JURNALSUKABUMI.COM – Sawah di Kampung Leuwi Gadog, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, satu per satu kehilangan bentuknya. Hamparan yang dulu ditanami padi kini berubah menjadi timbunan batu, kayu dan material yang terbawa aliran Sungai Cidadap.
Bagi petani, yang hilang bukan sekadar lahan. Ketika sawah tak lagi bisa ditanami, pekerjaan ikut lenyap. Kini, setelah lahan pertanian rusak, warga justru dihadapkan pada kekhawatiran baru: gerusan Sungai Cidadap semakin mendekati permukiman.
Jarak aliran sungai dengan kawasan yang sebelumnya mencapai sekitar 350 meter kini disebut warga tinggal sekitar dua meter dari batas bronjong.
“Takut naik keseretan lagi,” kata Dadang Suherman, Ketua RT 02/RW 06 yang juga mewakili warga RT 13, menggambarkan keresahan masyarakat.
Dadang meminta pemerintah segera turun tangan sebelum gerusan sungai semakin melebar dan mengancam bangunan di sekitar kampung.
“Mohon kepada pemerintah atau kepada dewan, mohon menurunkan alat berat atau ekskavator. Keresahan masyarakat takutnya kalau musim hujan mungkin sampai ke majelis dan takut juga masjid terseret,” ujarnya.
Dampak kerusakan Sungai Cidadap paling terasa bagi petani. Menurut Dadang, sekitar 30 hektare sawah di Kampung Leuwi Gadog terdampak material yang terbawa aliran sungai. Hingga kini, lahan tersebut belum kembali produktif karena tertutup batu, kayu dan material lainnya.
“Yang asalnya sawah, sekarang sudah jadi wahangan atau kali. Sudah bergantian dengan batu,” katanya.
Kondisi itu membuat petani tidak bisa kembali mengolah lahan seperti sebelumnya. Bahkan bagi warga yang menggantungkan hidup sebagai buruh tani, hilangnya sawah berarti hilangnya sumber penghasilan.
“Nganggur semua,” ucap Dadang.
Sebagian warga terpaksa mencari pekerjaan lain, termasuk menjadi buruh bangunan. Namun tidak semua memiliki pilihan tersebut.
Dadang sendiri selama ini mengandalkan pekerjaan sebagai buruh tani, mulai dari mencangkul hingga mengoperasikan traktor.
“Tapi sekarang kalau enggak ada sawahnya, enggak bisa kerja. Sementara ini Pak RT nganggur,” tuturnya.
Ironisnya, ketika warga masih berusaha menerima kehilangan lahan pertanian, Sungai Cidadap justru terus bergerak mendekati kawasan tempat mereka tinggal.
Tokoh masyarakat setempat, Sukardi, menilai kondisi Sungai Cidadap sudah membutuhkan penanganan serius. Menurutnya, material yang menumpuk membuat bentuk sungai dan jalur alirannya semakin tidak jelas. Kondisi tersebut dikhawatirkan memperbesar ancaman ketika debit air dari hulu meningkat.
“Saya ingin menyampaikan suara masyarakat. Artinya suara hati mereka,” kata Sukardi.
Ia mendesak adanya normalisasi Sungai Cidadap agar aliran air kembali memiliki jalur yang lebih jelas sekaligus mengurangi ancaman terhadap lingkungan sekitar.
“Enggak kelihatan bentuk sungainya, enggak kelihatan bentuk aliran ke mana airnya ngalir,” ujarnya.
Bagi warga, normalisasi bukan lagi sekadar persoalan memperbaiki sungai. Ada keselamatan kampung yang dipertaruhkan.
Sebab jika sebelumnya yang menjadi korban adalah sawah, kini jarak gerusan dengan permukiman semakin dekat.
Warga khawatir kerusakan tidak berhenti pada lahan pertanian. Majelis, masjid dan rumah-rumah yang berada di sekitar kampung ikut berada dalam bayang-bayang ancaman.
Sukardi menggambarkan kondisi ekonomi warga setelah kehilangan lahan pertanian dengan perumpamaan yang menggambarkan betapa sulitnya kehidupan mereka.
“Kalau kita bilang periuk penanak nasi sudah balik. Artinya yang bolong ke atas sekarang sudah balik lagi, yang enggak bolong itu justru malah di atas,” tuturnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











