyai Ali Muntoha (Guru Thoriqoh Naqshabandiyah, Qodiriyah dan Akmaliyah), Kyai Musytari (Guru Thoriqoh Anfasiyah), dan Syekh Syu’eb Jamali (Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah), dan masih banyak lagi guru Kyai Mukhtar Mu’thi lainnya.

Tak hanya itu saja sejak remaja, ia juga aktif dalam perjuangan bersenjata melawan penjajah Belanda, dan bergabung dalam pasukan gerilya Pojok Klitih dan Mlaten. Bahkan Kyai Mukhtar tercatat ikut serta mempertahakan kemerdekaan di daerah Lamongan dan Madiun hingga kemudian tergabung dalam organisasi Masyumi.

Kyai Mukhtar sempat dikenal sebagai orator ulung yang ditunggu pendengar setianya, narasinya dapat menggugah kesadaran untuk melawan segala bentuk ketidakadilan. Sang orator ini juga gigih menunjukkan bentuk perlawanannya pada faham komunisme yang mulai berkembang.

Pada tahun 1959, Kyai Muchtar Mu’thi kembali ke Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur dan memenuhi harapan ibunya Nyai Nasichah untuk meneruskan wasiat ayahnya Kyai Abdul Mu’thi.

Awalnya Pesantren ini dikenal dengan sebutan Kedung Turi yang kemudian berkembang menjadi Pesantren Majmaal Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, yang fokus pada pendidikan tashawuf serta kesadaran berbangsa dan bernegara.

Dalam perkembangannya, Kyai Mukhtar Mu’thi mendirikan yayasan pendidikan dan banyak organisasi dengan visi-misi yang belandaskan keimanan dan kemanusiaan, mulai dari Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah, perkumpulan murid-murid putri Jam’iyyah Kautsaran Putri Haajarullah Shiddiqiyyah (JKPHS) dan organisasi sosial kemanusiaan Dhilal Berkat Rohmat Alloh (DHIBRA) Shiddiqiyyah.

Kemudian lembaga pendidikan formal Tarbiyyah Hifdhul Ghulam wal Banat (THGB) Shiddiqiyyah, organisasi sosial keagamaan Shiddiqiyyah (ORSHID) dan Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID). Semua organisasi yang didirikannya itu memiliki ciri 3-S yakni Shillaturrohim, Santun, dan Shodaqoh.

Guna menumbuhkembangkan rasa Cinta Tanah Air, Kyai Mukhtar Mu’thi memprakarsai pendirian organisasi kebangsaan yang dikenal dengan nama Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) Indonesia yang dijiwai oleh manunggalnya keimanan dan kemanusiaan.

Adapun inspirasi dari pendirian organisasi ini berawal dari seminar Sutasoma yang mencari kesamaan identitas sebagai bangsa Indonesia, dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika.”

Kesamaan itu juga menjadi titik awal dalam membangun kesadaran berbangsa, bernegara dan mencintai tanah air Indonesia yang kemudian dijadikan sebagai jiwa organisasi yaitu manunggalnya keimanan dan kemanusiaan.

Jiwa tersebut merupakan perpaduan dari sila pertama Pancasila yakni Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. PCTA tersebut pun secara resmi dideklarasikan pada 21 Maret 2010 di Trowulan, Jawa Timur. (*).

 

Berita Terkait

Menghidupkan Kembali Ruh 1928, Ari Awaludin Ajak KNPI Kembali ke Esensi Persatuan
Selamat untuk PWI Kabupaten Sukabumi, Saatnya Bersinergi Wujudkan Visi MASAGI dan Misi KUAT
Asep Japar Sah Pimpin DPD Golkar Sukabumi 2025–2030, Budi Azhar: Lebih Solid untuk Sukabumi Mubarokah
Pernah Bertugas di Papua dan Prancis, Kini dr. Rizky Marpaung Layani Kesehatan Warga Sukabumi
Hari Santri 2026, Dewan Teddy Setiadi Ajak Santri Berilmu dan Berakhlak Mulia
13 Tahun Mondok, Ajeng Kholifah Jadi Semangat Santri Sukabumi ke Forum Internasional
Angkat Hanjeli Sukabumi, Asep Hidayat Mustopa Masuk 3 Besar Finalis DPD RI Awards 2026
Tampil Gemilang di Jaraido Championship 3, Pesilat Muda Sukabumi Zahra Dwi Khoirunnisa Raih Juara 1 Nasional

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:55 WIB

Menghidupkan Kembali Ruh 1928, Ari Awaludin Ajak KNPI Kembali ke Esensi Persatuan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:27 WIB

Selamat untuk PWI Kabupaten Sukabumi, Saatnya Bersinergi Wujudkan Visi MASAGI dan Misi KUAT

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:49 WIB

Asep Japar Sah Pimpin DPD Golkar Sukabumi 2025–2030, Budi Azhar: Lebih Solid untuk Sukabumi Mubarokah

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:12 WIB

Pernah Bertugas di Papua dan Prancis, Kini dr. Rizky Marpaung Layani Kesehatan Warga Sukabumi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 09:51 WIB

Hari Santri 2026, Dewan Teddy Setiadi Ajak Santri Berilmu dan Berakhlak Mulia

Berita Terbaru