Tangis Umi Nani di Makam Korban Laka Maut di Palabuhanratu, Penantian Keadilan yang Tak Kunjung Datang 

Selasa, 28 Januari 2025 - 08:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Di tengah keheningan tanah pemakaman, Umi Nani, seorang nenek berusia 46 tahun, tak kuasa menahan air matanya.

Ia berdiri dengan tubuh yang terlihat lemah, ditemani suaminya, Abah Aman. Keduanya memandangi makam cucu tercinta mereka, Cepi, dengan kesedihan yang tak kunjung pudar.

Cepi, pemuda berusia 20 tahun, tewas tragis delapan bulan lalu setelah tertabrak truk milik PT Manggala Kiat saat mempersiapkan acara Hari Nelayan Palabuhanratu pada April 2024.

Bagi keluarga, luka itu masih menganga. Tak hanya karena kehilangan Cepi, tetapi juga karena ketidakadilan yang mereka rasakan. Hingga kini, perusahaan yang mengelola truk tersebut belum memberikan ganti rugi atau sekadar meminta maaf.

Cepi adalah harapan keluarga. Di usia mudanya, ia menjadi tulang punggung untuk membantu nenek dan kakeknya. “Mun kengeng 200, masihan 100,” ungkap Umi Nani, Selasa (28/1/2025).

Namun, delapan bulan telah berlalu, dan kepergiannya meninggalkan kekosongan besar di rumah mereka. Tidak ada lagi tawa atau semangat Cepi yang menghidupkan suasana. Yang tersisa hanya duka dan penantian yang semakin pahit, karena pihak perusahaan tak kunjung menunjukkan tanggung jawabnya.

Umi Nani mengaku kecewa berat. Tidak ada perwakilan dari perusahaan yang datang untuk meminta maaf atau memberikan perhatian. Bahkan, kunjungan yang dijanjikan setelah seminggu kejadian pun tak pernah terjadi.

“Kecewa, teu kadiyeu deui, teu masihan kadiyeu deui, teu dongkap deui ka bumi,” ungkapnya.

Kini, di tengah kekecewaan yang terus menggunung, keluarga Cepi hanya bisa menggantungkan harapan mereka pada penegak hukum dan pihak-pihak yang peduli. Di makam Cepi, tangis Umi Nani menjadi saksi betapa beratnya kehilangan yang mereka rasakan.

“Hoyong mah kitu we, aya perhatian, aya tanggung jawab, tapi teu kadiyeu-deui,” ucap Umi Nani.

Sementara itu, Ketua DPC HNSI Kabupaten Sukabumi, H. Dede Ola, yang turut mengawal kasus ini, juga menyoroti kurangnya itikad baik dari pihak perusahaan.

Menurutnya, pihak korban sebenarnya tidak ingin membawa permasalahan ini ke jalur hukum. Namun, karena sikap perusahaan yang terkesan mengabaikan insiden tersebut, akhirnya langkah hukum menjadi satu-satunya jalan.

“Kami berharap penegak hukum bertindak seadil-adilnya. Perikemanusiaan harus ditegakkan. Pihak keluarga korban berhak mendapatkan kompensasi dan perhatian yang layak, baik untuk yang meninggal dunia maupun yang mengalami kerugian lainnya,” tegas Dede Ola.

Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan

Berita Terkait

Guru Ngaji Terduga Pelaku Pencabulan Ditangkap di Banten, Pelarian AC Berakhir di Cibeber
Usai Digruduk Warga, Guru Ngaji di Simpenan Dilaporkan ke Polisi atas Dugaan Pencabulan
Sungai Tak Lagi Jernih, Warga Simpenan Desak Penertiban Tambang Liar
Rumah Dikepung Massa, Dugaan Pencabulan Oknum Guru Ngaji Gegerkan Warga Simpenan
Kebutuhan Dasar Penyintas Ciptamulya Dipastikan Aman, Fase Darurat Resmi Ditutup
Berangkat Esok, 52 Korban Kebakaran Ciptamulya Diundang KDM ke Lembur Pakuan
Wamenko Tantang Sukabumi Bangun Budaya Pilah Sampah di Setiap Desa
Bukan Toko, Ini Swalayan Pakaian Gratis di Posko Korban Kebakaran Ciptamulya

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 11:56 WIB

Guru Ngaji Terduga Pelaku Pencabulan Ditangkap di Banten, Pelarian AC Berakhir di Cibeber

Minggu, 2 Agustus 2026 - 13:06 WIB

Usai Digruduk Warga, Guru Ngaji di Simpenan Dilaporkan ke Polisi atas Dugaan Pencabulan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 13:02 WIB

Sungai Tak Lagi Jernih, Warga Simpenan Desak Penertiban Tambang Liar

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 13:34 WIB

Rumah Dikepung Massa, Dugaan Pencabulan Oknum Guru Ngaji Gegerkan Warga Simpenan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:08 WIB

Kebutuhan Dasar Penyintas Ciptamulya Dipastikan Aman, Fase Darurat Resmi Ditutup

Berita Terbaru