30 Persen Saluran Rusak, Petani di Palabuhanratu Hadapi Ancaman Gagal Produksi

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:51 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Saluran irigasi yang seharusnya membawa air menuju persawahan justru kehilangan banyak aliran di tengah perjalanan.

Di Kampung Cidahon, Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, kondisi saluran Daerah Irigasi (DI) Citepus terlihat mengalami kebocoran di sejumlah titik. Air yang mengalir dari hulu tak lagi optimal mencapai lahan pertanian di bagian hilir.

Bagi petani, persoalan itu bukan sekadar saluran yang rusak. Ketika air berhenti di perjalanan, sawah ikut terancam kehilangan produktivitas.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mukti Tani, Dadang, mengatakan kondisi tersebut sudah dirasakan sekitar empat bulan terakhir. Hampir 50 hektare lahan pertanian yang selama ini produktif kini kesulitan mendapatkan pasokan air.

“Tahun sekarang petani benar-benar mengeluh. Dari hulu sampai hilir banyak yang tidak beres, terutama karena banyak kebocoran. Biasanya musim kemarau empat bulan pun masih bisa produksi, tetapi sekarang petani benar-benar kesulitan,” ujar Dadang, Kamis (01/10/2026).

Saluran yang membentang dari sumber air Sungai Citepus menuju kawasan pertanian memiliki lintasan cukup panjang. Sepanjang jalur tersebut, kebocoran di sejumlah titik membuat debit air semakin berkurang sebelum tiba di lahan petani.

Dari 53 petani yang tergabung dalam Poktan Mukti Tani, sebagian kini tidak bisa lagi mengandalkan sawah seperti kondisi normal.

Pilihan lain pun ditempuh. Sejumlah petani mencoba mencari penghasilan dengan melaut ketika lahan pertanian tidak dapat digarap.

“Kalau sawah tidak bisa ditanami, paling kami ke laut. Namanya juga usaha, tetapi kadang ada hasil, kadang nihil,” katanya.

Petani sebenarnya tidak tinggal diam. Dengan kemampuan seadanya, warga mencoba menutup titik-titik kebocoran menggunakan terpal, plastik, hingga material yang tersedia.

Bahkan, petani sempat mengumpulkan iuran secara sukarela yang nilainya mencapai sekitar Rp6 juta untuk melakukan perbaikan saluran.

Namun, upaya swadaya tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Kerusakan saluran yang terjadi di sejumlah titik membutuhkan penanganan lebih besar.

“Kami berharap ada perbaikan dari instansi terkait. Kalau ada perbaikan, petani siap turun dan bergotong royong karena memang sangat membutuhkan air,” ujar Dadang.

Harapan petani kini mengarah pada rehabilitasi DI Citepus, terutama pada bagian saluran yang mengalami kebocoran dan kerusakan.

“Harapannya secepatnya diperbaiki. Jangan terlalu lama karena petani kasihan. Kami membutuhkan saluran ini supaya bisa kembali berproduksi,” ucapnya.

Juru DI Citepus UPTD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukabumi, Saepul Rohman, membenarkan adanya persoalan kebocoran pada saluran irigasi tersebut.

Menurutnya, DI Citepus yang berada dalam kewenangan UPTD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukabumi memiliki panjang sekitar 3,7 kilometer. Ditambah sekitar satu kilometer saluran yang berada di kawasan pertanian.

“Kebocorannya banyak sehingga air tidak sampai ke lokasi yang membutuhkan, terutama persawahan,” kata Saepul.

Berdasarkan hasil survei, sekitar 30 persen bagian saluran mengalami kerusakan. Sementara sekitar 70 persen lainnya masih dalam kondisi layak.

Kondisi tersebut kini menjadi bahan usulan penanganan. Perbaikan diarahkan pada sejumlah titik yang mengalami kebocoran, retak maupun kerusakan lainnya.

“Pertama kami survei kerusakannya. Setelah itu diusulkan untuk rehabilitasi, terutama bagian yang bocor, retak, dan rusak,” ujarnya.

Meski demikian, Saepul belum dapat memastikan kapan rehabilitasi akan direalisasikan. “Usulan penanganan telah disampaikan dan masih menunggu proses selanjutnya,” tandasnya.

Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan 

Berita Terkait

Purwasari Diterpa Cuaca Ekstrem, 52 Rumah Rusak dan 9 Pohon Tumbang
Identitas Mayat di Bawah Tol Bocimi Belum Terungkap, Kaos Barong Jadi Petunjuk Utama
Pohon Beringin Puluhan Tahun di SMAN 1 Cicurug Tumbang, 12 Kendaraan Tertimpa
Hujan Angin Kencang Rusak SMPN 2 Cicurug, 8 Ruangan Terdampak
Roda Pikap Pengangkut Sayur Lepas di Depan RSUD Sekarwangi, Lalu Lintas Tersendat
Temuan Mayat di Bawah Tol Bocimi Gegerkan Warga Ciambar
Warga Nagrak Meregang Nyawa di Dalam Sumur
Tragis! Ayah dan Anak Meninggal dalam Kecelakaan Tunggal di Panenjoan Ciemas

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:47 WIB

Purwasari Diterpa Cuaca Ekstrem, 52 Rumah Rusak dan 9 Pohon Tumbang

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:57 WIB

Identitas Mayat di Bawah Tol Bocimi Belum Terungkap, Kaos Barong Jadi Petunjuk Utama

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:51 WIB

30 Persen Saluran Rusak, Petani di Palabuhanratu Hadapi Ancaman Gagal Produksi

Rabu, 30 September 2026 - 19:53 WIB

Pohon Beringin Puluhan Tahun di SMAN 1 Cicurug Tumbang, 12 Kendaraan Tertimpa

Rabu, 30 September 2026 - 17:38 WIB

Hujan Angin Kencang Rusak SMPN 2 Cicurug, 8 Ruangan Terdampak

Berita Terbaru