JURNALSUKABUMI.COM – Kelompok Hikamuci binaan Star Energy Geothermal Salak Ltd berhasil menghasilkan sekitar 3.000 ekor anakan ikan Torsoro melalui teknik pemijahan buatan (stripping). Keberhasilan ini menjadi langkah penting dalam mendukung pelestarian ikan air tawar endemik yang populasinya terus menurun di alam.
Ketua Kelompok Hikamuci, Ujang Dimyati, mengatakan metode stripping diterapkan pada enam indukan betina ikan Torsoro. Dari setiap indukan berhasil dihasilkan sekitar 400 hingga 500 larva.
“Metode stripping membuat proses reproduksi lebih terkontrol sehingga mampu meningkatkan jumlah anakan ikan Torsoro,” ujar Ujang.
Ikan Torsoro atau yang dikenal sebagai ikan Dewa (Kancra) di Jawa Barat merupakan spesies endemik yang hidup di perairan pegunungan berarus deras. Pertumbuhan yang lambat, jumlah telur yang sedikit, serta kerusakan habitat menyebabkan populasinya semakin berkurang.
Kelompok Hikamuci yang berada di Kampung Cipanas, Desa Kabandungan, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, dibentuk pada 2017 sebagai kelompok konservasi. Aktivitas kelompok sempat terhenti akibat pandemi COVID-19 sebelum kembali aktif melalui pendampingan Star Energy Geothermal sejak 2023.
Pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari pemetaan potensi, perbaikan kolam, penambahan indukan ikan, penguatan kelembagaan, pengembangan pakan berbasis maggot, hingga pelatihan teknik stripping dan studi banding.
Hasil penerapan metode tersebut pada 2026 menunjukkan perkembangan positif. Selain berhasil menghasilkan ribuan larva, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) anakan ikan selama tiga minggu pertama pemeliharaan mencapai sekitar 65 persen.
Ke depan, Kelompok Hikamuci berencana melakukan pemijahan buatan secara rutin setiap bulan guna mempercepat peningkatan populasi ikan Torsoro. Sebagian hasil pembesaran nantinya akan dilepasliarkan kembali ke habitat asal melalui program restocking sebagai bagian dari upaya konservasi.
Selain menjalankan program pelestarian, kawasan kolam Hikamuci juga dikembangkan sebagai sentra budidaya ikan nila dan ikan mas sejak 2025. Budidaya ikan komersial tersebut diharapkan menjadi penopang ekonomi kelompok agar program konservasi dapat berjalan secara berkelanjutan.
Social Investment Specialist Star Energy Geothermal, Haris Nur Azhar, mengatakan pengembangan budidaya ikan komersial merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan. Program CSR ini menjadi bukti bahwa pengembangan energi panas bumi dapat selaras dengan upaya konservasi lingkungan,” katanya.
Atas komitmen tersebut, Star Energy Geothermal memperoleh penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada April 2026 atas kontribusinya dalam mendukung pembangunan daerah sepanjang 2025.
“Kami berkomitmen untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat Jawa Barat melalui operasional geothermal berkelanjutan dan program CSR yang berdampak,” pungkas Haris.
Jika diinginkan, saya juga bisa mengubahnya menjadi gaya khas Jurnal Sukabumi yang lebih SEO-friendly dengan lead yang lebih kuat dan judul yang lebih menarik untuk media online.
Redaktur: Ujang Herlan












