Petani Menjerit, Harga Sayur Mayur di Pasaran Menukik Tajam, Penyebabnya?

Minggu, 18 April 2021 - 16:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Harga sayur mayur di tingkat petani Sukabumi berada di posisi terendah dalam masa pandemi ini. Sejak setahun lalu, harga sayur mayur di pasar-pasar tradisional terjun bebas. Di mana penjualan dari mulai tingkat petani hingga ke tangan konsumen mengalami penyusutan disebabkan diakibatkan rendahnya permintaan dari para pedagang atau pengecer. Jika dihitung – hitung penurunannya mencapai 50%.

Hal ini disampaikan seorang petani bernama Pola (40) warga Desa Pasir Datar Indah, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, kepada jurnalsukabumi.com, Minggu (18/4//2021).

Dia mengatakan, sebelum adanya sampar virus corona dalam sehari biasanya dia mengirim wortel ke Pasar Pelita Sukabumi hingga 30 karung berisi 75 hingga 80 kilogram. Sekarang ini, dia hanya mampu memenuhi permintaan dari para pedagang pasar sebanyak 9 karung.

” Penurunannya cukup drastis sejak pandemi 1 tahun lalu. Kami bertahan dalam usaha ini, karena bidang ini yang kami kuasai dan tekuni selama ini,” kata Pola.

Dia menjelaskan, harga beberapa jenis komoditas hasil pertanian juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Karena stok sayuran dari petani melimpah, sementara harga jual hingga ke tingkat konsumen sangat rendah.

Lebih lanjut dia menjelaskan, harga jual wortel ke pasar Rp3000 per kilogram. Itupun dijual dalam hitungan per karung. Bawang daun Rp5000 per kilogram. Sementara harga kol per kilogram di kisaran Rp2700 hingga Rp3000.

Penurunan harga juga terjadi pada komoditas jenis tomat sayur. Harga tomat tergantung kemasan: ada yang dijual dalam peti dan ada juga yang dikemas dalam kantong plastik.

“Biasanya kemasan dalam peti berisi 45 kilogram. Harga jual tomat ke pedagang antara Rp4000 sampai Rp4500. Kalau yang dikemas dalam kantong – kantong plastik, dijual rata – rata Rp5000 per kilogram,” jelasnya.

Sementara petani lain yang juga terkena imbas adalah Bayu Anggara (37). Dia mengakui, petani sayuran berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, petani tetap mencoba bertahan dalam kondisi ini, di sisi lain biaya untuk menutup ongkos produksi yang sangat memberatkan.

“Solusinya adalah pemerintah harus segera turun tangan menstabilkan harga – harga saat ini. Agar sektor pertanian tidak tergerus dengan kondisi ketidakpastian saat ini. Untuk menjamin ketersediaan sayur mayur di pasaran,” ungkapnya.

Reporter: Usep Mulyana | Redaktur: Ujang Herlan

Berita Terkait

Mandi di Pantai Karangnaya, Pemuda Asal Jakarta Hilang Digulung Ombak
Belasan Penyelam Kibarkan Merah Putih di Dasar Laut Palabuhanratu
896 Narapidana Lapas Warungkiara Terima Remisi HUT ke-81 RI, 17 Langsung Bebas
Dari Upacara HUT RI, Bupati Asep Japar Serukan Penguatan Kolaborasi
Terbaru! Dugaan Keracunan MBG di Sukabumi, Tiga Santri Masih Dirawat
Ombak Cimaja Pikat Peselancar Internasional, Wabup Bidik Efek Domino Pariwisata
Diduga Bakar Sampah, Api Membesar di Belakang Pabrik Saos Cibadak
MBG, Kopdes hingga Swasembada Jadi Sorotan, Sukabumi Sambut Pesan Prabowo

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Mandi di Pantai Karangnaya, Pemuda Asal Jakarta Hilang Digulung Ombak

Senin, 17 Agustus 2026 - 14:13 WIB

Belasan Penyelam Kibarkan Merah Putih di Dasar Laut Palabuhanratu

Senin, 17 Agustus 2026 - 12:10 WIB

896 Narapidana Lapas Warungkiara Terima Remisi HUT ke-81 RI, 17 Langsung Bebas

Senin, 17 Agustus 2026 - 12:05 WIB

Dari Upacara HUT RI, Bupati Asep Japar Serukan Penguatan Kolaborasi

Minggu, 16 Agustus 2026 - 12:42 WIB

Terbaru! Dugaan Keracunan MBG di Sukabumi, Tiga Santri Masih Dirawat

Berita Terbaru