Demokrasi Menjadikan Ormas Pendobrak Suara Rezim

Rabu, 8 Januari 2020 - 14:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Sri Mulyati

(Mahasiswi S1 Tarbiyah)

Warga Nahdliyin di buat  kaget mendengar pernyataan bahwa warga Nahdliyin hanya dimanfaatkan suaranya oleh rezim saat Pilpres 2019 lalu, kemudian ditinggalkan. Ibarat kata “abis manis sepah dibuang”. Pernyataan ini keluar langsung dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH.Said Aqil Siradj. “ Khittah NU itu tak berpolitik. Hanya mendidik umat”. Pengakuan ketua PBNU tentu membuat jemaah NU di bawah, terutama NU kultural kaget.” Ujar pengamat politik dari UIN Syarief Hidayatullah. Jakarta, Sabtu (28/12/2019).

Bahkan menurut Kh. Said Aqil Siradj selama ini Pilpres suara NU dimanfaatkan setelah selesai ditinggalkan. Begitulah pernyataan yang disampaikan pada saat wisuda Unusia dilansir dari laman (rmolbanten.com,28/12/2019).

Pernyataan Ketum PBNU ini menuai kritikan dari Rizal Ramli melalui akun Twitternya. “ Pemimpin-pemimpin Formal NU menjadi kecil menjadikannya sekadar kendaraan sewaan, bahkan bersedia pakai plat merah. Padahal akar NU adalah plat hitam, organisasi masyarakat yang berjuang untuk keadilan dan kemakmuran rakyat.”. Tulis Rizal Ramli lewat akun Twitternya @RamliRizal.

Di dalam sistem demokrasi sudah menjadi rahasia umum bahwa ormas yang memiliki massa terbanyak di Indonesia menjadi  rebutan untuk memenangkan Pemilu . Terlebih, kontestan memberikan janji manis dan menawarkan “imbalan”.

Demokrasi kapitalis memang sejatinya selalu menghalalkan segala cara tak terkecuali pemanfaatan suara ormas demi kepentingan kelompok tertentu. Hal inilah yang membuat Said Aqil menagih janji kepada Menkeu Sri Mulyani tentang kewenangan Menkeu kepada ormas menyangkut bagi – bagi uang . Hal ini dikemukakan dalam akun twitternya , (Pojoksatu.id.28/12/2019).

Ketum PBNU menilai bahwa pemerintahan saat ini berkrakter “ingkar janji”. Memanfaatkan suara rakyat. Karena, Standarisasi suara terbanyak merupakan syarat kemenangan bukan kebenaran. Hakikatnya ingkar janji, akan menghasilkan kekecewaan bagi yang diberi janji. Namun, ketika rezim terbukti ingkar janji lalu, kenapa masih diberikan kepercayaan?.

Pandangan Islam tentang Ormas

Sejatinya ormas Islam adalah yang mencerdaskan umat, lantang membongkar ide busuk dibalik kebijakannya yang tidak sesuai dengan aturan Allah. Melakukan Amar ma’ruf nahi mungkar. Penjelasan ketum PBNU bahwa, NU memiliki Khittah mendidik dan mencerdaskan umat. Dalam mendidik dan mencerdaskan umat hendaknya menjadi i’tibar bahwa ormas tidak boleh beralih dari tanggung jawab amar ma’ruf nahi mungkar sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah Swt :

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS.Ali-Imran [3]: 104)

Melakukan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap penguasa yakni muhasabah lil hukkam (mengoreksi penguasa) sesuai misi kehadirannya di tengah-tengah masyarakat yakni melanjutkan kehidupan Islam.

Terlebih orang-orang yang berada di dalamnya adalah seorang ulama yang memiliki seperangkat ilmu dan tsaqofah Islam yang mumpuni untuk mengoreksi penguasa. Apakah kebijakan yang di terapkannya sesuai dengan tuntunan syara’ ataukah sebaliknya. Semua dilakukan tanpa imbalan dari penguasa, tidak berkompromi dengan kedzalimannya dan selalu berpegang teguh pada prinsip syaria’at dengan tujuan yang bermuara kepada keridhaan Allah Swt. Ketika orang-orang yang mengoreksi kebijakan penguasa berkompromi dengan kedzalimannya dan mengharap imbalan. Maka, konsekuensi yang di dapatkan lidah ini menjadi “kelu” saat berbicara kebenaran yang sesungguhnya. Alhasil amal yang ikhlas dalam muhasabah lil hukkam inilah yang menjadi kebutuhan hakiki umat. Bukan suntikan dana dan modal sehingga  umat tidak menyadari pertentangan rezim membahayakan.

Kemudian, ormas Islam pun harus menjadi garda terdepan dalam memenuhi seruan Allah yang bertujuan untuk menyerukan Islam demi berlangsungnya kehidupan Islam baik dalam aspek penerapannya secara kaffah maupun metode dakwahnya.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Berita Terkait

Hari Lahir Pancasila Jadi Momentum Penguatan Semangat Membangun, Ini Pesan Ketua PWI Sukabumi
Dari Game ke Empati: Pengaruh Pembatasan Bermain Game Online terhadap Kecerdasan Emosional Anak
Pesta Babi, Animal Farm, dan Cermin Masa Depan Bangsa
Pelemahan Rupiah dan Mendesaknya Penetapan RUU Migas
Kemudahan yang Menjerat: Krisis Pengelolaan Keuangan di Era Pinjaman Cepat
Menjemput Berkah di Tengah Badai Geopolitik: Jihad Ekonomi, Budaya, dan Spiritual Kabupaten Sukabumi
Di Balik Senyum Siswa Sukabumi: Rasa Syukur atas Kehadiran Heri Gunawan
Semangat Kartini yang Tak Pernah Usai di Ujung Pengabdian

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 11:52 WIB

Hari Lahir Pancasila Jadi Momentum Penguatan Semangat Membangun, Ini Pesan Ketua PWI Sukabumi

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:39 WIB

Dari Game ke Empati: Pengaruh Pembatasan Bermain Game Online terhadap Kecerdasan Emosional Anak

Minggu, 17 Mei 2026 - 10:55 WIB

Pesta Babi, Animal Farm, dan Cermin Masa Depan Bangsa

Sabtu, 16 Mei 2026 - 12:57 WIB

Pelemahan Rupiah dan Mendesaknya Penetapan RUU Migas

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:17 WIB

Kemudahan yang Menjerat: Krisis Pengelolaan Keuangan di Era Pinjaman Cepat

Berita Terbaru

PERISTIWA

Dua Warga Nagrak Korban Pembacokan Masih Dirawat di Rumah Sakit

Jumat, 12 Jun 2026 - 11:15 WIB