JURNALSUKABUMI.COM – Pondok Pesantren Hayya’Alash Sholaah Hayya’Alal Falaah (HSHF) Shiddiqiyyah, yang berlokasi di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, ternyata m,enerima pelajar dari non-Muslim untuk mengejar pendidikan di tempat tersebut.
“Cinta tanah air bukanlah hak eksklusif umat Muslim, agama lain juga mempunyai rasa cinta yang sama terhadap tanah air,” kata Nyai Shofwatul Ummah, istri Kiai Muchtar Mu’thi pendiri Pondok Pesantren Shiddiqiyyah Jombang, Senin (16/10/2023).
Shofwatul menjelaskan, pesantren ini dibangun melalui sumbangan dari warga Thoriqoh Shiddiqiyyah yang ingin mengembalikan jati diri bangsa Indonesia.
Tujuan utamanya adalah untuk mendidik para santri tidak hanya dalam hal Al-Quran, tetapi juga untuk menanamkan cinta terhadap tanah air Indonesia.
“Kami yakin bahwa dengan bersyukur terhadap nikmat yang diberikan, rasa cinta kita terhadap tanah air akan tumbuh,” ucapnya.
Dalam upaya mewujudkan visi ini, pembangunan pondok pesantren dengan luasan hingga 5 hektare itu sudah merogoh dana mencapai puluhan miliar rupiah.
“Pembangunan ponpes pun sudah mencapai puluhan miliar. Yang jelas lebih dari 10 miliar. lebih itu, bisa 15, 17, bisa 20 miliar,” terangnya.
Edi Setiawan, Ketua Bidang Kebangsaan Lembaga Kajian Kebangsaan di PJTA Indonesia, turut mendukung ide ini. Dia menyatakan bahwa santri dari berbagai latar belakang agama akan diterima di pesantren ini. Materi yang diajarkan akan berfokus pada kebangsaan dan sejarah Indonesia.
“Kita perlu mengingat sejarah kita, dan materi yang akan diajarkan di pesantren ini akan membantu membangkitkan rasa cinta dan kesadaran nasionalisme terhadap Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Kapuspen TNI, Laksda Julius Widjojono, mengapresiasi tekad Kiai Muchtar Mu’thi dalam membangun kesadaran berbangsa dan negara melalui cinta tanah air.
“Kontribusi sehari-hari dimulai dari rakyat untuk membangun bangsa ini lebih baik. Lebih unik lagi, pesantren ini akan menjadi tempat bagi beberapa agama lain, mirip dengan pesantren Jati Diri Bangsa di Kediri,” ungkapnya.
Inisiatif ini menjadi fenomenal mengingat kondisi saat ini, di mana identitas bangsa mengalami krisis. Diharapkan bahwa melalui pembangunan pesantren ini dan penanaman rasa cinta tanah air, ancaman terhadap integritas Kesatuan Republik Indonesia akan berkurang, menjadikan bangsa yang lebih kuat dan bersatu.
“Harapannya, dengan pembangunan ini maka rasa nasionalisme cinta tanah air maka terus menguat,” harap Julius.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: AA Rohman












