JURNALSUKABUMI.COM – Para santri yang sebagian besar merupakan anak-anak yatim piatu di Kampung Cibitung RT 01-03 RW 04 Kelurahan Limusnunggal Kota Sukabumi, mengikuti pesantren kilat (Sanlat) di bulan Ramadan.
Menariknya, selain mendapat materi keagamaan dalam kegiatan Sanlat tersebut para santri juga mendapatkan pengetahuan dan keterampilan tambahan mengenai kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana.
“Ada yang menarik, selain mendapatkan materi agama di pesantren, para santri juga mendapatkan pengetahuan dan keterampilan siaga bencana,” ucap salah seorang Relawan PMI Kota Sukabumi, Nursyifa. 
Nursyifa mengatakan, para santri tersebut diberikan materi terkait kesiapsiagaan bencana berbasis pesantren. Dalam materi tersebut PMI mencoba memberikan pengetahuan mengenai upaya pencegahan kesiapsiagaan bencana kepada santri.
“Seperti, mereka diajarkan membuat peta risiko dan membuat jalur evakuasi di lokasi masing masing, menyusun sop sederhana ketika terjadi bencana gempa bumi dan kedaruratan, serta berlatih penanganan pertolongan pertama kedaruratan,” tutur dia.
Dia menambahkan, berharap para santri mempunyai bekal yang cukup dalam menghadapi situasi bencana baik longsor, banjir maupun gempa bumi. Sebab wilayah Sukabumi termasuk dalam kawasan yang rawan bencana di Jawa Barat.
“Dalam waktu yang sama juga digelar sharing session dari perwakilan setiap lembaga dengan menyampaikan pengalaman dan pembelajaran terbaik dari berbagai operasi bencana dan pelayanan kemanusiaan. Saat ini sudah dilaksanakan oleh lembaganya masing masing untuk menyemangati para peserta sanlat,” pungkasnya.
Lebih lanjut, dalam pelaksanaan kegiatan ini PMI berkolaborasi dengan sejumlah lembaga kemanusiaan dan sosial di Sukabumi, diantaranya Sehati Gerak Bersama, DT Peduli Sukabumi, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Sukabumi, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPFB) Kota Sukabumi serta Kelompok Kuliah kerja Mahasiswa (KKM) kelompok 1 STIE Pasim Sukabumi
Sementara itu, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Sukabumi, Apit Haeruman menambahkan, kegiatan kolaborasi ini sudah dilaksanakan di tahun ke-3, saat ini bersama dengan PMI Kota sukabumi.
“Jurnalis memiliki tugas dan tanggung jawab mengabarkan segala informasi, termasuk informasi terkait upaya mitigasi bencana kepada masyarakat terutama di fase kesiapsiagaan,” kata Apit.
Apit menjelaskan, dalam meliput bencana alam harus menjaga sopan santun, etika, dan empati pada korban saat meliput di lokasi bencana.
Dalam peliputan bencana alam, menurutnya, tugas jurnalis adalah menggali, mendapatkan, dan menyebarkan informasi yang terverifikasi dari lokasi bencana. Terutama tentang jaminan hidup, keamanan, dan optimisme penanganan dari pemerintah untuk penyintas, serta informasi keluarga.
“Sajikan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi rujukan bagi pemerintah untuk mengambil keputusan tepat dalam penanganan bencana,” jelasnya.
Dia menambahkan, jurnalis juga diharapkan ikut mengawasi dan mengawal kebijakan pemerintah dalam upaya penanganan bencana, sehingga efektif dan tepat sasaran.
Reporter: Fira AFS | Redaktur: Usep Mulyana












