JURNALSUKABUMI.COM – Mewujudkan lingkungan yang kuat dan berkelanjutan di Indonesia masih dihadapkan pada tantangan besar. Berdasarkan data Statistik Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, sekitar 75% atau setara 108.652 ton per hari dari total timbulan sampah nasional masih belum terkelola dengan baik.
Di saat yang sama, sektor industri nasional masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan bakar fosil. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia mencatat bahwa batu bara (41,1%) dan minyak bumi (28,1%) masih mendominasi suplai energi utama nasional, jauh melampaui porsi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang baru mencapai 15,7%.
Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Indonesia meluncurkan berbagai inisiatif strategis. Salah satunya melalui Gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) sebagai gerakan nasional untuk menciptakan kawasan yang bersih dan tertata. Selain itu, pemerintah mendorong percepatan transisi energi lewat program pembangunan Energi Baru dan Terbarukan (EBT), seperti target Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt Peak (GWp) serta memulai pembangunan 34 fasilitas waste-to-energy di 34 kota.
Di tengah meningkatnya tantangan lingkungan di Indonesia, model bisnis linear take-make-dispose tidak lagi mampu untuk menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang. Memahami situasi tersebut, SCG menegaskan komitmennya dalam mentransformasi rantai nilai industri, dari pengelolaan limbah pasif menjadi pemulihan sumber daya (resource recovery) yang memberikan nilai tambah ekonomi (value creation).
Dalam panel diskusi SAFE by Katadata 2026 bertajuk “Closing the Loop: Circular Economy as Competitive Advantage” yang berlangsung pada Senin (17/8) di Sequis Tower, Jakarta, SCG menegaskan bahwa penerapan prinsip ekonomi sirkular berbasis Inclusive Green Growth merupakan strategi utama perusahaan untuk memperkuat daya saing bisnis sekaligus mengakselerasi target perusahaan untuk mencapai Net Zero 2050. Pada kesempatan tersebut, SCG memaparkan wujud nyata praktik sirkularitas yang diimplementasikan anak perusahaannya, mulai dari sistem waste-to-value dalam produksi semen di PT Semen Jawa hingga circular production & sourcing model oleh PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FajarPaper).
President Director PT Semen Jawa, Anawat Pornpunyapat, menyampaikan, “SCG mengambil pendekatan progresif dalam pengelolaan sampah. Kami tidak hanya memitigasi dan mengurangi limbah, tetapi juga mengubahnya menjadi peluang penciptaan nilai baru (value creation). Ekonomi sirkular memungkinkan kami memperkuat ketahanan operasional sekaligus menghadirkan produk-produk berstandar hijau bagi pasar. Ini merupakan komitmen kami untuk menjadi mitra pembangunan nasional dalam mengubah sampah kota menjadi nilai bisnis serta mewujudkan Indonesia yang lebih lestari dan berkelanjutan”. ujarnya dalam keterangan yang diterima jurnalsukabumi.com, Jumat (18/9/2026).
Dalam kesempatan yang sama, SCG berhasil mendapatkan penghargaan KataData ESG insight (KESGI) 2026. Dalam momen tersebut, perusahaan menerima Apresiasi Inisiatif Tata Kelola Berkelanjutan dalam sektor material konstruksi. Penghargaan ini merupakan apresiasi terhadap komitmen perusahaan dalam memperkuat tata kelola yang berkelanjutan melalui integrasi kerangka International Sustainability Standards Board (ISSB) ke dalam pengawasan Dewan Direksi serta penguatan transparansi data. Apresiasi tersebut menegaskan komitmen SCG terhadap inisiatif ESG yang berdampak dan transparan, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku industri, hingga masyarakat.
SCG Integrasikan Sistem Ekonomi Sirkular, Ubah Tantangan Jadi Peluang
Lonjakan volume sampah perkotaan menjadi tantangan lingkungan yang krusial di Indonesia. Tingginya beban pengelolaan sampah nasional juga dirasakan di tingkat daerah. Salah satu contohnya adalah Kabupaten Sukabumi, di mana Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Cimenteng mengalami overload akibat timbulan sampah yang mencapai 301.855 ton per tahun. Di saat bersamaan, industri manufaktur seperti semen dihadapkan pada urgensi mendesak untuk menekan emisi karbon dan mengalihkan ketergantungan dari energi fosil.
SCG, pemimpin bisnis regional, mengintegrasikan sistem circular economy atau ekonomi sirkular di berbagai lini bisnisnya di Indonesia. Penerapan teknologi Alternative Fuel & Alternative Raw Material (AF/AR) serta operasional fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF) di PT Semen Jawa, produsen Semen SCG, menjadi salah satu wujud nyatanya. Mengusung model Public-Private-People Partnership (4P), SCG berkolaborasi dengan pemerintah daerah, pelaku industri, hingga masyarakat Kabupaten Sukabumi untuk mentransformasi sampah menjadi sumber daya alternatif. Sistem waste-to-value ini mengolah sampah perkotaan melalui tahap sorting, shredding, dan screening menjadi bahan bakar alternatif untuk kiln semen. Inisiatif ini turut diperkuat oleh gerakan masyarakat “SCG Mentari” (Menjaga Lingkungan Tetap Lestari) yang mengedukasi warga dalam melakukan pemilahan sampah dari rumah. Lewat penggunaan AF/AR tersebut, SCG menghadirkan produk ramah lingkungan seperti Semen SCG dan Semen Bezt Eco-Friendly yang meraih sertifikasi Green Label Gold dari Green Product Council Indonesia (GPCI).
Di lini bisnis kemasan, PT Fajar Surya Wisesa Tbk. (FajarPaper) mengintegrasikan sistem pengumpulan dan pengolahan kertas bekas secara komprehensif. Perusahaan memperkuat ekosistem pengumpulan (Upstream Collaboration) melalui Waste Bank Development Program dengan merangkul masyarakat, area pemukiman, dan jaringan koperasi/badan usaha milik desa. Untuk meningkatkan keandalan mitra, FajarPaper melakukan sosialisasi kualitas Kertas Daur Ulang (KDU), serta mengimplementasikan digitalisasi operasional berbasis QR Code. Selain itu, FajarPaper juga mengedukasi generasi muda melalui program pemilahan sampah di sekolah-sekolah. Dari sisi produksi, perusahaan mengaplikasikan circular production & sourcing model di mana material KDU didaur ulang untuk memproduksi kertas kemasan yang berkualitas tinggi, seperti Container Board (FajarMedium & FajarLiner), dan Duplex (FajarPerformaBoard), memperpanjang masa guna material KDU serta menjaganya agar tetap dapat dimanfaatkan secara produktif dalam jangka panjang.
Ekonomi Sirkular SCG: Efisiensi Operasional dan Dampak Lingkungan Nyata
Penerapan ekonomi sirkular di rantai nilai SCG memberikan dampak nyata terhadap kinerja dan efisiensi operasional perusahaan. Dari sisi hulu produksi Semen & Bahan Bangunan (Cement & Building Materials), fasilitas RDF yang dioperasikan oleh SCG melalui PT Semen Jawa berhasil memproses lebih dari 62.790 ton sampah perkotaan menjadi energi alternatif. Pada tahun 2026, pemanfaatan bahan bakar alternatif (AF) di PT Semen Jawa mencatatkan heat substitution (TSR) sebesar 35% dan penggunaan bahan baku alternatif (AR) mencapai 9,4% secara berat. Dari sisi hilir, penggunaan produk Semen SCG terbukti membantu menekan emisi hingga sekitar 50 kg CO₂ per ton semen. Secara jangka panjang, SCG menargetkan peningkatan substitusi bahan bakar alternatif hingga 70% pada tahun 2030 sebagai bentuk komitmen terhadap target Net Zero 2050.
Dari lini perusahaan kemasan, FajarPaper berhasil memanfaatkan sekitar 1,23 juta ton recycled paper sebagai bahan baku produksi pada tahun 2025. Respon positif pasar terhadap produk kemasan daur ulang ini mendorong kenaikan total produksi FajarPaper dari 1,06 juta ton (2024) menjadi 1,12 juta ton (2025), atau tumbuh sebesar 5,5% Year-on-Year (YoY).
“Pengalaman SCG menunjukkan bahwa skala ekonomi sirkular hanya dapat diperluas apabila seluruh pemangku kepentingan berkontribusi di sepanjang rantai nilai. Ke depannya, kami akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan ekosistem bisnis yang efisien, berdaya saing, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan serta masyarakat,” tutup Anawat. (*).











