JURNALSUKABUMI.COM – Masyarakat Desa Gunung Karamat, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi meminta pertanggung jawaban kepada PT Unggul Sokaja atas hutang piutang selama proyek pembangunan bendungan Irigasi berjalan.
Pasalnya, selama proyek D.I Caringin – Cibareno dikerjakan kembali pada tahun 2021, para pekerja tidak diberikan upah kerja oleh pihak perusahaan. Bahkan hutan piutang menyangkut kebutuhan (warung, kost- kostan) pun tidak dibayarkan.
“Saya dan semuanya warga Dusun Sukatani, menuntut tanggung jawab dari pihak perusahaan karena sampai saat ini tidak ada tanggung jawab terhadap masyarakat,” ujar Sidik Fatoni (50) mewakili warga Gunung Karamat, Senin (14/11/2022).
Ia menjelaskan, proyek yang sudah berjalan kurang lebih 14 bulan itu, menyisakan dampak terhadap masyarakat sekitar. Selain berdampak pada fasilitas umum, namun juga merugikan warga sekitar.
“Hutang piutang jumlah total Rp 1,3 milyar. Pekerja hampir semua tidak di gaji, termasuk upah harian upah bulanan, diperkirakan 20 – 30 orang. Pokoknya ini dari bulan Februari sampai saat ini belum ada pembayaran,” terangnya.
Dengan adanya tunggakan itu, puluhan masyarakat mendatangi kantor desa untuk melontarkan keluhannya. Hal itu pun disambut baik Kepala Desa Gunung Karamat, Subaeta. Ia menyebut, permasalahan timbul akibat tidak ada tanggung jawab dari pihak perusahaan.
“Warga Kedusunan Sukatani membuat satu kelompok untuk melakukan aksi ke DPRD atau ke dinas PSDA. Akan tetapi tidak jadi dilaksanakan karena kami dari pihak desa mencoba untuk musyawarah dan mencapai mupakat,” ucap Subaeta.
Subaeta menjelaskan, proyek bendungan berbatasan dengan provinsi Banten itu terbilang mangkrak. Pasalnya, dari papan proyek 149 hari tetapi belum selesai lebih dari satu tahun. Bahkan dalam proses pekerja berjalan, pihak perusahaan terus mengajukan Adendum hingga tiga kali.
“Anggaran pembangunan ini mencapai 21 miliar, terjadi adendum jadi 23 miliar adendum ke 3 jadi 27 miliar. Jadi sebetulnya ini permasalahannya bukan dari pihak dinas tetapi PT tersebut tidak dapat menyelesaikan di lapangan,” paparnya.
Subaeta menyebut, adanya pembangunan Bendungan itu sebetulnya tidak terlalu dirasakan oleh masyarakatnya, karena desa Karamat berada di ketinggian. Hanya menyisakan berbagai dampak saja.
“Pembangunan benungan atau tanggulan sebetulnya pendistribusian untuk desa Caringin, Pasirbaru dan Cikahuripan, sementara desa Gunung Karamat kali ini tidak mendapat maaf dari proyek tersebut akan tetapi hanya mendapatkan berbagai dampak,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Mulvi Mohammad Noor











