JURNALSUKABUMI.COM – Tumpukan sampah plastik hingga popok sekali pakai masih menjadi pemandangan yang mengkhawatirkan di aliran Sungai Cipalabuan dan Sungai Cipanyairan, Kelurahan/Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.
Kondisi itu ditemukan saat aksi gotong royong yang melibatkan warga, Forkopimcam, dan organisasi kepemudaan.
Ketua DPK KNPI Palabuhanratu, Ari Awaludin, mengatakan persoalan sampah di sungai bukan lagi sekadar masalah kebersihan, tetapi sudah menjadi pekerjaan rumah bersama yang membutuhkan perubahan perilaku masyarakat dan solusi pengelolaan sampah.
“Kami melihat sendiri sampah di sungai cukup banyak, terutama sampah plastik, popok, dan sampah rumah tangga lainnya. Ini harus menjadi perhatian bersama agar tidak terus dibuang ke sungai,” ujarnya, Kamis (30/7/2026).
Dalam kegiatan tersebut, DPK KNPI Palabuhanratu bergabung dengan RW 19, Forkopimcam, Kelurahan Palabuhanratu, TNI AL, Karang Taruna, dan masyarakat membersihkan aliran sungai di kawasan Cipanyairan. Aksi gotong royong berlangsung hingga menjelang siang.
Menurut Ari, pembersihan sungai hanya menjadi langkah awal. Yang lebih penting adalah memastikan sampah tidak kembali memenuhi aliran sungai.
Karena itu, KNPI Palabuhanratu akan mendorong komunikasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi agar tersedia titik pengumpulan sampah di lingkungan warga yang kemudian dapat diangkut secara rutin.
“Kami akan mencoba berkoordinasi dengan DLH. Kalau memungkinkan ada titik kumpul sampah di lingkungan warga, nanti sampah itu dijemput oleh DLH sehingga masyarakat tidak lagi membuangnya ke sungai,” katanya.
Selain itu, KNPI Palabuhanratu juga menyiapkan gagasan jangka panjang melalui pembentukan bank sampah yang dikelola oleh para pemuda.
Menurut Ari, keberadaan bank sampah diharapkan dapat mengurangi volume sampah rumah tangga, khususnya sampah plastik, sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan ke depan kami bisa mewujudkan bank sampah. Sampah plastik dari rumah tangga bisa dikelola oleh pemuda sehingga tidak berakhir di sungai, tetapi memiliki nilai manfaat,” ungkapnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk mulai menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai.
“Menjaga kebersihan lingkungan tidak cukup hanya melalui aksi gotong royong, tetapi harus dibarengi dengan kesadaran bersama agar sungai tetap bersih dan tidak menjadi sumber pencemaran maupun bencana saat musim hujan tiba,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











