JURNALSUKABUMI.COM – Penentuan awal puasa Ramadan masih menunggu hasil pemantauan hilal lanjutan yang dijadwalkan kembali dilakukan esok hari. Jika pada pengamatan kedua hilal berhasil teramati atau secara hisab telah memenuhi kriteria, awal puasa diperkirakan akan jatuh pada Kamis 19 Februari 2026.
Astrofotografer dari Planetarium Jakarta, Muhammad Raihan, menjelaskan bahwa timnya secara rutin melakukan pengamatan hilal di berbagai lokasi yang dinilai ideal, termasuk wilayah pesisir Sukabumi. Pemilihan lokasi jauh dari perkotaan menjadi faktor penting demi mendapatkan hasil observasi yang lebih akurat.
“Secara program, kami memang sudah mengagendakan dan menganggarkan pengamatan hilal sebanyak lima kali dalam setahun, mulai dari Ramadan, Syawal, Dzulhijjah, Muharram, hingga Rabiul Awal. Kegiatan ini bagian dari dukungan kami terhadap penetapan waktu ibadah umat Islam,” ujar Raihan, Selasa (17/2/2026).
Menurutnya, pengamatan di Sukabumi dipilih karena kondisi lingkungannya yang relatif bersih dari polusi udara dan minim gangguan cahaya. Berbeda dengan Jakarta yang dipenuhi gedung tinggi dan lalu lintas padat, kawasan pesisir selatan Sukabumi dinilai lebih ideal untuk mengamati posisi bulan di ufuk barat.
Pada pemantauan hari pertama, tim membawa tujuh personel lengkap dengan perangkat teleskop dan kamera beresolusi tinggi. Dua teleskop digunakan dengan fungsi berbeda, satu untuk pemotretan astrofotografi sebagai data ilmiah, dan satu lagi untuk kebutuhan siaran langsung.
“Kami tidak hanya melakukan pengamatan langsung, tetapi juga live streaming melalui kanal YouTube Planetarium Jakarta. Jadi masyarakat bisa ikut menyaksikan proses pemantauan hilal secara real time,” jelasnya.
Raihan menambahkan, jika pada hari pertama hilal tidak terlihat sesuai prediksi hisab maka pengamatan akan dilanjutkan pada hari kedua yakni Rabu 18 februari. Apabila kemudian diputuskan oleh Kementerian Agama bahwa bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari, maka awal puasa otomatis bergeser satu hari.
“Karena itu pengamatan besok sangat penting. Hilal memang tidak selalu bisa diamati dengan mata telanjang, sehingga kami menggunakan teleskop dan kamera yang sensitif terhadap cahaya untuk memastikan posisi bulan secara presisi,” tandasnya.
Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan











