JURNALSUKABUMI.COM – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) industri di wilayah Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi membuat nelayan menjerit. Pasokan solar industri untuk kapal nelayan berkapasitas di atas 30 Gross Tonnage (GT) dilaporkan sulit didapat selama hampir dua pekan terakhir.
Akibat kondisi tersebut, sejumlah kapal nelayan terpaksa bersandar dan menghentikan aktivitas melaut karena tidak memiliki bahan bakar untuk operasional.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (DPC HNSI) Kabupaten Sukabumi, H. Dede Ola mengatakan, kelangkaan BBM industri ini harus segera mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait.
“Kalau persoalan ini tidak segera disikapi, dampaknya akan sangat besar terhadap nelayan dan produksi perikanan di Sukabumi,” ujarnya kepada jurnalsukabumi.com, Rabu (20/5/2026).

Menurutnya, ada sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab tersendatnya pasokan BBM industri ke Palabuhanratu. Salah satunya persoalan nonteknis yang membuat distribusi BBM tidak berjalan normal.
“Kami berharap ada solusi cepat. Jangan sampai nelayan terus dirugikan karena sulit mendapatkan BBM industri,” katanya.
Selain pasokan yang langka, nelayan juga dibebani lonjakan harga solar industri yang kini mencapai Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per liter. Kenaikan tersebut membuat biaya operasional melaut semakin tinggi.
“Harga yang terus naik tentu sangat memberatkan nelayan. Sementara hasil tangkapan belum tentu stabil. BBM naik, harga ikan masih tetap. Sehingga mengakibatkan para nelayan tidak bisa melaut dan dampaknya produksi ikan yang menurun,” ungkapnya.
Sorotan lainnya juga terhadap adanya pembatasan kuota BBM Subsidi bagi kapal di bawah 30 GT. Hal ini pun hampir sama, Sukabumi juga terdampak akan pengurangan kuota sehingga perlu adanya penambahan.
“Jenis solar yang biasanya mendapat 20 tengki, kini hanya 15 tengki saja. Ya, jumlah ini tidak sebanding dengan kebutuhan ratusan kapal nelayan yang setiap hari beroperasi di perairan Palabuhanratu khususnya, sehingga perlu adanya tambahan kuota kembali,” pintanya.
H. Dede Ola menambahkan, HNSI Kabupaten Sukabumi telah melakukan pembahasan bersama sejumlah instansi terkait guna mencari jalan keluar atas persoalan tersebut.
Rapat koordinasi itu digelar di Kantor Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu (PPNP) dan dihadiri Kepala PPNP, Satpolairud, Dinas Perikanan, Pos TNI AL, serta para pengusaha perikanan dan juragan kapal.
“Kami berharap ada langkah konkret agar pasokan BBM industri maupun penambahan kuota BBM Subsidi kembali normal sehingga nelayan bisa kembali melaut. Agar para nelayan kembali bisa beroperasi dan melanjutkan mata pencahariannya sehingga resiko biaya keluarganya pun terpenuhi,” tandasnya.
Redaktur: Ujang Herlan












