Sungai Cidadap Terus Menggerus, Bupati Sukabumi Pastikan Normalisasi Diprioritaskan

Selasa, 8 September 2026 - 10:58 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Kekhawatiran warga Kampung Leuwi Gadog, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, terhadap gerusan Sungai Cidadap mulai mendapat respons dari Bupati Sukabumi H. Asep Japar.

Setelah puluhan hektare sawah warga terdampak material sungai hingga tak lagi produktif, kini gerusan disebut semakin mendekati permukiman. Warga pun mendesak pemerintah segera menurunkan alat berat untuk melakukan penanganan.

Asep Japar mengatakan Pemkab Sukabumi telah mengusulkan penanganan Sungai Cidadap. Pemerintah daerah juga akan terus mendorong agar persoalan tersebut segera ditangani, terutama untuk melindungi lahan pertanian dan kehidupan warga.

“Kita sudah mengusulkan ya untuk Sungai Cidadap itu. Tetap kita juga akan terus berupaya supaya masyarakat itu nanti khususnya para petani jangan sampai nanti dengan kondisi itu kurang baik,” kata Asjap.

Menurutnya, normalisasi Sungai Cidadap akan menjadi salah satu perhatian pemerintah. Ia berharap penanganannya dapat masuk dalam anggaran sehingga kondisi sungai yang dikeluhkan warga bisa segera ditangani.

“Insya Allah itu akan diprioritaskan. Mudah-mudahan masuklah dalam anggaran,” ujarnya.

Saat ditanya apakah ada langkah untuk mempercepat penurunan alat berat, Bupati Asep memberikan jawaban tegas.

“Ya, pasti itu,” katanya.

Sebelumnya, warga Leuwi Gadog mengungkapkan sekitar 30 hektare sawah terdampak material yang terbawa aliran Sungai Cidadap. Batu, kayu dan material lainnya menutup lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.

“Yang asalnya sawah, sekarang sudah jadi wahangan atau kali. Sudah bergantian dengan batu,” kata Dadang Suherman, Ketua RT 02/RW 06 yang juga mewakili warga RT 13.

Kerusakan tersebut tidak hanya membuat petani kehilangan lahan untuk bercocok tanam. Buruh tani juga ikut kehilangan pekerjaan karena sawah yang biasanya menjadi tempat mereka bekerja sudah tidak bisa digarap.

“Nganggur semua,” ucap Dadang.

Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan

Berita Terkait

Jaga Harmoni Bersama Warga, DLH Tekankan Pengelolaan Lingkungan bagi Usaha Peternakan
Serangan Lalat dan Bau Tak Kunjung Hilang, Warga Nagrak Desak Tutup Permanen
Pria 28 Tahun di Nagrak Ditemukan Gandir, Polisi Temukan Pesan Terakhir
Dua Truk ‘Adu Banteng’ di Parungkuda, Sopir Diduga Mengantuk
Pria Tenggelam di Sungai Cicatih Ditemukan Tewas
Cut and Fill di Cikembar Dikeluhkan, Warga Soroti Debu dan Kebisingan 
Ngeyel! Pengerukan Tanah Merah di Nagrak Masih Beroperasi
Mayat Tanpa Identitas Ditemukan Membusuk di Kebun Jati Sukabumi

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 13:10 WIB

Jaga Harmoni Bersama Warga, DLH Tekankan Pengelolaan Lingkungan bagi Usaha Peternakan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:50 WIB

Serangan Lalat dan Bau Tak Kunjung Hilang, Warga Nagrak Desak Tutup Permanen

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:24 WIB

Pria 28 Tahun di Nagrak Ditemukan Gandir, Polisi Temukan Pesan Terakhir

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:23 WIB

Dua Truk ‘Adu Banteng’ di Parungkuda, Sopir Diduga Mengantuk

Kamis, 15 Oktober 2026 - 12:24 WIB

Pria Tenggelam di Sungai Cicatih Ditemukan Tewas

Berita Terbaru