JURNALSUKABUMI.COM – Ratusan warga Desa Munjul, Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi, menggelar aksi protes di kantor desa pada Senin (29/09/2025) kemarin.
Mereka menuntut kejelasan dan eksekusi segera pembangunan jalan pengganti yang terputus total akibat Proyek Tol Bogor–Ciawi–Sukabumi (Bocimi) Seksi 3.
Ketegangan ini memuncak karena masalah akses warga yang vital telah berlarut-larut sejak musyawarah pertama pada Januari 2024, namun hingga sembilan bulan kemudian tidak ada realisasi konkret.
Warga merasa hanya diberi janji tanpa kepastian oleh pihak terkait, termasuk perwakilan PT KDA dan PT Waskita, sehingga memicu hilangnya kepercayaan publik.
Rudi Kurniawan (43), perwakilan warga Kampung Tegal Lega, menyatakan terputusnya akses yang menghubungkan Kampung Tegal Lega, Sekarsari, dan Cibuluh ini telah mengganggu lebih dari 100 jiwa.
“Ini masalah sudah terlalu lama. Sejak Januari lalu sudah ada musyawarah, tapi tidak ada realisasi. Warga hanya diberi janji-janji tanpa kepastian,” kata Rudi pada Rabu (01/10/2025).
Warga juga menyoroti bahaya keselamatan yang mereka hadapi setiap hari. Jalan yang tersisa sangat sempit, hanya sekitar tiga meter, dan harus berbagi dengan lalu lintas alat berat proyek.
Bahkan, sudah terjadi insiden material proyek nyaris menimpa pengguna jalan.
“Pernah ada warga yang nyaris tertimpa besi saat melintas dengan motor. Itu bukti bahwa aktivitas proyek benar-benar mengancam keselamatan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa situasi ini bukan sekadar soal infrastruktur, tetapi menyangkut kehidupan sehari-hari dan keselamatan masyarakat.
Dalam audiensi yang berlangsung alot, warga memutuskan bertahan di balai desa hingga ada kepastian tertulis.
Pihak desa dan kecamatan diapresiasi atas ketegasannya, namun Rudi menilai perwakilan yang diutus kontraktor tidak memberikan kepastian.
Warga kini memberikan ultimatum keras. Jika tidak ada penandatanganan kesepakatan eksekusi jalan pengganti, masyarakat siap turun ke lapangan untuk berdemo.
“Kami sudah terlalu lama menunggu. Kalau besok tidak ada eksekusi jalan pengganti, masyarakat siap turun ke lapangan melakukan aksi demo,” tandasnya.
Warga menegaskan bahwa mereka tidak menolak pembangunan tol, tetapi mendesak agar hak dan keselamatan mereka diprioritaskan.
“Kami sudah menunggu terlalu lama, masalah jalan pengganti ini menunjukkan kurangnya komitmen dan kepedulian dari pihak perusahaan,” tandasnya.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan belum ada penjelasan resmi pihak PT KDA dan PT Waskita.
Reporter: Fira AFS | Redaktur: Ujang Herlan












