Oleh: KH. Abubakar Sidiq
Orang “besar” tidak sepenuhnya karena dirinya, ada juga karena orang lain atau karena kondisi lain.
Ada orang besar karena lahir dari orangtua yang besar. Lalu dibesar-besarkan, dan ada (sebahagian) menjadi besar. Lahir dari orang besar itu merupakan modal sekaligus beban, karena masyarakat memintanya menjadi besar seperti orangtuanya tetapi dirinya tidak mau atau tidak mampu menjadi besar.
Ada orang besar karena berada di lingkungan besar pada pemerintahan, perusahan, partai politik, organisasi pada umumnya, dan sejenisnya. Ketika dia menjabat, dia menjadi besar dan sangat dihormati. Ketika sudah tidak lagi atau sudah pensiun, ya selesai kebesarannya.
Bahkan dalam dunia politik, ia dianggap besar oleh kelompoknya tetapi oleh lawan politiknya dianggap kecil bahkan dianggap jahat.
Ada orang yang besar karena membesarkan orang menjadi besar. Dia akan semakin besar ketika yang dibesarkannya menjadi besar, besar, dan terus besar. Jenis orang ini bisa kita temukan pada ulama dan pimpinan pesantren.
Kebesaran orang ini tak kan hilang bahkan sampai wafatnya sekalipun. Tidak jarang justru semakin besar setelah dia wafat. Contoh organisasi jenis ini adalah NU (Nahdlatul Ulama). NU adalah pesantren besar, dan pesantren adalah NU kecil. Jadi, di NU itu tidak ada istilah mantan NU.












