Dari Game ke Empati: Pengaruh Pembatasan Bermain Game Online terhadap Kecerdasan Emosional Anak

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ai Elis Yuliati, S.Kom.,M.Pd. (Dosen Politeknik Istikom Bina Citra Informatika dan Guru Lembaga Pendidikan ‘Ainul Hayat Sukabumi)

Anak-anak generasi saat ini sangat dekat dengan gawai, internet hingga permainan daring, indikasi dari hal tersebut karena mereka tumbuh di era teknologi digital yang perkembangannya sangat cepat. Game online sudah bukan lagi sebagai hiburan, namun keberadaannya sudah sangat melekat dan menjadi gaya hidup, bahkan menjadi aktualisasi diri mereka (anak-anak). Bagi sebagian anak, penggunaan game online mungkin sebagai upaya melatih konsentrasi, strategi bahkan melatih kerja sama tim. Akan tetapi jika penggunaannya tidak diiringi dengan kontrol yang baik oleh orang tua maka akan memengaruhi perkembangan emosional anak.

Menurut Erfa Saeh Rohman & Ageng Saepudin Kanda S. (2024) menyatakan “Semakin tinggi intensitas bermain game online maka semakin rendah tingkat kecerdasan emosional remaja.”

Secara ilmiah kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, mengendalikan, dan mengekspresikan emosi dengan tepat dan juga berempati atau memahami perasaan orang lain. Anak yang memiliki kecerdasan emosional yang baik mampu menahan amarah, menghargai orang lain dan berpikir sebelum bertindak. Namun sebaliknya, anak yang sudah kecanduan game online akan mengalami penurunan interaksi sosial langsung dan sulit belajar empati.

Dhiya Aulia Hanifah, Dingot Hamonangan Ismail, & Muhammad Yusuf Akbar (2024) dalam artikelnya menuturkan “Game online yang berlebihan berpengaruh negatif terhadap perubahan perilaku emosional anak.”

Penelitian Anggita Apriliyani (2020) mengungkapkan “Terdapat hubungan negatif dan signifikan antara intensitas bermain game online dengan kecerdasan emosional.”

Pada kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari, anak yang dibatasi dalam penggunaan gadget terutama game online mudah marah, sulit fokus dan minim interaksi dengan lingkungan sekitar. Akibatnya anak akan mengalami penurunan kecerdasan emosional dan tinggi sensitivitas sosial karena lebih sering menyendiri dan berinteraksi dengan layar gadget yang memiliki radiasi tinggi.

Contoh kasus pada tahun 2024 di Kecamatan Doko Blitar, seorang anak ditemukan oleh orang tuanya mengakhiri hidup dengan gantung diri. Yang menjadi miris adalah pemicunya dikarenakan handphone miliknya disita oleh orang tuanya. Masih di tahun yang sama, kasus tragis kakak beradik asal Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember yang mengalami Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ) akibat kecanduan gawai dan game online.

Dari kedua kasus tersebut, dapat disimpulkan bahwa untuk melakukan pembatasan game online terhadap anak dengan mulai dari pembatasan waktu penggunaan, ataupun membatasi instalasi aplikasi pada gadget. Karena pembatasan gadget terhadap anak bukan berarti melarang sepenuhnya untuk tidak menggunakan teknologi.

Fenomena ini diperkuat oleh penelitian tentang perkembangan sosial emosional anak usia dini yang menunjukkan bahwa penggunaan game online berlebihan dapat memunculkan perilaku agresif, sulit mengontrol emosi, hingga meniru perilaku kasar dalam permainan. (Annisa Thaharah & Farida Mayar).

John W. Santrock (Life-Span Development, 2019) menjelaskan bahwa perkembangan sosial-emosional anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan, pola interaksi, dan aktivitas sehari-hari. Anak usia sekolah membutuhkan komunikasi interpersonal yang sehat untuk membentuk kemampuan memahami perasaan orang lain dan mengendalikan emosi.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak (KPAI) Erlinda mengatakan, game online yang mengandung unsur kekerasan sangat berdampak buruk bagi anak. Sebab game tersebut dapat memunculkan perilaku agresif pada anak. Meski begitu, tambah Erlinda, peran orang tualah yang penting agar anak-anak tidak kecanduan game. Dikutip dalam laman sahabat keluarga kemendikbud dinyatakan sebanyak 15 game mengandung kekerasan dan berbahaya bagi anak-anak.

Dalam melakukan pembatasan penggunaan game online harus disertakan pemberian edukasi yang baik terhadap anak, mulai dari memahamkan dampak negatif dari penggunaan yang berlebihan.

Di kecamatan Sukorambi, Jember, seorang ayah (41) menyekap anak laki-lakinya yang masih duduk di kelas 6 SD di sebuah kandang ayam tanpa busana akibat bermain game online berlebihan. Sebelum disekap anak tersebut menerima kekerasan fisik dari sang ayah, bahkan jempol tangannya sampai diikat.

Dari perlakuan tersebut mungkin saja anak akan berhenti bermain game online, akan tetapi dampak buruknya bisa menyerang psikologis anak dengan trauma yang membekas, dan berdampak pada perkembangan emosional anak terutama interaksi sosialnya.

Pembatasan bermain game online sebagai upaya membangun kesehatan kecerdasan emosional anak. Orang tua bukan hanya berperan sebagai pengawas, tetapi sebagai pendamping dalam memberikan pemahaman terhadap anak untuk mengatur dirinya kapan waktu belajar, bermain dan bagaimana menggunakan teknologi dengan baik dan sehat tanpa menghilangkan waktu anak untuk belajar teknologi terutama dibidang literasi digital. Anak memahami pola penggunaan teknologi dengan bijak dan seimbang akan memiliki kemampuan empati yang tinggi karena mereka mendapatkan pengalaman berinteraksi secara langsung dan bermakna.

Daftar Pustaka:

Erfa Saeh Rohman & Ageng Saepudin Kanda S. (2024). Intensitas Bermain Permainan Online terhadap Kecerdasan Emosional. E-Jurnal Kampus Akademik.

Anggita Apriliyani. (2020). Hubungan Intensitas Bermain Permainan Online dengan Kecerdasan Emosional. ResearchGate.

Annisa Thaharah & Farida Mayar. (2022). Dampak Game Online terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini. Journal Fakultas Agama Islam.

Santrock, John W. (2019). Life-Span Development. New York: McGraw-Hill Education.

SINDONews. (2024, Mei 7). Diduga Kecanduan Gadget Kakak Beradik alami Gangguan Jiwa Kecanduan Gadget. Postingan Youtube. https://www.youtube.com/watch?v=RkmJDo_wDFs

Detikjatim. (2024, Juni 16). Akhir Hidup Pelajar di Blitar gegara Kecanduan Game Online. https://www.detik.com/jatim/berita/d-7393246/akhir-hidup-pelajar-di-blitar-gegara-kecanduan-game-online.

Komisi Perlindungan Anak (KPAI). (2026, April 24). KPAI Dukung Game Online Berbahaya bagi Anak Diblokir. https://www.kpai.go.id/publikasi/kpai-dukung-game-online-berbahaya-bagi-anak-diblokir.

 

 

 

Berita Terkait

Pesta Babi, Animal Farm, dan Cermin Masa Depan Bangsa
Pelemahan Rupiah dan Mendesaknya Penetapan RUU Migas
Kemudahan yang Menjerat: Krisis Pengelolaan Keuangan di Era Pinjaman Cepat
Menjemput Berkah di Tengah Badai Geopolitik: Jihad Ekonomi, Budaya, dan Spiritual Kabupaten Sukabumi
Di Balik Senyum Siswa Sukabumi: Rasa Syukur atas Kehadiran Heri Gunawan
Semangat Kartini yang Tak Pernah Usai di Ujung Pengabdian
Lingkaran Setan di Kawasan Industri: Saat ATM Buruh Berpindah ke “Koperasi” Darah
Idul Fitri dan Wajah Baru Keadilan Pidana

Berita Terkait

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:39 WIB

Dari Game ke Empati: Pengaruh Pembatasan Bermain Game Online terhadap Kecerdasan Emosional Anak

Minggu, 17 Mei 2026 - 10:55 WIB

Pesta Babi, Animal Farm, dan Cermin Masa Depan Bangsa

Sabtu, 16 Mei 2026 - 12:57 WIB

Pelemahan Rupiah dan Mendesaknya Penetapan RUU Migas

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:17 WIB

Kemudahan yang Menjerat: Krisis Pengelolaan Keuangan di Era Pinjaman Cepat

Minggu, 10 Mei 2026 - 22:17 WIB

Menjemput Berkah di Tengah Badai Geopolitik: Jihad Ekonomi, Budaya, dan Spiritual Kabupaten Sukabumi

Berita Terbaru

Pendidikan

Kang Anom: PWI Siap Jadi Pengawas SPMB Bersih di Sukabumi

Rabu, 27 Mei 2026 - 01:34 WIB