JURNALSUKABUMI.COM – Anggota DPR RI sekaligus Ketua DPP Partai Gerindra, Heri Gunawan angkat bicara mengenai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut “orang desa tidak pakai dolar.”
Pria yang akrab disapa Hergun ini menilai, ucapan tersebut merupakan bagian dari strategi politik ekonomi yang bertujuan untuk menenangkan psikologis masyarakat di tengah situasi ketidakpastian global saat ini.
“Pernyataan Presiden Prabowo soal desa tidak pakai dolar itu sifatnya strategis untuk menenangkan masyarakat. Ini konteksnya mirip ketika Bung Karno menyebutkan Indonesia dijajah 350 tahun demi membakar semangat persatuan. Poinnya, Presiden ingin menyatukan pandangan agar masyarakat tidak panik,” ujar Hergun kepada jurnalsukabumi.com, Senin (18/05/2026).
Legislator senayan asal Dapil Jawa Barat IV (Kota dan Kabupaten Sukabumi) ini mengingatkan bahwa Prabowo Subianto merupakan putra dari begawan ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo dan cucu dari Margono Djojohadikoesoemo. Dengan latar belakang keluarga teknokrat, Presiden sangat memahami persoalan ekonomi makro, namun memilih menggunakan bahasa yang merakyat agar mudah dicerna.
“Presiden Prabowo menggunakan bahasa rakyat, bukan teknokratis yang rumit. Beliau memilih narasi yang langsung menyentuh logika akar rumput untuk menurunkan tensi kecemasan. Seorang pemimpin yang efektif tahu kapan harus berbicara secara teknokratis dan kapan harus berbicara dengan bahasa masyarakat,” jelasnya.
”Ketenangan Prabowo bukan tanda ia tidak paham. Itu tanda ia paham bahwa kepercayaan publik adalah bagian dari ekonomi itu sendiri,” tegas Hergun menambahkan.
Terlebih, sambung Hergun, ucapan tersebut disampaikan saat menghadiri Panen Raya Jagung dan Gudang Ketahanan Pangan di Nganjuk. Di lokasi lapangan seperti itu, fokus utama pemimpin adalah memberikan apresiasi dan membakar semangat para petani, bukan menyampaikan materi rapat kabinet yang formal.
Melalui narasi tersebut, Hergun melihat ada pesan kuat dari Kepala Negara untuk menegaskan bahwa kekuatan sejati ekonomi Indonesia bukan berada pada pasar modal yang spekulatif, melainkan pada ekonomi gotong royong di pedesaan.
“Ada pesan kuat untuk mencintai dan menggunakan produk lokal. Ekonomi desa berbasis pertanian memiliki ketahanan tersendiri jika ekosistem lokalnya diperkuat. Targetnya adalah memperkuat produksi dalam negeri agar ketergantungan pada barang impor yang bermata uang dolar bisa dikurangi,” ulas Penasihat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sukabumi Raya ini.
Hergun mencontohkan, sejarah mencatat saat Krisis Moneter 1998 menghantam sektor perbankan dan korporasi besar di perkotaan, sektor pertanian dan ekonomi perdesaan justru tampil sebagai penyelamat sebagai bantalan ekonomi karena tidak berbasis valuta asing (valas).
“Dengan menekankan bahwa desa tidak membutuhkan dolar, pemerintah sedang mendorong penguatan rantai pasok lokal. Jika bahan baku pupuk, pakan ternak, dan benih secara bertahap dialihkan ke produksi domestik, maka sensitivitas ekonomi desa terhadap dolar dengan sendirinya akan hilang,” tambah Hergun.
Lebih jauh, ia menilai diskursus mengenai pelemahan Rupiah terhadap Dolar selama ini sering kali didominasi oleh perspektif kelas menengah atas di perkotaan yang terdampak langsung pada gaya hidup—seperti ketergantungan pada gadget impor atau liburan ke luar negeri.
Dengan membawa isu dolar ke ranah kelakar yang santai di lapangan, Presiden sebenarnya sedang menunjukkan kepada pasar dan rakyat bahwa pemerintah tetap tenang dan situasi berada di bawah kendali.
“Sebagai contoh, ada data yang menyebut utang luar negeri Indonesia mencapai Rp10.000 triliun. Tapi faktanya, ambang batas aman utang luar negeri itu 60 persen dari PDB, sementara sekarang angka PDB terhadap utang luar negeri Indonesia masih 40 persen. Jadi posisi kita masih aman,” paparnya.
Hergun menegaskan, retorika tersebut tidak boleh dinilai dari kacamata teori ekonomi murni yang kaku.
“Ini adalah pernyataan politik ekonomi yang bertujuan menggeser fokus perhatian bangsa dari kepanikan global menuju kerja nyata di sektor domestik. Sekaligus menegaskan bahwa fondasi utama kekuatan Indonesia berada di tangan para petani dan masyarakat,” tandasnya.
Redaktur: Ujang Herlan











