JURNALSUKABUMI.COM – Bencana banjir dan longsor yang kembali melanda Kabupaten Sukabumi mendapat sorotan tajam dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM).
Menurutnya, akar permasalahan bencana di Sukabumi bukan semata-mata karena hujan deras, melainkan akibat kerusakan alam yang sudah terjadi sejak lama.
“Apakah betul itu disebabkan karena ada bukaan lahan? Bukaan lahan itu peruntukannya untuk apa. Problem Sukabumi itu satu: alam. Mau di bulak balik pun alam yang hampir rusak,” tegas Dedi.
Dedi menyoroti paradoks yang terjadi di Sukabumi: pembangunan infrastruktur terus digencarkan, anggaran besar dikucurkan, namun bencana tetap berulang hampir setiap tahun.
“Bayangin provinsi Jawa Barat Hari ini. Berapa sih Sukabumi yang terus kita bangun. Bahkan hari ini alokasi juga gede-gede untuk bangunan. Tapi kan bencananya terus terusan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa selama kawasan hulu terus dieksploitasi dengan pembukaan lahan dan alih fungsi area hijau, maka upaya pembangunan di bawah tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Sehingga tidak bisa hanya membangun infrastrukturnya saja di hilir, tetapi kan di atasnya harus di selesaikan,” tuturnya.
Dalam momentum Hari Jadi Kabupaten Sukabumi, KDM mengaku telah memberikan instruksi langsung kepada bupati untuk melakukan perubahan tata ruang wilayah. Ia menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap larangan alih fungsi lahan demi menjaga keseimbangan ekosistem.
“Saya minta kepada pa Bupatinya, tata ruangnya rubah, dan semua orang harus mentaati larangan alih fungsi lahan,” ungkapnya.
Peringatan ini bukan hanya ditujukan kepada pemerintah daerah, tetapi juga masyarakat dan pelaku usaha. KDM menilai, menjaga lingkungan bukan pilihan, melainkan syarat utama agar Sukabumi terbebas dari bencana berulang.
“Mudah-mudahan saja mentaati, dan Bupatinya bisa menerjemahkan apa yang menjadi keinginan alam untuk menjaga,” tutupnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan












