JURNALSUKABUMI.COM – Desa Tegallega, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi, tengah menyiapkan konsep desa wisata yang tidak bertumpu pada pembangunan wahana buatan. Gagasan itu dikemas melalui Desa Wisata WINIH, dengan pertanian, alam dan kehidupan masyarakat sebagai daya tarik utama.
Camat Cidolog Yusup Suherlan menjelaskan, WINIH yang berarti benih dalam bahasa Sunda membawa filosofi bahwa sesuatu yang besar berawal dari hal kecil.
“Dalam konsep ini, wisatawan tidak hanya datang melihat pemandangan, tetapi diajak mengenal proses kehidupan desa, mulai dari benih, menanam, merawat, memanen hingga mengolah hasilnya,” ujar Yusup, Kamis (20/8/2026).
Konsep tersebut mengusung tagline Ti Winih Jadi Hirup, Ti Alam Jadi Élmu, yang menggambarkan perjalanan dari benih menjadi kehidupan dan dari alam menjadi pengetahuan.
Menurut Yusup, pengembangan WINIH tidak berdiri sendiri. Pemerintah Kecamatan Cidolog mendorong konsep tersebut melalui pemberdayaan masyarakat, dengan mengoptimalkan potensi yang telah tumbuh di tengah kehidupan warga.
“Gagasan ini didorong melalui pemberdayaan masyarakat agar potensi lokal yang ada bisa memberikan manfaat langsung kepada warga,” tambahnya.
Dorongan tersebut kemudian diterjemahkan melalui berbagai program pemberdayaan yang melibatkan masyarakat. Kasi Pemerintahan Kecamatan Cidolog H. Riky Agusramdhan turut mendorong pengembangan potensi lokal di sejumlah wilayah agar dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Di tingkat desa, konsep WINIH diarahkan untuk memanfaatkan potensi yang selama ini sudah hidup di tengah masyarakat Tegallega. Sawah, kebun, tanaman kelapa, lingkungan, kuliner, budaya hingga UMKM akan dikemas menjadi pengalaman wisata yang edukatif sekaligus memiliki nilai ekonomi.
“Konsep ini secara khusus tidak mendorong Desa Tegallega di bawah kepemimpinan Kepala Desa Edi Mulyadi membangun kawasan wisata buatan secara besar-besaran. Justru aktivitas masyarakat sehari-hari yang menjadi modal utamanya,” kata H. Riky.
Dengan pendekatan tersebut, wisatawan nantinya dapat mengikuti berbagai aktivitas, mulai dari pembibitan, praktik menanam, kegiatan pertanian berdasarkan musim, edukasi kelapa, menjelajah alam hingga mengenal kehidupan masyarakat desa.
Salah satu konsep yang ditawarkan adalah Sapoe Jadi Urang Lembur, yakni pengalaman tinggal dan mengikuti aktivitas kehidupan masyarakat desa. Ada pula konsep Ti Kebon Ka Dapur, ketika pengunjung mengenal bahan pangan dari kebun, memetik atau mengolahnya, kemudian menikmati kuliner bersama masyarakat.
Posisi petani juga menjadi bagian penting dalam konsep WINIH. Mereka tidak hanya ditempatkan sebagai pemilik lahan, tetapi diproyeksikan menjadi Guru WINIH yang dapat memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan edukasi pertanian.
“Dengan pola tersebut, keberadaan wisata diharapkan tidak menciptakan jarak antara wisatawan dan masyarakat. Justru pengunjung belajar langsung dari orang yang sehari-hari menjalankan aktivitas pertanian,” tuturnya.
Konsep ini sekaligus membuka ruang bagi pelaku UMKM, pemandu wisata, pengelola homestay hingga pelaku kuliner untuk terlibat dan mendapatkan manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata.
WINIH juga memiliki program khas bernama Bawa Pulang Winih. Setiap peserta paket edukasi nantinya mendapatkan benih atau bibit tanaman beserta kartu Winih ti Tegallega.
“Pesannya sederhana: pengalaman wisata tidak berhenti ketika pengunjung meninggalkan desa. Mereka membawa pulang benih untuk ditanam dan dirawat di rumah,” terangnya.
Program tersebut menjadi cara untuk memperpanjang pengalaman wisata dari Tegallega hingga ke rumah masing-masing pengunjung. Dengan membawa benih, wisatawan diharapkan tetap memiliki keterikatan dengan pengalaman yang mereka dapatkan selama berada di desa.
WINIH juga disiapkan untuk berbagai kelompok wisatawan. Ada WINIH Kids untuk PAUD hingga SD dengan aktivitas mengenal benih dan praktik menanam.
Untuk pelajar SMP, SMA, mahasiswa dan komunitas tersedia WINIH Explorer, yang menggabungkan tur desa, pertanian, kelapa, jalur alam, praktik bertani, UMKM dan kuliner.
Sementara keluarga, komunitas dan wisatawan dapat mengikuti WINIH Experience selama dua hari satu malam dengan pengalaman homestay, kehidupan masyarakat, pertanian, kuliner, alam dan budaya.
“Pengembangan WINIH dirancang bertahap hingga 2030. Tahun 2026 diarahkan sebagai tahap rintisan melalui pemetaan potensi, pembentukan pengelola, kebun percontohan, jalur awal, pelatihan pemandu dan uji coba paket wisata,” terangnya.
Tahapan tersebut juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari Dinas Pertanian, UMKM, Bapemdes, Kecamatan Cidolog, Dinas Pariwisata hingga Dinas Pariwisata Jawa Barat.
Dukungan yang dibutuhkan antara lain alat pertanian, pelatihan Pokdarwis, pendampingan teknik pertanian serta peningkatan akses menuju kawasan desa wisata.
“Jika konsep ini berjalan sesuai arah yang dirancang, WINIH tidak sekadar menjadi tempat untuk dikunjungi. Desa Tegallega ingin menjadikan kehidupan sehari-hari masyarakat sebagai pengalaman wisata, sekaligus memastikan manfaat ekonominya kembali kepada warga,” tandas H. Riky.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











