JURNALSUKABUMI.COM – Sehari-hari terbiasa dengan dunia kesehatan, jarum suntik, infus hingga berbagai aktivitas pelayanan kebidanan. Namun, Fitria Aryani memilih mencoba sesuatu yang jauh dari bidang yang selama ini ditekuninya.
Perempuan 28 tahun asal Desa Cikangkung itu kini justru menghabiskan sebagian waktunya di tengah hamparan tanaman cabai di Kampung Cikanyere, Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi.
Fitria merupakan lulusan kebidanan. Di tengah kesibukannya sebagai seorang ibu dengan satu anak laki-laki, ia bersama sang suami membangun usaha di sektor pertanian.
Ketertarikannya terhadap pertanian sebenarnya berawal dari hobi. Fitria mengaku sejak awal memang memiliki ketertarikan untuk bertani, hingga akhirnya hobi tersebut mendorongnya mencoba lebih serius menanam cabai.
“Menanam cabai ini awalnya karena hobi bertani. Dari hobi itu kemudian kami coba tekuni dan ternyata bisa menjadi peluang usaha bersama,” kata Fitria.
Kini, sekitar 2.000 pohon cabai dikelolanya bersama sang suami. Tanaman tersebut menjadi bagian dari usaha yang mereka bangun secara bertahap, meski latar belakang pendidikan Fitria sama sekali bukan dari bidang pertanian.
“Bertani bukan sekadar mencoba pekerjaan baru. Kami melihat pertanian sebagai peluang yang bisa dikembangkan bersama keluarga,” ujarnya.
Peralihan dari dunia kebidanan ke pertanian membuat Fitria harus beradaptasi dengan banyak hal. Jika sebelumnya terbiasa berhadapan dengan pasien dan perlengkapan medis, kini ia harus memahami tanaman, perawatan, hingga kondisi hasil panen.
Menurutnya, dunia pertanian memiliki tantangan tersendiri. Mulai dari merawat tanaman, menghadapi perubahan kondisi tanaman hingga memastikan cabai dapat tumbuh dan menghasilkan panen yang baik.
“Pilihan ini menunjukkan bahwa pekerjaan tidak selalu harus terpaku pada bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikan,” terangnya.
Dengan ketekunan dan kemauan belajar, Fitria mencoba menjadikan lahan pertanian sebagai ruang baru untuk berkembang bersama keluarganya. Hobi yang awalnya sekadar menjadi aktivitas yang disukai, perlahan mulai diarahkan menjadi usaha yang memiliki nilai ekonomi.
Saat ini harga cabai berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram. Nilai tersebut menjadi salah satu peluang ekonomi yang ingin dimanfaatkan Fitria dan suaminya dari usaha pertanian yang mereka jalankan.
“Pengalaman ini menjadi perjalanan baru. Dari dunia kebidanan yang penuh dengan pelayanan kesehatan, kini belajar menghadapi tantangan lain di sektor pertanian,” tuturnya.
Bagi Fitria, perbedaan latar belakang pendidikan bukan alasan untuk membatasi diri dalam mencoba sesuatu yang baru. Justru dari hobi dan kemauan belajar, ia menemukan peluang lain yang bisa dikembangkan bersama keluarga.
Fitria membuktikan bahwa latar belakang pendidikan bukan batas untuk mencoba peluang baru.
“Selama ada kemauan belajar dan keberanian memulai, bidang yang awalnya terasa asing pun bisa menjadi jalan untuk membangun usaha keluarga,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











