JURNALSUKABUMI.COM – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan bencana dan daerah minim akses jaringan melalui kegiatan Orientasi Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Resilience through Community and Connectivity (RCC) Fase-2 yang diselenggarakan di Vila Yustik, Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Sabtu (24/1/2026) hingga Minggu (25/1/2026).
Program ini merupakan hasil kolaborasi PMI Kabupaten Sukabumi bersama Atma Connect dan Internet Society Foundation, dengan fokus membangun ketangguhan masyarakat berbasis komunitas sekaligus memperkuat konektivitas komunikasi dalam respon kebencanaan.
Ketua PMI Kabupaten Sukabumi, dr. Hondo Suwito, mengungkapkan bahwa Kabupaten Sukabumi memiliki tingkat risiko bencana yang tinggi sehingga diperlukan kesiapsiagaan sejak tingkat paling dasar, yaitu masyarakat. PMI memandang penting membangun kesiapsiagaan sejak tingkat masyarakat.
“Melalui orientasi SIBAT, kami ingin memastikan masyarakat tidak hanya menjadi korban, tetapi juga berperan aktif dalam upaya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana,” ungkap dr. Hondo Suwito dalam siaran pers diterima jurnalsukabumi.com Senin (26/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa perekrutan relawan SIBAT pada program ini difokuskan pada wilayah-wilayah rawan bencana sekaligus daerah dengan keterbatasan konektivitas
Dalam program saat ini ada 5 desa, yaitu Desa Tegallega Kecamatan Cidolog, Desa Bojongtugu Kecamatan Curugkembar, Desa Citamiang, Desa Margaluyu, serta Desa Cimerang Kecamatan Purabaya.
“Keberadaan SIBAT di wilayah lima desa ini diharapkan mampu mempercepat respon awal kebencanaan dan meminimalkan dampak bencana sebelum bantuan dari luar wilayah tiba,” jelas Hondo.
Direktur Lapangan Atma Connect, Alfan Kasdar, menyampaikan bahwa program RCC saat ini merupakan fase kedua setelah sebelumnya berhasil dilaksanakan di dua kecamatan di Kabupaten Sukabumi.
“Program ini sebelumnya sukses dilaksanakan di Kecamatan Nyalindung dan Gegerbitung. Dari pelaksanaan tersebut, terlihat adanya peningkatan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana,” ujar Alfan.
Alfan menekankan bahwa konektivitas komunikasi merupakan kebutuhan dasar yang memiliki tingkat kepentingan setara dengan layanan kemanusiaan lainnya dalam kondisi tanggap darurat.
Dalam kondisi respon bencana, konektivitas komunikasi sama pentingnya dengan pelayanan kebutuhan masyarakat seperti evakuasi, logistik, pelayanan kesehatan dan sosial, serta pemenuhan kebutuhan air bersih.
“Tanpa komunikasi yang baik, seluruh layanan tersebut akan sulit berjalan secara efektif,” kata dia.
Ia menambahkan, pengalaman penanganan bencana di wilayah Sumatera menunjukkan bahwa terputusnya jaringan komunikasi dapat menghambat koordinasi dan memperlambat respon di lapangan.
“Karena itu, penguatan konektivitas berbasis masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun sistem kesiapsiagaan bencana yang berkelanjutan,” ucap Alfan.
Melalui program RCC Fase-2 ini, PMI Kabupaten Sukabumi bersama para mitra berharap terbentuknya relawan SIBAT yang tangguh, responsif, serta didukung oleh sistem komunikasi yang memadai, sehingga mampu mempercepat respon kemanusiaan dan meminimalkan dampak bencana di wilayah rawan.
Reporter: Budiyanto | Redaktur: Ujang Herlan

















