JURNALSUKABUMI.COM – Menteri Sosial (Mensos) RI, Sri Risma Harini, mengunjungi balita pengidap Hidrosefalus M. Parhan Kulyubi (4). Anak malang itu adalah putra kedua dari orang tua tunggal bernama Rosita, warga Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi, Jumat (7/1/2022).
Dalam kunjungan tersebut, Mensos menyaksikan dari dekat kondisi anak kedua dari Rosita, yang saat itu, masih tergolek lemah tak berdaya di atas tempat tidur karena penyakit yang dideritanya.
Saat berada di rumah keluarga tersebut, Mensos sempat berbincang sejenak dengan pemilik rumah seputar kondisi terakhir M. Parhan dan riwayat pengobatannya. Termasuk upaya ibu dua orang anak itu berjuang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya pengobatan anak bungsunya itu.
“Saya sempat bercerita kepada Bu Menteri, kalau saya terpaksa harus meninggalkan anaknya yang sakit di rumah, untuk bekerja mencari sesuap nasi dengan menarik ojek dan menjadi buruh cuci motor. Bila saya di luar rumah, Parhan diasuh sama kakaknya,” kata Rosita.
Mensos kata dia, juga sempat menawarkan bantuan yang untuk membantu ekonomi keluarga agar taraf hidupnya lebih meningkat. Di samping itu, dia dapat lebih berkonsentrasi lagi mengurus anaknya yang tengah sakit.
“Ya saya bantu. Nanti rumahnya direnovasi untuk usaha warung. Saya bantu juga ternak ayam petelur ya. Jadi nanti telurnya bisa untuk dimakan,” kata Rosita mengulang kata-kata Mensos.
Kepada mantan Walikota Surabaya itu, Rosita menceritakan, bahwa yang berbeda pada kepala putranya saat berusia 5 bulan. Saat pemeriksaan rutin di Posyandu, dan diukur lingkar kepalanya, Parhan kedapatan ukuran kepalanya di atas normal. Sejak awal, petugas Posyandu menyarankan agar Rosita memeriksakan Parhan ke Puskesmas atau rumah sakit.
“Saya pernah membawa Parhan berobat dan sudah pernah dioperasi pada saat berusia 14 bulan,” kata Rosita.
Menurut hasil pemeriksaan dokter, ditemukan adanya cairan di kepala Parhan tahun 2019. Selanjutnya, Rosita merasakan ada yang berbeda dari fisik putranya, seperti timbulnya bercak putih-putih pada kornea mata. Pengobatan Parhan kemudian tidak bisa berlanjut, karena terkendala biaya.
“Kartu BPJS saya diblokir karena menunggak,” katanya.
Atas keterangan Rosita dan keluarga dekat, Mensos meminta aparat desa dan dinas sosial memastikan nama Rosita masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) agar bisa mendapatkan bantuan sosial.
“Kita akan berikan bantuan sosial PKH dan BPNT. Kemudian juga diberikan modal usaha warung,” kata Mensos.
Dalam pertemuan tersebut, keluarga juga menyetujui tawaran Mensos yang akan membawa Parhan ke Jakarta. Selama di sana anak malang itu akan menjalani pengobatan dan terapi.
“Insyaallah, Parhan masih bisa disembuhkan. Oleh karena itu harus cepat diobati,” kata Mensos.
Melalui Balai Phala Martha Sukabumi, Kemensos telah melakukan sejumlah langkah intervensi untuk membantu Rosita. Yakni dengan memberikan bantuan Atensi berupa dukungan pemenuhan hidup layak yang terdiri dari, beras, telur, minyak, kecap, tepung terigu, kacang hijau, gula merah, susu, biskuit, makanan ringan, kasur, selimut, bantal dan mainan anak.
Balai Phala Martha juga memberikan dukungan psikososial kepada Rosita agar tetap semangat, dan tabah dalam menjalani segala tantangan. Petugas balai juga berkoordinasi dengan desa dan kecamatan untuk pengaktifan kembali BPJS yang sudah diblokir, dan dengan perawat dan dokter terkait kebutuhan pengobatan yang terbaik untuk Parhan.
Redaktur: Usep Mulyana












