Kisah Pilu Rahmat, Warga Sukabumi yang Sempat Ditolak RS Gara-Gara BPJS Nonaktif

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 16:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Rahmat (44), seorang warga Kampung Bojonggaling, Desa Kebonpedes, Sukabumi, kembali harus berjuang di ambang batas.

Tubuhnya kian ringkih, tergerogoti komplikasi penyakit serius: gagal ginjal stadium 2, gangguan paru-paru, dan diabetes.

Pada Sabtu siang (18/10/2025), Rahmat dievakuasi oleh warga dan petugas desa menuju RSUD. Syamsudin, SH di Kota Sukabumi.

Namun, di balik langkah evakuasi itu tersimpan kisah pilu perjuangan panjang.

Saat kondisinya memburuk, Rahmat sempat tidak bisa mengakses perawatan medis.

Sebab, data BPJS Kesehatan APBN miliknya dinonaktifkan oleh pusat. Harapan seolah meredup, terbentur birokrasi yang tak berpihak.

Beruntung, kabar ini sampai ke telinga Kepala Desa Kebonpedes, Dadan Apriandani. Dadan segera turun tangan, mengurus reaktivasi BPJS Rahmat melalui jalur bantuan pemerintah daerah.

Setelah melalui upaya dan waktu, BPJS itu akhirnya aktif kembali, memungkinkan Rahmat kembali mendapat perawatan.

“Alhamdulillah setelah kita upayakan kemarin melalui Dinas Sosial akhirnya keluar dan aktif. Sekarang kondisinya (Rahmat) sudah kita bawa ke Bunut untuk mendapatkan penanganan medis,” ujar Kades Dadan.

Meski kini dirawat intensif, derita Rahmat tak hanya soal medis. Di rumah, keluarganya terhimpit tekanan ekonomi yang mendalam.

Sebelum sakit, Rahmat adalah pekerja serabutan, mulai dari mengecat, memikul hasil panen, hingga kuli bangunan—berjuang demi menafkahi istri dan tiga anaknya yang masih sekolah.

Namun, komplikasi penyakit kini membuatnya tak berdaya, menghentikan total pemasukan keluarga.

Beban makin berat karena kebutuhan sekolah anak-anak masih harus dipenuhi meski penghasilan terhenti total.

Dadan menyebut pihak desa telah menyalurkan BLT Dana Desa dan sembako, namun ia mengakui bantuan tersebut jauh dari cukup untuk menopang kehidupan jangka panjang.

“Ini bukan hanya soal berobat, ini soal bagaimana keluarganya bisa tetap bertahan. Anaknya masih sekolah, sementara dapur mereka tak selalu bisa mengepul setiap hari,” tutur Dadan.

Pihak desa berharap ada uluran tangan lebih lanjut dari pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi, serta para dermawan.

Mereka mengajak bergotong royong agar Rahmat dapat kembali sehat, dan keluarganya bisa terlepas dari jerat kesulitan ekonomi.

“Mereka butuh bantuan khusus, tidak hanya untuk biaya pengobatan, tetapi juga kebutuhan hidup sehari-hari. Ini saatnya kita bergotong royong membantu sesama,” pungkasnya.

Reporter: Fira AFS | Redaktur: Ujang Herlan

Berita Terkait

Rumah Bilik Bambu Milik Kakek 72 Tahun di Bojongpari Hangus Terbakar ‎
Dari Stok 20 Tahun, Cadangan Padi Adat Ciptamulya Diprediksi Tinggal 5 Tahun Usai Kebakaran
Di Balik Puing Ciptamulya, Mak Utiah Cari Sisa Barang dari Rumah yang Hilang
Nyaris Maut! Kendaraan Bak Angkut Orang Tertimpa Pohon di Cikakak
Leuit Kasepuhan Ciptamulya Tinggal Arang, Warga Berjuang Amankan Cadangan Pangan
420 Jiwa Mengungsi Usai Kebakaran Ciptamulya, 70 Rumah Warga Ludes Terbakar
Api Cepat Merambat di Ciptamulya, Kodim 0622 Sukabumi Bantu Kendalikan Kebakaran
Kasepuhan Ciptamulya Terbakar Hebat, Rumah Adat hingga Permukiman Ludes

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 10:37 WIB

Dari Stok 20 Tahun, Cadangan Padi Adat Ciptamulya Diprediksi Tinggal 5 Tahun Usai Kebakaran

Minggu, 26 Juli 2026 - 16:54 WIB

Di Balik Puing Ciptamulya, Mak Utiah Cari Sisa Barang dari Rumah yang Hilang

Minggu, 26 Juli 2026 - 12:28 WIB

Nyaris Maut! Kendaraan Bak Angkut Orang Tertimpa Pohon di Cikakak

Minggu, 26 Juli 2026 - 11:56 WIB

Leuit Kasepuhan Ciptamulya Tinggal Arang, Warga Berjuang Amankan Cadangan Pangan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 21:25 WIB

420 Jiwa Mengungsi Usai Kebakaran Ciptamulya, 70 Rumah Warga Ludes Terbakar

Berita Terbaru