JURNALSUKABUMI.COM – Karang Taruna Desa Tegallega, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi mengelola dan memberdayakan Unit Bank Sampah – Bojonghaur, Cibogo dan Leuwibengkok (UBS-BCL) menjadi kegiatan usaha produktif.
Melalui kegiatan tersebut, mereka memanfaatkan limbah yang berasal dari sampah rumah tangga, toko dan warung – warung yang dibuang dan tidak dimanfaatkan menjadi barang – barang yang memiliki nilai jual untuk meraup pundi – pundi rupiah. Usaha tersebut dimotori dan dikelola oleh lembaga Karang Taruna yang peduli lingkungan.
” Bicara soal sampah, tidak akan pernah ada habisnya. Karena barang tersebut kita jumpai di sekeliling kita. Sekarang, bagaimana caranya sampah bisa menjadikan sumber penghasilan dan menghindari dampak buruknya,” kata Wakil Ketua Karang Taruna Desa Tegallega, Yusman Jayusman kepada jurnalsukabumi.com, Senin, (17/5/21).
Dalam prakteknya, mereka memilah jenis sampah organik dan unorganik yang berserakan di tempat – tempat umum dan yang mengapung terbawa aliran Sungai Cikaso yang melewati wilayah Bojonghaur, Cibogo dan Leuwibengkok sepanjang 7 kilometer. Ketiga wilayah tersebut, berbatasan dengan Desa Neglasari, Kecamatan Lengkong.
Hasil kerja mereka kemudian dikumpulkan dan ditampung dalam keranjang – keranjang bambu. Sementara sampah organik yang tidak larut dan terurai oleh air sungai dilenyapkan dengan cara dibakar.
” Dengan melihat fenomena sampah ini, kami punya ide untuk mengubah sampah yang dibuang sembarangan menjadi usaha kreatif yang bisa dikembangkan oleh Karang Taruna,” ungkapnya.
Ibarat kata pepatah, kata dia, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Dengan adanya bank sampah, ekosistem dan keseimbangan lingkungan hidup tetap terjaga dan organisasi Karang Taruna turut menghasilkan keuntungan dari penjualan sampah unorganik.
Ditemui terpisah, Kades Tegallega, Fuad Abdullatif menuturkan, kegiatan Unit Bank Sampah, sudah berjalan sekitar lima bulan yang lalu. Selama itu pula ujarnya, usaha yang kembangkan oleh Karang Taruna meningkat pesat. Cara manual tersebut dilakukan karena di wilayahnya belum tersedia Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS).
” Pemerintah akan terus mendorong kreatifitas mereka. Karena di satu sisi, sampah itu bisa menjadi musuh bersama. Tapi di sisi lain bisa mendapatkan keuntungan jika dikelola dan dikendalikan dengan baik dan bertanggungjawab,” pungkasnya.
Reporter: Usep Mulyana | Redaktur: Mohammad Noor












