JURNALSUKABUMI.COM – Permainan olahraga tradisional Bola Leungeun Seneu atau disebut Boles kembali menjadi daya tarik dari Kota Sukabumi yang dilirik turis mancanegara.
Kali ini dua dosen asal Palestina yakni Muhammed Al-Kourd dari Islamic University of Gaza dan Abdul Fattah dari Al Ummayah University yang saat ini melakukan pertukaran mahasiswa di Universitas Muhammadiyah (UMMI) Sukabumi berkesempatan menjajal permainan Boles.
Kegiatan itu berlangsung di Ponpes Dzikir Al Fath di Kelurahan Karangtengah, kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi. Kedua dosen tersebut awalnya hanya asyik menonton permainan bola api yang dilempar lempar dengan tangan kosong.
Namun kemudian akhirnya mereka menerima bujukan dari pimpinan Ponpes Dzikir Al Fath KH Fajar Laksana untuk ikut bermain Boles. Sebelum dimulai, tangan kedua dosen itu dibalurkan dengan cairan antiseptik.
Muhammed Al-Kourd mengaku terkesan ketika bermain Boles, terlebih permainan tradisional tersebut memiliki kandungan makna Islam yang mendalam.
“Permainan Bola Leungeun Seneu ini adalah permainan yang melatih jadi kuat, islam membutuhkan kekuatan dan Islam membutuhkan kepada pemuda pemudi yang menjalankan pembelajaran agama Islam,” ujar Kourd, dikutip Selasa (18/07/2023).
Kemudian Fajar Laksana memperagakan cara yang benar melempar batok kelapa yang dijadikan bola. Barulah batok kelapa dibakar dan dosen asal Palestina itu mulai bermain Boles bersama para santri.
Itu merupakan momen pertama kali mereka bermain Boles. Dalam percobaan tersebut tampak kedua dosen itu masih menyesuaikan diri dalam mengontrol bola.
Dalam kesempatan tersebut, kedua warga Palestina itu juga mengunjungi Museum Prabu Siliwangi untuk melihat koleksi sejarah, termasuk benda-benda peninggalan peradaban Islam seperti sejumlah kitab suci dan rambut Nabi Muhammad SAW.
“Indonesia dan Palestina adalah saudara yang saling mencintai, Insyaallah kita akan selalu berwawasan di Indonesia di berbagai bidang yang memiliki peradabann kuno dan budaya. Di museum ini luar biasa orang islam harus mengunjunginya kami senang kami bahagia dengan kunjungan ini,” tandansya.
Sementara, KH Fajar Laksana yang juga pencipta kesenian Boles mengatakan, permainan bola api ini menggambarkan bagaimana manusia dapat mengendalikan hawa nafsu duniawi.
Menurut KH Fajar, Boles menggambarkan bagaimana bisa mengendalikan hawa nafsu. Di permainan ini, hawa nafsu digambarkan dengan api.
“Api dipermainkan itu supaya kita tidak terbakar oleh api (atau) tidak terbakar oleh hawa nafsu untuk mencapai suatu tujuan yang sudah direncanakan,” tandasnya.
Reporter: Fira AFS | Redaktur: Ujang Herlan












