JURNALSUKABUMI.COM – Neneng Permatasari (40) dan Rani Fitria (27), kakak beradik sejak pagi menjelang siang terlihat mondar-mandir keluar-masuk rumahnya di Kampung Legoknyenang, Desa Cibolang, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (16/05/2020).
Sambil menenteng rantang, mereka tampak menyambangi rumah-rumah kerabat dan tetangga terdekatnya. Usai mendatangi masing-masing rumah, dan memberikan isi dalam rantang, mereka kembali ke rumahnya berklir orange dan mengisi rantang yang sudah kosong itu.
Rantang itu bersusun empat rangkap terbuat seperti dari bahan stainless, berbentuk bundar dan di pinggir masing-masing pancinya ada kuping untuk pegangan dan kaitan penyangganya. Bagian pancinya ada penutupnya.

Ternyata, masing-masing panci itu berisi jenis makanan berbeda. Isi makanannya seperti nasi, rendang atau opor ayam, bihun, perkedel, dan kentang.
Hari ini, ternyata bertepatan dengan H-7 Idul Fitri 1441 Hijriah. Dan aktivitas kakak-beradik itu merupakan salah satu tradisi menyambut Idul Fitri. Umumnya tradisi itu disebut anteuran.
“Sudah dari dulu, biasanya seminggu sebelum Lebaran keluarga memasak dan dibagikan ke saudara dan tetangga. Tujuannya, yak sedekah ingin berbagi dengan sesama,” ungkap Rani kepada jurnalsukabumi.com.
Dijelaskannya, kebiasaan itu sudah turun temurun dan tidak berharap diisi oleh penerima makanan yang dibagikannya. Kendati begitu, biasanya para saudara atau tetangga yang menerima makanan, dua atau tiga hari ke depan membalasnya. Mau dengan seperti makanan yang dikirim, kue, atau makanan khas Lebaran lainnya.
“Isinya ada opor ayam atau rendang, nasi, bihun dan makanan lainnya. Ini sudah kebiasaan tahunan keluarga,” bebernya.
Tradisi anteuran itu agaknya sudah mulai memudar. Sebab, tidak di semua wilayah terlihat warga yang melakukannya.
Reporter: Riki Rahardian II Redaktur: Jon Digos












