Palabuhanratu Identik Kota Ikan, Kini Nelayan Justru Makin Sulit Mendapat Tangkapan

Jumat, 10 Juli 2026 - 13:50 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Laut Palabuhanratu yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan hidup ribuan nelayan kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Bukan hanya soal cuaca yang sulit diprediksi, tetapi juga perubahan lingkungan, kualitas perairan, hingga berkurangnya stok ikan yang masuk ke kawasan teluk.

Ketua DPC HNSI Kabupaten Sukabumi, H Dede Ola, mengatakan kondisi perikanan saat ini berbeda jauh dibanding beberapa tahun lalu. Nelayan yang sebelumnya bisa memperkirakan musim ikan, kini harus menghadapi ketidakpastian akibat perubahan pola cuaca.

“Dulu nelayan bisa memperkirakan kapan musim ikan, kapan musim hujan, dan kapan musim kemarau. Sekarang semuanya berubah karena pancaroba yang tidak menentu,” ujarnya, Jumat (10/7/2026).

Menurut Dede, secara alami musim kemarau biasanya menjadi waktu terbaik bagi nelayan karena kadar garam laut meningkat. Kondisi tersebut membuat ikan-ikan yang biasanya berada di perairan lebih dalam bergerak mendekati wilayah pesisir dan teluk.

Namun kondisi itu tidak lagi berjalan seperti sebelumnya. Kehadiran ikan di Teluk Palabuhanratu kini dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan.

Salah satunya adalah persoalan kualitas lingkungan laut. Aktivitas manusia yang semakin meningkat di kawasan pesisir dinilai ikut memberikan tekanan terhadap ekosistem laut.

“Dulu limbah rumah tangga masih sederhana. Sekarang aktivitas masyarakat, hotel, usaha, dan berbagai kegiatan lainnya semakin banyak. Ini tentu berpengaruh terhadap kondisi perairan,” katanya.

Selain itu, keberadaan ikan migrasi yang biasanya masuk dari perairan lepas ke Teluk Palabuhanratu juga sangat bergantung pada ketersediaan pakan alami di dalam teluk.

Menurut Dede, perdebatan mengenai rumpon yang selama ini dianggap menghambat jalur migrasi ikan perlu dikaji secara ilmiah. Sebab, rumpon pada dasarnya juga dapat menjadi tempat berkumpulnya ikan.

“Pertanyaannya bukan hanya soal ikan masuk atau tidak masuk ke teluk. Kalau ikan sudah masuk, apakah di dalam teluk tersedia makanan yang cukup? Kalau tidak ada pakan, ikan juga tidak akan bertahan lama,” jelasnya.

Karena itu, ia menilai penyebab berkurangnya ikan tidak bisa disederhanakan hanya pada satu faktor tertentu. Dibutuhkan penelitian yang komprehensif agar pemerintah dan masyarakat memperoleh gambaran yang jelas mengenai kondisi perairan Palabuhanratu.

Di sisi lain, HNSI juga menyoroti aktivitas penangkapan ikan oleh kapal-kapal dari luar daerah yang beroperasi di perairan Sukabumi. Kondisi tersebut dinilai berdampak terhadap stok ikan yang selama ini menjadi sumber penghidupan nelayan lokal.

“Sangat berpengaruh. Ketika ikan ditangkap di perairan Sukabumi lalu dibawa dan didaratkan ke daerah lain, maka manfaat ekonominya juga ikut keluar dari Sukabumi,” ungkapnya.

Dampaknya tidak hanya dirasakan nelayan, tetapi juga para pedagang ikan, pelaku usaha perikanan, hingga pasar-pasar tradisional yang selama ini bergantung pada pasokan hasil tangkapan nelayan lokal.

Menurut Dede, keberlanjutan sektor perikanan tidak cukup hanya mengandalkan hasil tangkapan. Pemerintah juga perlu menyiapkan langkah jangka panjang, mulai dari menjaga kualitas lingkungan laut, memperkuat sarana perikanan, hingga membuka alternatif mata pencaharian bagi nelayan saat musim paceklik tiba.

“Yang terpenting sekarang bagaimana laut tetap terjaga dan nelayan tetap bisa hidup. Karena ketika ikan semakin sulit didapat, yang terdampak bukan hanya nelayan, tetapi seluruh rantai ekonomi perikanan di Palabuhanratu,” tandasnya.

Reporter: Ilham Nugraha | Redaktur: Ujang Herlan

Berita Terkait

Terima Aset Rampasan KPK Rp1,94 Miliar, Bupati Sukabumi: Ini Amanah
Buaya 70 Kg Terjerat Jaring di Sungai Cibubuay, Warga Simpenan Sebut Ada Buaya Kedua
Dikenal Kerap Isi Pengajian, Pria di Nyalindung Sukabumi Diduga Cabuli 7 Anak
Nelayan Temukan Jasad Mengapung, Ternyata Pelajar Hilang Terseret Ombak 4 Hari Lalu
Pengerukan Tanah Merah Belum Berizin Kembali Disorot, BEM PTNU Desak Penghentian Sementara!
Pelantikan PWI Jabar, KDM Tekankan Peran Pers Perangi Hoaks
Tegaskan Arahan KDM, Aktivitas Pengerukan Tanah Merah di Nagrak Disidak
Purwasari Diterpa Cuaca Ekstrem, 52 Rumah Rusak dan 9 Pohon Tumbang

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:55 WIB

Terima Aset Rampasan KPK Rp1,94 Miliar, Bupati Sukabumi: Ini Amanah

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:35 WIB

Buaya 70 Kg Terjerat Jaring di Sungai Cibubuay, Warga Simpenan Sebut Ada Buaya Kedua

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:42 WIB

Dikenal Kerap Isi Pengajian, Pria di Nyalindung Sukabumi Diduga Cabuli 7 Anak

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:30 WIB

Nelayan Temukan Jasad Mengapung, Ternyata Pelajar Hilang Terseret Ombak 4 Hari Lalu

Minggu, 4 Oktober 2026 - 15:08 WIB

Pengerukan Tanah Merah Belum Berizin Kembali Disorot, BEM PTNU Desak Penghentian Sementara!

Berita Terbaru