Tiga Kampung di Desa Sukasirna Cibadak ‘Dikepung’ Banjir

Senin, 14 April 2025 - 11:55 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JURNALSUKABUMI.COM – Tiga kampung di Desa Sukasirna, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi ‘dikepung’ banjir. Air bahkan sempat mencapai ketinggian setengah meter di beberapa titik pemukiman warga hingga lahan areal pesawahan.

Kepala Desa Sukasirna, Deni Riswandi mengatakan, peristiwa ini terjadi sejak sore hingga malam pada Minggu (13/04/2025). Bahkan, banjir memang kerap terjadi saat hujan deras, namun intensitasnya kali ini tergolong parah.

“Data saat ini ada tiga kampung terdampak, Kampung Pangasahan, Babakan Banten, dan Kampung Cieurih. Rinciannya, enam rumah terendam. Sementara lahan pertanian diperkirakan mencapai 30 hektare, semuanya baru ditanami,” jelas Deni, Senin (14/04/2025) pagi.

Ia mengatakan bajir terjadi, selain faktor alam, ada juga pengaruh dari perkebunan sawit yang saat ini kondisinya sedang mati, jadi sisa airnya mengalir ke perkampungan. Lalu, kata deni, penyempitan sungai akibat aktivitas warga juga menjadi penyebab memburuknya situasi. Sungai yang dulunya memiliki lebar empat meter, kini menyusut hanya menjadi satu meter, dengan kedalaman yang juga menurun.

“Mungkin karena warga yang menggarap sawah ingin memperluas lahan pertanian, akhirnya badan sungai ikut dikorbankan. Sungai jadi makin kecil, ini yang harus segera diantisipasi. Harus ada pelebaran sungai dan pembersihan sampah,” ujarnya.

Masih kata Deni, untuk penanganan sementara, pemerintah desa akan melakukan evakuasi bagi warga yang terdampak parah, serta menggerakkan masyarakat untuk membersihkan saluran air dan sampah setelah air surut.

“Kami dari pemerintah desa akan terus memantau kondisi. Jika cuaca ekstrem terus berlanjut, evakuasi akan dilakukan. Setelah kondisi membaik, fokus kami adalah pada pembersihan dan pelebaran aliran sungai,” paparnya.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat di Kampung Babakan Banten, Desa Sukasirna, Kecamatan Cibadak, Endang mengatakan, banjir terjadi dari aliran Sungai Cipangasahan dan Sungai Babakan Banten yang meluap. Selain itu, banjir diduga dipicu adanya aktivitas di kawasan perkebunan sawit, selain curah hujan tinggi, kondisi lingkungan sekitar turut memperparah dampak banjir.

“Kondisi semakin buruk ketika aliran listrik padam, membuat warga tidak menyadari meluapnya air hingga memasuki rumah-rumah. Semua perabotan, termasuk alat elektronik, kasur, kursi, terendam air. Kami hanya bisa berbenah sebisanya dalam gelap,” kata Endang.

Ia juga menambahkan, bahwa banjir kali ini menyerupai kejadian serupa yang terjadi pada tahun 2024, yang disebut sebagai awal dari rentetan banjir di wilayah tersebut.

“Dulu-dulu tidak pernah banjir. Tapi sejak tahun lalu mulai terlihat tanda-tandanya. Menurut saya, ini karena penggundulan hutan sawit di atas, rumput disemprot sampai habis. Akhirnya saat hujan turun, air langsung meluncur ke bawah membawa tanah, tanpa tertahan vegetasi,” jelasnya.

Akibatnya, petani kecil dengan biaya terbatas tentu merugi, apalagi padi baru ditanam. “Kami mohon perhatian dari pemerintah. Jangan sampai petani terus jadi korban. Kalau gagal tanam, bagaimana bisa mendukung swasembada pangan? Kami butuh solusi konkret,” tegas Endang.

Masih di tempat yang sama, salah seorang warga terdampak, Ibu Enan, mengaku sudah mulai khawatir setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi. Menurutnya, banjir selalu terjadi setelah hujan deras, terutama dalam beberapa waktu terakhir.

“Kemarin pas hujan besar dari abis Dzuhur, air naik ke jalan, ke rumah. Pagi tadi baru tanam padi lagi, eh siangnya hujan, sawah langsung habis lagi. Hampir tiap hujan deras sekarang begini,” ujarnya.

Enan juga mengeluhkan, perihal belum adanya bantuan konkret dari pemerintah selain dokumentasi saat kejadian. “Belum ada bantuan apa-apa, paling kemarin dari desa cuma datang buat foto-foto pas banjir, habis itu belum ada lagi kabar,” keluhnya.

Reporter: Ifan | Redaktur: Ujang Herlan

Berita Terkait

Pengerukan Tanah Merah Belum Berizin Kembali Disorot, BEM PTNU Desak Penghentian Sementara!
Wabup Andreas Pantau Dampak Cuaca Ekstrem di Cicurug, Pemkab Sukabumi Perkuat Penanganan
Puluhan Rumah Rusak, Wabup Andreas Bakal Temui Warga Terdampak di Cicurug
Jalur Air Warga Ditutup Urugan, Kekhawatiran Banjir Mengintai Kampung Mariuk Simpenan 
Soal Lahan Parkir Pasar Palabuhanratu Bergolak, Ini Sikap Masing-masing Pihak!
Usai Angin Kencang Terjang Cicurug, Bupati Asep Japar Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Purwasari Diterpa Cuaca Ekstrem, 52 Rumah Rusak dan 9 Pohon Tumbang
Identitas Mayat di Bawah Tol Bocimi Belum Terungkap, Kaos Barong Jadi Petunjuk Utama

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 15:08 WIB

Pengerukan Tanah Merah Belum Berizin Kembali Disorot, BEM PTNU Desak Penghentian Sementara!

Minggu, 4 Oktober 2026 - 14:22 WIB

Wabup Andreas Pantau Dampak Cuaca Ekstrem di Cicurug, Pemkab Sukabumi Perkuat Penanganan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 13:06 WIB

Puluhan Rumah Rusak, Wabup Andreas Bakal Temui Warga Terdampak di Cicurug

Jumat, 2 Oktober 2026 - 09:43 WIB

Jalur Air Warga Ditutup Urugan, Kekhawatiran Banjir Mengintai Kampung Mariuk Simpenan 

Kamis, 1 Oktober 2026 - 19:54 WIB

Soal Lahan Parkir Pasar Palabuhanratu Bergolak, Ini Sikap Masing-masing Pihak!

Berita Terbaru