JURNALSUKABUMI.COM – Pegiat media sosial sekaligus Dosen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia (UI) menjadi sasaran amukan beberapa massa pendemo di depan Gedung DPR, Senin 11 April 2022. Ade diamankan polisi dalam kondisi babak belur bahkan tanpa celana.
Kasus pengeroyokan terhadap Ade Armando kini tengah ditangani kepolisian. Belum diketahui motif pasti dibalik pengeroyokan ini.
Ade Armando sudah sejak lama dikenal sebagai sosok kontroversional. Tulisan-tulisannya di media sosial kerap berujung pada polemik.
Ia beberapa kali menyinggung hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Apa saja? Dilansir dari inilah, berikut ringkasannya.
1. Allah Bukan Orang Arab
Salah satu kasus Ade Armando yang menyita perhatian adalah mengenai pernyataannya soal Allah bukan Orang Arab. Pernyataan itu Ia sampaikan melalui akun facebooknya.
“Allah kan bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat-ayat Nya dibaca dengan gaya Minang, Ambon, Cina, Hiphon, Blues,” begitu tulisan Ade Armando di halaman pribadinya pada 20 Mei 2015.
Tulisan ini dilaporkan oleh Johan Khan dengan tuduhan penistaan agama dan membangkitkan kebencian atas dasar SARA.
Meski begitu Ade menyanggah bahwa Ia tidak bermaksud menistakan tuhan atau agama. Tulisannya disebut untuk menanggapi rencana Menag saat itu, Lukman Hakim, yang berniat membacakan festival dengan langgam Nusantara.
2. Cibir Habib Rizieq
Ade Armando juga pernah dilaporkan pada Desember 2017 lalu. Lagi-lagi, hal ini disebabkan aktivitas kontroversialnya di dunia maya.
Saat itu, Ia mengungga foto Habib Rizieq bersama sejumlah ulama mengenakan topi Santa Claus pada Desember 2017.
Ia dilaporkan ke Bareskrim Polri atas dugaan tindak pidana ujaran kebencian bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sebagaimana diatur dalam Pasal 28 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) juncto Pasal 156 KUHP.
3. Sebut Solat tak Diatur Al-quran
Ade Armando pernah mengatakan bahwa solat lima waktu tidak ada dalam Al-quran. Meski begitu, Ia mengaku menunaikan solat meski perintah itu Ia sebut tidak ada dalam Al-quran.
“Sebenarnya saya menjelaskan cukup panjang, namun perasaan Shamsi sudah terlalu emosional, maka dia tidak mampu membahas argumen saya. Yang keluar justru bukan hasil dari kerja otak dia,” kata Ade dalam sebuah video.
Menurutnya, banyak sekali orang yang mengingkari Islam karena tidak menunaikan shalat lima waktu.
“Di dunia ini saya banyak sekali muslim yang tidak salat lima waktu. Apakah mereka mengingkari Islam?” ungkap Ade Armando.
Meskipun begitu, Ade Armando mengaku tetap menjalankan shalat lima waktu walau menurutnya perintah tersebut tidak ada dalam Al-Qur’an.
“Saya sih salat lima waktu walaupun saya tahu sebenarnya di dalam Al-Qur’an tidak ada perintah shalat lima waktu. Coba saja baca Al-Qur’an, Anda tidak akan menemukan ayat yang mengatakan salat itu harus dilakukan 5 kali sehari,” tuturnya.
4. Muslim tak Haramkan LGBT
Kontroversi ini terjadi pada 2015. Ade Armando dalam tulisannya menyebut bahwa Allah, tuhan umat Islam tidak mengharamkan LGBT.
Ia menyebut pernyataannya berdasarkan pada kajian imuwan Islam, Profesor Musdah Mulia. Dia mengatakan ayat-ayat Alquran yang digunakan sebagai ruzukan pengharaman LGBT hanya bercerita tentang azab terhadap umat Nabi Luth.
Tulisan Ade terebut mendapat kritikan dan kecaman dari netizen. Banyak dari mereka yang menyebut pengetahuan Ade belum mendalam tentang Islam.
Ade kemudian menantang setiap orang tidak sepakat dengan pandangannya. Dia pun meminta bukti yang menyebutkan Allah mengharamkan LGBT.
“Mereka marah karena saya bilang Allah tidak mengharamkan LGBT. Kalau tidak sepakat, bantah saya dengan bukti. Jangan maki-maki,” tulis Ade lewat akun Twitter @adearmando1.
5.Azan Tak Suci
“Azan tidak suci, azan itu cuma panggilan salat. Sering tidak merdu. Jadi, biasa-biasa sajalah”. Pernyataan itu Ia unggah selang beberapa hari setelah puisi Sukmawati Soekarno Putri yang membandingkan azan tidak semerdu suara kidung.
Menurutnya, panggilan azan sebagai penanda waktu salat merupakan musyawarah Rasulullah SAW dengan para sahabatnya.
“Harap catat, saat itu tidak ada jam. Ada beberapa ide dikemukakan sahabat. Ada yang bilang, kibarkan saja bendera. Ada yang mengusulkan, tiup terompet. Ada pula ide membunyikan lonceng. Ada yang menyarankan, menyalakan api. Tapi akhirnya yang dipilih adalah memanggil orang salat dengan mengumandangkan azan seperti yang kita kenal sekarang ini,” kata Ade.
“Jadi begitulah. Hakekatnya, azan itu adalah seruan untuk menyatakan waktu salat sudah tiba sekaligus mengajak orang untuk salat. Kumandang azan pun tidak selalu merdu, karena hakekatnya memang tidak berurusan dengan estetika. Mau dibaca datar-datar saja juga boleh. Tidak ada yang melarang,” katanya Ade.
Redaktur: Mohammad Noor












