JURNALSUKABUMI.COM – Di balik hasil tangkapan yang dibawa pulang setiap hari, nelayan di pesisir selatan Sukabumi menghadapi risiko yang tidak kecil. Kecelakaan kapal, mesin terbakar, hingga kapal tenggelam masih menjadi ancaman yang membayangi aktivitas mereka di laut.
Temuan tersebut terungkap dalam scoping study yang dilakukan Gerakan Ingat Selamat Layar Indonesia (GISLI) di tiga kampung nelayan di Kecamatan Palabuhanratu. Hasil penelitian menunjukkan 75 persen nelayan mengaku pernah melihat atau mengalami langsung kecelakaan kapal, sementara hanya sekitar 10 persen yang rutin menggunakan perangkat keselamatan seperti radio komunikasi atau GPS saat melaut.
Temuan itu menjadi dasar GISLI menggelar program Fisherwomen as Agents of Change (FAOC) di kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu, Senin (13/7/2026). Program tersebut tidak hanya membahas keselamatan di laut, tetapi juga menyentuh perlindungan kerja dan ketahanan ekonomi keluarga nelayan.
Ketua Pelaksana sekaligus Bidang Riset GISLI, Orima Melati Davey, mengatakan keselamatan pelaut tidak bisa hanya dibebankan kepada nelayan. Menurutnya, keluarga juga harus memahami pentingnya budaya keselamatan.
“Untuk hari ini ada tiga elemen utama. Hari pertama keselamatan nyawa dan keselamatan kerja, sedangkan hari berikutnya berfokus pada keselamatan ekonomi keluarga nelayan,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, para nelayan mendapatkan pelatihan penyelamatan diri di laut, penanganan kebakaran kapal, hingga pemanfaatan alat komunikasi keselamatan. GISLI juga menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk memberikan edukasi mengenai pencegahan penyalahgunaan narkoba dan potensi penyelundupan ilegal melalui jalur laut.
Selain peningkatan kapasitas, GISLI memberikan stimulus kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi sekitar 60 nelayan tradisional selama tiga bulan pertama.
Sie Acara dan Humas GISLI, Anggi Hakim, mengatakan bantuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal agar para nelayan memiliki perlindungan saat menghadapi risiko kecelakaan kerja.
“Kami berharap setelah masa stimulus berakhir, kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan dapat dilanjutkan secara mandiri,” katanya.
Di sisi lain, Ketua GISLI Cabang Sukabumi, Dede Sinar, mengungkapkan tantangan yang dihadapi nelayan saat ini semakin kompleks. Menurutnya, wilayah penangkapan ikan kini semakin menjauh dari garis pantai sehingga waktu melaut menjadi lebih lama dan risiko kecelakaan ikut meningkat.
Ia juga menyoroti masih rendahnya perlindungan sosial bagi nelayan tradisional yang belum menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.
“Kalau terjadi kecelakaan di laut dan nelayan tidak memiliki BPJS Ketenagakerjaan, mereka tidak mendapatkan perlindungan apa pun. Ini berbeda dengan kecelakaan di darat yang masih memiliki skema perlindungan tertentu,” ujarnya.
GISLI berharap budaya keselamatan di laut tidak berhenti pada pelatihan semata, tetapi menjadi kebiasaan yang diterapkan setiap kali nelayan berangkat melaut.
“Dengan meningkatnya kesadaran terhadap penggunaan alat keselamatan, perlindungan kerja, dan penguatan ekonomi keluarga, risiko kecelakaan di laut diharapkan dapat ditekan, sementara kesejahteraan masyarakat pesisir dapat terus meningkat,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan












